Yamaha

Ketua Satgas Covid-19: Vaksin Belum Tentu Bisa Akhiri Pandemi

  Rabu, 16 September 2020   Budi Cahyono
Ilustrasi Vaksin Covid-19 (getty image)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo menyatakan, bahwa ditemukannya vaksin belum tentu menjadi solusi utama menyelesaikan pandemi Covid-19.

Doni mengatakan vaksin yang tengah diteliti oleh beberapa negara termasuk Indonesia masih berproses dan belum ada yang terbukti bisa menghentikan pandemi secara total untuk kembali ke kehidupan normal.

AYO BACA : Pemerintah Pastikan Vaksin Covid-19 Efektif dan Aman untuk Masyarakat

"Walaupun nanti ada vaksin, walaupun nanti ditemukan, belum tentu serta merta Covid ini akan berakhir, dan kita juga tentunya harus mempersiapkan diri untuk jangka waktu yang sangat panjang karena belum ada satupun ahli dan pakar yang bisa menentukan wabah ini akan berakhir," kata Doni saat membuka Doa Perawat untuk Negeri secara virtual, seperti dilansir Suara.com, Selasa (15/9/2020).

Meski begitu, Doni menyebut pemerintah terus berupaya menyediakan vaksin baik buatan luar negeri yang kini tengah uji klinis maupun vaksi dalam negeri yakni vaksin merah putih yang masih tahap awal.

AYO BACA : Marak Klaim Antivirus Corona, YLKI Minta Masyarakat Diedukasi Soal Obat dan Jamu

"Pemerintah, Bapak Presiden dengan sejumlah menteri telah berusaha untuk bisa mendapatkan vaksin dalam jumlah yang cukup bagi masyarakat kita semuanya, termasuk upaya menemukan obat yang mujarab untuk Covid-19," tutur Doni.

Dalam kesempatan yang sama, Doni juga mengucapkan belasungkawa atas gugurnya lebih dari 70 perawat yang tercatat oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) akibat Covid-19.

 "Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya para perawat, saudara kita, pahlawan kemanusiaan yang telah gugur dalam pengabdian menghadapi Covid-19 ini," ucapnya.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencatat 109 dokter di Indonesia meninggal dunia akibat Covid-19 per 10 September 2020. Dari jumlah tersebut, tujuh d iantaranya merupakan guru besar atau profesor, 49 dokter spesialis, dan 53 berasal dari dokter umum.

AYO BACA : Contoh Buruk Pemerintah Jadi Penyebab Maraknya Klaim Obat Covid-19

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar