Yamaha

Ada Penambahan 1.044 Kasus Positif Covid-19 Baru di DKI Jakarta Dalam 24 Jam Terakhir (24 September 2020)

  Kamis, 24 September 2020   Icheiko Ramadhanty
angka kenaikan corona di Ibu Kota yang tak berangsur membaik membuat DKI kembali menerapkan PSBB. Sejumlah ruas jalan pun terlihat lengang seperti di Jalan Jenderal Sudirman/ Republika

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Berdasarkan data pada hari ini, Kamis (24/9/2020) pukul 12.00 WIB, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penambahan harian Covid-19 sebanyak 1.044 kasus di DKI Jakarta. Angka ini turun dibanding Rabu lalu, yakni sebanyak 1.133 kasus.

Dari penambahan hari ini, menjadikan total positif Covid-19 di DKI secara kumulatif mencapai 66.731 kasus. Angka tersebut termasuk kumulatif kasus sembuh sebanyak 52.648 kasus serta 1.648 kasus meninggal dunia. Sehingga, kasus aktif di DKI Jakarta sebanyak 12.435 kasus.

Rekor harian Covid-19 tertinggi di DKI yang dicatat Kemenkes terjadi pada 13 September 2020 yaitu 1.380 kasus. Jika dilihat dari grafik yang ditayangkan lewat covid19.go.id, dari bulan Agustus 2020 hingga saat ini, DKI Jakarta memiliki peningkatan kasus Covid-19 yang cukup signifikan.

Data statistik dari laman tersebut menyatakan, DKI mulai mencatat ribuan kasus pada 30 Agustus 2020, yaitu sebanyak 1.094 kasus. Sejak saat itu, hanya ada beberapa hari penurunan kasus yang tidak lebih dari 1.000 kasus, seperti pada 1 September (901 kasus), 4 September (880 kasus), 5 September (887 kasus), 11 September (964 kasus), 14 September (879 kasus), dan kasus pada 19 September (988 kasus).

Selebihnya hingga hari ini,  DKI Jakarta selalu mencatat kasus harian Covid-19 yang melebihi angka 1.000 kasus. Melansir grafik covid19.go.id, rincian penambahan kasus harian Covid-19 di DKI selama tujuh hari ke belakang sebagai berikut:

18 September: 1.258 kasus

19 September: 988 kasus

20 September: 1.138 kasus

21 September: 1.352 kasus

22 September: 1.236 kasus

23 September: 1.133 kasus

24 September: 1.044 kasus

Hari ini, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat DKI Jakarta memasuki pekan kedua sejak diberlakukan mulai Senin, 14 September 2020. Dalam penerapan PSBB kali ini, ada tiga faktor yang akan diawasi.

Pertama, ketentuan pembatasan karyawan yang bekerja di kantor maksimal 25% dari seluruh karyawan. Kedua, kepatuhan protokol kesehatan. Ketiga, penemuan karyawan yang terkonfirmasi positif Covid-19.

AYO BACA : 6 Kali Pecah Rekor dalam Sebulan! Kasus Harian Covid-19 Indonesia Capai 4.634 Kasus (24 September 2020)

Diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, menyebut kasus penularan Covid-19 paling banyak terjadi di perkantoran. "Saat ini kita menyaksikan justru kasus terbanyak dari kejadian-kejadian yang sekarang bermunculan adalah dari perkantoran," kata Anies dalam konferensi pers virtual, Minggu (13/9/2020).

Oleh karena itu, Anies mengatakan PSBB yang di mulai sejak Senin kemarin memang bakal fokus melakukan pengetatan di perkantoran ibukota. Dia juga menyebutkan, Pemprov DKI Jakarta mewajibkan perkantoran menerapkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), kecuali 11 sektor usaha.

Adapun 11 Usaha yang masih diperkenankan bekerja di kantor sebagai berikut:

1.     Kesehatan

2.     Bahan pangan makanan dan minuman

3.     Energi

4.     Komunikasi dan teknologi informasi

5.     Keuangan, Perbankan, Sistem Pembayaran, Pasar Modal

6.     Logistik

7.     Perhotelan

8.     Konstruksi

9.     Industri strategis

10.  Pelayanan dasar, utilitas publik dan industri yang ditetapkan sebagai objek vital nasional dan objek tertentu

11.  Kebutuhan sehari-hari

AYO BACA : Jika Positif Covid-19 OTG, Ini Cara Menuju Isolasi di RSD Wisma Atlet Kemayoran

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar