Yamaha

IN MEMORIAM JAKOB OETAMA: Penyuka Sandal dan Tutur Kata Halus

  Rabu, 09 September 2020   Eries Adlin
Berita duka cita atas meninggalnya Jacob Oetama, pendidir harian Kompas

Oleh Algooth Putranto

Kandidat doktor dan dosen Universitas Bina Sarana Informatika, mantan wartawan

TEBET, AYOJAKARTA.COM – KETIKA MENDENGAR kabar pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama atau Pak JO, meninggal dunia dalam usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020), saya seperti diingatkan pada beberapa pertemuan dengan tokoh senior pers yang lebih akrab saya sapa dengan nama Pak Yakob itu.

Huruf J di nama beliau memang berbunyi Y. Saya yakin hampir 100% orang yang mengenal beliau memanggil dengan Pak Yakob, bukan Pak Jakob. Jadi seterusnya saya akan tulis dengan Pak Yakob.

Pertemuan pertama terjadi ketika saya masih bergiat di pers kampus Universitas Udayana, Akademika. Sekitar tahun 1999, saat itu saya dan Ngurah Suryawan kebetulan diajak makan malam dengan sejumlah jurnalis senior di Bali. Ada bli Putu Fajar Arcana (Kompas) dan bli I Wayan Juniarta (Jakarta Post).

Saya yang memang masih bau kencur tak paham itu acara apa. Karena tak siap, alhasil saya pun mengenakan seragam kebesaran kala itu: hanya berkaos oblong, celana jins rombeng, dan sandal jepit. Alhasil masuk ke restoran pun kikuk.

Sesampainya di restoran, suasana egaliter langsung menyatukan kami. Sebagai orang yang dituakan dan yang mentraktir kami malam itu, Pak Yakob sangat bersahaja. Sikap ini mungkin terbentuk karena pada dasarnya beliau adalah seorang guru.

Tak heran, dengan berbisik halus beliau menyentil seragam kebesaran, terutama sandal jepit saya. Hmmm, saya pun tak mau kalah. Gantian menyentil. Sebetulnya kami ini mirip. Sama-sama mengenakan sandal. Yang berbeda, saya sandal jepit sementara beliau mengenakan sandal dari kulit. Pak Yakob tergelak. Dua hal itu memang menjadi ciri khas Pak Yakob, pakai sandal dan tutur kata yang halus.

Selebihnya, saya pulang dengan perut kenyang dan semakin yakin ingin menjadi wartawan. Sayang, sejak saat itu hingga berbilang tahun saya tidak bercita-cita menjadi wartawan yang memiliki media besar menggurita serupa Pak Yakob.

Ketika diluluskan oleh Universitas Udayana, nasib membawa saya terdampar di Bisnis Indonesia. Uniknya, karya tulis pertama saya justru nyasar di halaman opini Kompas. Sama anehnya, ruang pemimpin redaksi yang saya sambangi, justru ruangan bang Karni Ilyas yang saat itu memimpin SCTV.

Perjumpaan saya berikutnya dengan Pak Yakob terjadi ketika kami, sejumlah wartawan beragama Katolik membentuk Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Kelompok ini awalnya dibentuk Putut Prabantoro, mantan jurnalis Suara Timor Timur seusai bencana alam tsunami Aceh.

Soal nama yang membawa identitas keagamaan ini sebetulnya juga tak membuat kami yang bergiat di dalamnya nyaman. Namun, identitas itu secara sadar dan justru seharusnya memberi warna dalam masyarakat. Karena pada kenyataannya, kelompok ini sangatlah sekuler.

Melihat intensitas kelompok kami yang semakin banyak, mas Putut pun meminta saya menemui Pak Yakob ketika menghadiri sebuah kegiatan sosial bertempat di Hotel Mulia. Misi saya adalah meminta restu Pak Yakob terhadap keberadaan PWKI.

Rupanya pertemuan itu berakhir kurang mulus. Nada suara Pak Yakob agak meninggi mendengar penuturan saya. Menurut beliau, sektarianisme seharusnya tidak dilestarikan di tengah iklim masyarakat yang seharusnya didorong agar semakin pluralis.

Tak dapat dimungkiri, setiap kali pesta politik digelar, entitas Kompas kerap diplesetkan secara sinis sebagai akronim Komando Pastor. Namun, diakui atau tidak. Suka atau tidak suka, wajah halaman depan Kompas, selalu dalam pantauan berbagai kelompok masyarakat.

Bibir para pencibir akan semakin maju ketika mengingat Pak Yakob yang lahir di Desa Jowahan, Magelang, itu sebetulnya nyaris jadi pastor. Pak Yakob lulus dari SMA Seminari dan sempat menuntut ilmu di Seminari Tinggi Kota Baru Yogyakarta.

Selepas dari Seminari Tinggi, Pak Yakob banting stir ke kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) sambil membantu mengelola Majalah Penabur yang dipimpin Pastor JW Oudejans OFM. Nasib mempertemukannya dengan Petrus Kanisius (PK) Ojong, pendiri majalah mingguan Star Weekly.

Keduanya berkolaborasi membentuk majalah bulanan Intisari pada 1961. Majalah versi lokal Reader’s Digest itu berhasil terbit pertama kali tahun 1963. Dua tahun kemudian, muncul instruksi Presiden Sukarno agar partai-partai memiliki koran.

Saat itu Partai Katolik yang kecil namun galak pada Sukarno belum memiliki koran. Datanglah Frans Seda pada PK Ojong dan Jacob Oetama. Maka munculah usul koran Bentara Rakyat kepada Sukarno yang lantas memveto agar koran Partai Katolik itu diberi nama Kompas.

Siapa pelanggan pertama Kompas? Tak lain adalah orang-orang Katolik anggota Partai Katolik di Flores. Tanpa orang-orang Katolik yang mau didaftarkan sebagai pelanggan lengkap dengan alamat dan tanda tangan, takkan ada imperium bisnis bernama Kompas Gramedia Grup.

Jatuh bangun Kompas sejak didirikan hingga kini tentu pantas mendapatkan acungan jempol. Sejumlah media cetak nasional yang seusia bahkan lebih muda dari Kompas kini sudah berhenti cetak. Sebut saja beberapa contoh Merdeka, Sinar Harapan, Pedoman, atau Suara Karya.      

Kembali soal perjumpaan saya dengan Pak Yakob. Entah bagaimana, lama berselang kami berjumpa lagi. Kali ini di Hotel Santika Petamburan ketika peluncuran buku salah satu founding father kita, Syahrir. Pembicaraan kami berlangsung lebih hangat. Saat itu Pak Yakob justru santai menanyakan kabar kegiatan kami.

Sayang, Pak Yakob maupun P. Swantoro menolak ketika saya minta menjadi narasumber penulisan tesis yang saya susun. Mungkin karena tema yang saya ambil agak sensitif yaitu Kegagalan Kebangkitan Politik Orang Katolik. Hanya Pak Harry Tjan Silalahi dan Gregorius Seto Harianto sebagai tokoh-tokoh partai di luar PDI Perjuangan dan Golkar yang bersedia untuk bicara.

Uniknya, selepas menyelesaikan pendidikan, justru kami kembali bertemu ketika suasana Indonesia amatlah riuh menjelang Joko Widodo maju sebagai calon presiden RI. Pak Yakob lah yang teringat pada topik tesis saya tersebut.

Kami banyak mengobrol tentang Indonesia 30 tahun mendatang. Tentang bagaimana ketika bonus demografi berkelindan dengan pembangunan ekonomi yang cenderung melahirkan masyarakat miskin perkotaan dan bagaimana teknologi membuat informasi tak sebanding dengan kesadaran literasi.

Selepas itu, saya tak pernah bertemu Pak Yakob. Hingga tiba-tiba saya mendengar kabar beliau mengakhiri pertarungannya di dunia ini. Selamat jalan Pak Yakob, senang pernah belajar banyak dari Anda.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar