Yamaha

Melonjak Drastis saat Pandemi Covid-19, 2.288 Wanita di Jakarta Resmi Menjanda

  Jumat, 28 Agustus 2020   Budi Cahyono
ilustrasi perceraian/ shutterstock

KEMBANGAN, AYOJAKARTA.COM – Pengadilan Agama Jakarta Barat telah memutus 2.288 kasus perceraian selama Januari hingga Agustus 2020.

"Sampai saat ini total ada 2.452 kasus cerai, 2.288 kasus sudah putus," kata Ketua Pengadilan Agama Jakarta Barat, Mohamad Yamin di Jakarta, Jumat (28/8/2020).

Yamin mengatakan, ada peningkatan jumlah masuknya kasus perceraian pada Juni 2020, salah satunya karena diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

AYO BACA : Perceraian di Kabupaten Bandung Didominasi Usia Muda

Yamin mencatat dari perkara yang masuk pada Januari 2020 sebanyak 451 kasus, Februari 367 kasus, Maret 275 kasus, April 7 kasus, dan Mei 76 kasus.

Namun kasus perceraian pasangan suami-istri yang mengajukan ke PA Jakbar meningkat pada Juni, mencapai 515 kasus.

Kemudian menurun di Juli 2020 menjadi 474 kasus. Serta Agustus menjadi 287 kasus.

AYO BACA : Dua Bulan Terakhir, Ekonomi Dominasi Penyebab Perceraian di Purwakarta

Yamin mengakui sempat ada keterlambatan dalam pemutusan. Sebab, PA Jakarta Barat harus tutup ketika PSBB pertama hampir dua bulan lamanya.

"Jadi perkara yang masuk Februari dan Maret harus tertunda karena pengadilan ditutup sementara," ujar Yamin.

Ketika pengadilan buka kembali di pertengahan Juni, Yamin mengaku sempat terjadi peningkatan gugatan cerai di PA Jakarta Barat.

Mayoritas perceraian di Jakarta Barat disebabkan ketidakmampuan pihak suami untuk mencukupi kebutuhan keluarga, terlebih karena efek pandemi COVID-19 yang menyebabkan ekonomi rumah tangga terganggu.

"Dominan (faktor) ekonomi, dari faktor tanggung jawab suami, sehingga kebanyakan inisiasi perceraian itu dari istri," ucap dia.

AYO BACA : Selama Pandemi, Banyak Istri di Cianjur Ajukan Gugatan Cerai

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar