Yamaha

KOPI SUSU CING ABDEL: Ibu Kota America

  Sabtu, 19 September 2020   Editor
Komedian Abdel Achrian/Istimewa

Oleh Abdel Achrian

TEBET, AYOJAKARTA.COM – INI CERITA abang gue. Ires nama panggilannya. Dulu doi pernah jadi wartawan. Sekarang…, tetep sih. Kata temen-temen, doi mirip gue juga. Bukan cuma fisik, keisengannya juga.

Cuma, tampangnya Ires rada sangar. Jadi kalau ngisengin orang, yang diisengin serba salah. Susah bedain dia lagi becanda apa serius. Nah ini, ada cerita yang sempet gue masukin di buku Keluarga BerenCanda yang gue tulis bareng doi.

Pernah suatu ketika, ketika masih bekerja di kantornya yang lama, Ires didatengin dua mahasiswa yang mau magang jadi wartawan. Bosnya Ires minta anak-anak itu ngadep dia. Setelah basa-basi kenalan sebentar, terus Ires tanya ke mereka.

“Kalian dari universitas mana?” Ires ngajuin pertanyaan standar.

Anak-anak itu kompak menjawab, “Unpad Pak.”

Oooh, dari Semarang toh,” lanjut Ires tetep dengan tampang sangar dan cuek.

Calon anak magang itu mulai ngerasa ada yang kurang beres. Unpad kok di Semarang? pikir mereka. Lantas, salah satu di antara mereka memberanikan diri meluruskan pernyataan Ires.

“Unpad di Bandung, Pak!” Begitu penjelasannya.

Lho, Unpad itu bukan di Semarang? Universitas Pangeran Diponegoro kan?” Ires memberikan pertanyaan tambahan.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?

“Itu Undip, Pak,” mahasiswa yang satu lagi kemudian memberanikan diri ngelurusin pernyataan Ires.

“Undip di Semarang gimana…?” Ires menyela sambil nada suaranya mulai berubah. Calon anak magang itu makin ciut nyalinya.

“Undip itu kampus saya. Hampir tujuh tahun kuliah saya di sana. Undip itukan Universitas di Purwokerto?” kata Ires nerusin kebiasaannya ngisengin orang.

Eh calon anak magang itu serentak meluruskan lagi pernyataan abang gue itu.

“Itu Unsoed, Pak,” kata salah satu di antara mereka. Mulai keliatan senyum ditahan di bibir para mahasiswi itu. Sudah mulai tahu mereka kalau lagi diisengin.

Ternyata urusan belum beres. Ires dengan wajah tetep angker, melontarkan lagi pertanyaan.

“Kalian kan mahasiswa ya. Coba, yang bener itu, nyebut Ibu Kota Amerika Serikat…Nu York, Nyu York, atau Niu York,” Ires bertanya.

Kaget juga mungkin mereka dapat pertanyaan lanjutan gitu. Kayaknya gampang tetapi gimana gitu….

Niu York, Pak,” kata cewek berjilbab, salah satu dari mahasiswa itu, dengan pengucapan yang amat enggris british.

“Salah! Kalau kamu...?” Ires nunjuk ke cewek yang satu lagi.

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Kuburan di Depan Rumah & Cerita Tentang Drakula

Nyu York, Pak,” kata cewek kedua itu.

“Salah!” Ires ngomong dengan tampang lebih serius.

Raut kebingungan mulai keliatan di wajah dua mahasiswa itu. Mau tanya, apalagi protes, mereka takut. Ya terpaksa nunggu penjelasan dari Ires.

“Yang bener…, Ibu Kota America itu….  Wa… shing… ton!” kata Ires.

Senyum-senyum ditahan keliatan lagi di bibir para mahasiswi itu. Dasar orang tua, masih suka iseng aja. Mungkin itu yang ada di kepala mereka.

*****

Cerita di atas ngingetin gue tentang gimana kita sering menilai sesuatu dari sampulnya. Padahal, dont judge book by its cover, kalau kata pepatah Inggris. Buku yang sampulnya jelek, belum tentu isinya bagus kan?

Menurut gue, kita juga sering salah pengertian tentang buruk sangka. Misalnya gini. Kita punya penilain buruk tentang si A, terus ternyata si A itu tidak seperti yang kita kira alias sangkaan kita salah. Lantas kita menganggap, fix itu kita udah berburuk sangka.

Sementara, kalau kita punya penilaian negatif ke si A ternyata penilaian kita itu bener adanya, maka kita merasa gak masuk kategori berburuk sangka karena sangkaan kita bener.

Padahal, menurut gue sih, terbukti atau gak terbukti sangkaan kita itu, kalau sudah diawali dengan penilaian negatif yang sudah masuk kategori buruk sangka.

Kalau ternyata sangkaan kita benar, ya cuma kena satu kesalahan kita, berburuk sangka. Kalau ternyata penilaian kita salah, ya jadi dua. Udah berburuk sangka, gak kebukti pula…!

Gimana menurut elo-elo pade? Tapi inget, jangan buruk sangka dulu ye sama pendapat gue…

AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Belajar dari Gus Baha dan Anak Tongkrongan

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar