Yamaha

Mengenal Wisata Edukasi di Kampung Tajur Purwakarta dengan Kearifan lokal

  Selasa, 25 Agustus 2020   Budi Cahyono
Rumah di Kampung Tajur Purwakarta. (Ayopurwakarta/Dede Nurhasanudin)

PURWAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Menghabiskan waktu liburan tak harus melulu dengan ketersediaan fasilitas wisata modern.

Namun bisa juga mendefinisikan liburan sebagai waktu yang tepat untuk belajar. Belajar sambil bermain dan menciptakan keseruan lain yang tak kalah menarik.

Jika tertarik, Kampung Tajur berlokasi di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupten Purwakarta bisa menjadi rekomendasi sebagai wisata edukatif.

Wisata edukasi yang satu ini menyediakan berbagai fasilitas kearifan lokal yang dapat diikuti oleh semua kalangan, baik pelajar maupun masyarakat pada umumnya.

Pjs Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Agus Koswara mengatakan, wisatawan dapat bermalam di homestay atau rumah warga bernuansa panggung.

AYO BACA : Bupati Bekasi Ajak Warga Datangi Destinasi Wisata Baru Sungai Jingkem

Wisatawan dapat bercengkrama bersama pemilik rumah sebelum memulai semua aktivitas pada pagi harinya.

Pengunjung akan merasakan keseharian pemilik rumah, misalnya petani maka akan dikenalkan cara membajak sawah, menanam padi, bersihkan area sawah dari rerumputan liar dan lainnya.

"Kalau peternak, maka wisatawan akan belajar cara mengurus hewan ternak," ujar dia, Selasa (25/8/2020).

Tak hanya itu, wisatawan juga akan diperkenalkan bagaimana menanak nasi di atas tungku perapian, orang sunda biasa menyebutnya hawu.

Wisatawan juga akan diperkenalkan cara mengolah padi menjadi beras dengan cara ditumbuk dalam wadah yang dapat mengerluarkan bunyi-bunyian.

AYO BACA : Pariwisata Kampung Naga Lumpuh Dihantam Covid-19

"Tentu wisatawan harus bermalam di sini karena wisata edukasi tidak bisa selesai dalam sehari, minimal tiga hari dua malam," kata Agus.

Adapun harga sewa homestay Rp200.000-Rp250.000 permalam belum termasuk makan selama berada di Kampung Tajur.

"Sebetulnya pemilik rumah tidak menetapkan tarif, tapi biasanya wisatawan memberikan uang sewa kisaran segituh," ucap dia.

Sementara, salah seorang warga setempat, Ati (60) mengaku wisatawan biasa diajak ke sawah menanam padi atau membersihkan area sawah dari rerumputan liar.

Kemudian memasak menggunakan tunggu setelah sebelumnya mencari kayu bakar.

"Saya ajak bertani ke sawah karena keseharian saya memang petani," singkat dia. (Dede Nurhasanudin)

AYO BACA : Kasepuhan Ciptagelar Menolak Jadi Destinasi Wisata Unggulan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar