Yamaha

Ciater Lumpuh Selama Pandemi, Pedagang Andalkan Bansos

  Kamis, 03 September 2020   Budi Cahyono
Pintu masuk obyek wisata Sari Ater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. (Ayobandung/Nur Khansa)

SUBANG, AYOJAKARTA.COM -- Pandemi Covid-19 membuat sektor pariwisata di berbagai daerah terdampak, tidak terkecuali di Bandung Raya, Jawa Barat.

Salah satu kawasan wisata yang harus menelan pahit di wilayah tersebut adalah Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang.

Kawasan tersebut banyak dikenal dengan berbagai obyek wisata alamnya. Mulai dari Gunung Tangkuban Parahu, sejuknya perkebunan teh, air terjun atau curug, hingga tempat pemandian air panas.

Ketika obyek - obyek wisata alam tersebut ditutup akibat pandemi, dampak ekonomi yang muncul tak hanya dirasakan oleh pengelola obyek wisata yang bersangkutan. Namun juga warga sekitar yang menggantungkan nafkah dari para pelancong dengan berjualan.

Salah satunya seperti yang dialami Ason (56), warga Desa Cibitung, Kecamatan Ciater. Sejak 15 tahun lalu, ia menghidupi istri dan dua orang anaknya dengan berjualan eskrim keliling di tempat pemandian air panas Sari Ater.

Ia mengatakan, sejak Sari Ater ditutup pada akhir Maret 2020, sumber pemasukannya pun berhenti total. Ason mengaku sama sekali tidak berjualan selama 4 bulan, sejak akhir Maret hingga Juli.

"Empat bulan kemarin sama sekali enggak jualan. Di rumah saja, tidak coba kerja yang lain juga," ungkapnya ketika ditemui Ayobandung.com di Sari Ater belum lama ini, Sabtu (22/8/2020).

Siang itu, Ason nampak tengah menawarkan dagangannya ke sejumlah pengunjung yang mulai kembali berdatangan ke salah satu tempat pemandian air panas legendaris di Ciater tersebut. Namun, upayanya tersebut belum berbuah hasil hingga tengah hari.

Dengan menggendong peti es krim yang diselempangkan di bahunya, Ason memilih untuk beristirahat sejenak di bawah pepohonan, di area pemandian yang cukup sepi dari pengunjung.

"Dari pagi belum ada yang beli, ini penglaris," ungkap Ason pada Ayobandung.com ketika kami membeli beberapa batang eskrimnya.

Ia mengatakan baru mulai berjualan pada awal Agustus. Sejak saat itu, jumlah pembelinya pun terhitung masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hari-hari sebelum pandemi.

"Seminggu berjualan bisa cuma laku 10 eksrim. Biasanya kalau lagi ramai, sehari bisa laku 30 eskrim," ungkapnya.

Padahal, hari itu adalah akhir pekan dari libur panjang Tahun Baru Islam. Sejak Kamis (20/8/2020), mulai banyak warga yang berlibur ke berbagai tempat wisata.

Berdasarkan keterangan Asisten Public Relation Sari Ater Iwan Herdiawan, di Sabtu tersebut Sari Ater dikunjungi kurang lebih oleh 3.000 wisatawan.

Jumlah tersebut memang tak sampai separuh dari jumlah kunjungan normal, namun sudah cukup berarti untuk membuat pariwisata di wilayah tersebut kembali menggeliat.

Meski demikian, dari ribuan warga yang berkunjung, tak sampai 10 batang eskrim yang berhasil dijual Ason. Bahkan, ia menyebut pernah beberapa kali pulang ke rumah dengan tangan kosong.

"Pas hari-hari biasa (weekday), pernah sama sekali enggak ada yang beli. Selama jualan 15 tahun, baru pertama kali ngalamin yang kayak gini," ungkapnya.

Tak heran, sehari-harinya Ason harus 'bersaing' dengan 45 pedagang eskrim serupa di Sari Ater. Meski penghasilannya 'seret', ia mengatakan selama ini berhasil bertahan dengan memanfaatkan bantuan sosial sembako dan uang tunai dari pemerintah.

"Dapat bansos yang dari pemerintah pusat. Tapi waktu pembagian pertama (uang tunainya) dipotong. Pas pembagian kedua dipotong Rp160.000," paparnya. Tak jelas oknum mana yang memotong dana bansos milik Ason.

Situasi serupa juga nampak dialami oleh para pedagang lainnya di tempat wisata tersebut. Sebut saja pedagang suvenir, boneka, dan aksesori oleh-oleh lainnya.

Pedagang oleh-oleh tersebut banyak berjajar di area pakir kendaraan Sari Ater. Berdasarkan pantauan Ayobandung.com, di siang hingga sore itu sangat jarang warga yang mampir membeli suvenir di jajaran kios oleh-oleh tersebut.

Kondisi tersebut dibenarkan Iwan. Ia mengatakan, pada saat Sari Ater menutup sementara operasionalnya, imbasnya langsung terasa oleh para pedagang sekitar.

"Teman-teman kita yang jualan di atas (area parkir) tidak ada pemasukan sama sekali. Saat Sari Ater tutup mereka tidak ada pemasukan," ungkapnya.

Ia mengatakan, Sari Ater baru memulai kembali operasionalnya pada Juni 2020 setelah tutup sejak akhir Maret 2020. Selama itu, tidak ada pemasukan yang dihasilkan oleh perusahaan.

"Juni ini kita mulai buka hotel setelah ada restu dari gubernur. Selama masa itu, manajemen tidak ada revenue," ungkapnya.

"Tapi alhamdulillah karyawan-karyawan kita tidak ada yang di-PHK. Tapi diatur oleh manajemen untuk tetap masuk kerja selama 8 hari selama 1 bulan. Gajinya disesuaikan, 25% dari gaji total," paparnya. (Nur Khansa)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar