Yamaha

JAKARTA PSBB KETAT: Cegah Klaster Mal, Pemkot Jakut Rutin Monitoring Penerapan Protokol Kesehatan

  Kamis, 17 September 2020   Aini Tartinia
Pemerintah Kota Jakarta Utara bakal rutin lakukan sidak penerapan protokol kesehatan di mal/dok: utara.jakarta.go.id

KOJA, AYOJAKARTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara melakukan monitoring terhadap mal atau pusat perbelanjaan yang diperbolehkan buka pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pengetatan DKI Jakarta. Pengawasan ini bertujuan untuk memantau penerapan protokol kesehatan.

“Sejak PSBB diberlakukan, kami terus melaksanakan kegiatan monitoring dan pengawasan sesuai dengan Pergub DKI Jakarta No.88 Tahun 2020. Sudah beberapa hari kami turun ke sejumlah lokasi, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan,” kata Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Ali Maulana Hakim, dilansir utara.jakarta.go.id, Kamis (17/9/2020).

Saat pihaknya memantau aktivitas pengunjung, tenant (penyewa), dan sarana penunjang, prosedur tetap protokol kesehatan telah dilaksanakan pihak pengelola mal.

“Tim Satgas di dalam mal sudah dibentuk dan berjalan dengan baik. Apa yang sudah diterapkan ini mudah-mudahan bisa dijadikan contoh, sehingga tidak menimbulkan klaster baru,” ujarnya.

AYO BACA : JAKARTA PSBB KETAT: Pemkot Jakpus Sidak ke Perusahaan Swasta, Tegaskan Pemerintah Tak Main-main

Untuk menghindari adanya kerumunan, pengelola pusat perbelanjaan juga telah memfasilitasi tempat khusus bagi ojek online (Ojol) dalam bertransaksi. 

“Jadi, ojek online tidak perlu mondar-mandir, sudah disiapkan tempat khusus. Kita akan cek juga ke pusat perbelanjaan lain, terkait pengawasan akan terus berjalan sampai masa PSBB berakhir,” kata Ali.

Sebelumnya, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jakarta mengatakan siap menjalani pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan kembali Gubernur DKI Jakarta melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No.88 Tahun 2020.

Pemberlakuan kembali PSBB ketat tersebut, menurut Ketua DPD APPBI Jakarta, Ellen Hidayat, pusat belanja atau mal di DKI Jakarta akan tetap beroperasi. Namun, masyarakat tidak diizinkan untuk makan di restoran atau cafe yang berada di dalam mal.

AYO BACA : Usai Buka Jeroan Pertamina, Ahok Bertemu Menteri Erick Thohir

Dalam ketentuan pengetatan PSBB, mal beroperasi pukul 10.00 WIB sampai dengan 21.00 WIB.

Hanya saja, pengelola mal akan membatasi kunjungan masyarakat menjadi tidak lebih dari 50% dari kapasitas kunjungan saat biasa. Restoran dan cafe tetap diperbolehkan beroperasi, tetapi tidak melayani dine-in (makan di tempat), hanya take away (makan dibawa pulang).

Tak hanya itu, kata dia, berapa kategori tenant di dalam mal yang selama ini masih belum diperbolehkan beroperasi juga akan terus tutup, seperti bioskop, tempat main anak, dan fitness center.

Ellen menambahkan, sejak mal dibuka kembali mulai 15 Juni 2020 lalu, traffic pengunjung yang datang ke baru mencapai sekitar 35-40%, bahkan belum menyentuh angka 50%. Meski berat, menurut Ellen, pengelola mal dan peritel yang menyewa tenant cukup senang masih diizinkan beroperasi.

Pasalnya, kalau tidak, banyak pihak yang bakal terdampak, seperti pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tukang parkir, dan pemasok produk. Masyakat juga dapat kesulitan memenuhi kebutuhan, karena umumnya produk yang dijual di mal berupa sandang dan pangan.

\"Dengan tidak diizinkannya F&B dine in untuk makan di tempat tentunya akan mempengaruhi traffic yang sudah dicapai saat ini, apalagi perkantoran dibatasi. Namun, keputusan yang diambil pihak Pemprov sudah maksimal dengan berbagai pertimbangan, di mana selama ini pusat belanja juga selalu taat mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan Pemprov DKI,\" ujarnya.

AYO BACA : JAKARTA PSBB KETAT: Belum Terapkan Protokol Kesehatan, 11 Perusahaan di Jaksel Dapat Surat Peringatan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar