Yamaha

40 RW ZONA MERAH DI DKI: Jakarta Barat 4, Jakarta Utara 3, Kepulauan Seribu 1

  Selasa, 29 September 2020   Eries Adlin
Ilustrasi

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Sebanyak 40 RW di DKI Jakarta masuk dalam kategori zona merah atau zona rawan. Hal itu bisa dilihat di laman resmi Pemprov DKI untuk penanganan Covid-19 di Jakarta, corona.jakarta.go.id.

Data 40 RW zona merah di DKI Jakarta ditayangkan berdasarkan pembaruan sampai dengan 20 September 2020. Jumlah tersebut bertambah dibandingkan data sebelumnya sampai dengan 10 September yang menyebutkan ada 25 RW di DKI yang masuk kategori zona merah.

Berdasarkan data corona.jakarta.go.id, Jakarta Barat memiliki 4 RW zona merah, Jakarta Utara 3 RW, dan Kabupaten Kepulauan Seribu 1 RW. Berikut data rincinya:

Jakarta Barat

1. RW 005, Kelurahan Pinangsia

2. RW 001, Kelurahan Slipi

3. RW 004, Kelurahan Tangki

4. RW 001, Kelurahan Mangga Besar

Jakarta Utara

1. RW 004, Kelurahan Lagoa

2. RW 006, Kelurahan Sunter Jaya

3. RW 003, Kelurahan Pegangsaan Dua

Kepulauan Seribu

1. RW 003, Kelurahan Pulau Panggang

Berdasarkan data pada Senin (28 September2020) pukul 12.00 WIB, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penambahan harian Covid-19 sebanyak 898 kasus di DKI Jakarta. Angka ini turun dibandingkan dengan hari sebelumnya yakni sebanyak 1.171 kasus.

Dari penambahan hari ini, menjadikan total positif Covid-19 di DKI secara kumulatif mencapai 71.339 kasus. Angka tersebut termasuk kumulatif kasus sembuh sebanyak 57.657 kasus serta 1.695 kasus meninggal dunia. Sehingga, kasus aktif di DKI Jakarta sebanyak 11.987 kasus. Rekor harian Covid-19 tertinggi di DKI yang dicatat Kemenkes terjadi pada 13 September 2020 yaitu 1.380 kasus. 

Jika dilihat dari grafik yang ditayangkan lewat covid19.go.id, dari bulan Agustus 2020 hingga saat ini, DKI Jakarta memiliki peningkatan kasus Covid-19 yang cukup signifikan.

Data statistik dari laman tersebut menyatakan, DKI mulai mencatat ribuan kasus pada 30 Agustus 2020, yaitu sebanyak 1.094 kasus. Sejak saat itu, hanya ada beberapa hari penurunan kasus yang tidak lebih dari 1.000 kasus, seperti pada 1 September (901 kasus), 4 September (880 kasus), 5 September (887 kasus), 11 September (964 kasus), 14 September (879 kasus), 19 September (988 kasus), dan kasus pada hari ini, 28 September (898 kasus).

Selebihnya hingga Senin, DKI Jakarta selalu mencatat kasus harian Covid-19 yang melebihi angka 1.000 kasus. Penurunan kasus yang dikonfirmasi hari ini kemungkinan disebabkan oleh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid dua di DKI Jakarta.

Melansir grafik covid19.go.id, rincian penambahan kasus harian Covid-19 di DKI selama tujuh hari ke belakang sebagai berikut:

22 September: 1.236 kasus

23 September: 1.133 kasus

24 September: 1.044 kasus

25 September: 1.171 kasus

26 September: 1.322 kasus

27 September: 1.171 kasus

28 September: 898 kasus

Sebagaimana diketahui, PSBB di DKI Jakarta kembali diperpanjang hingga 14 hari sampai 11 Oktober, terhitung sejak 28 September 2020. Diketahui PSBB di Ibu Kota berakhir pada 27 September.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, keputusan ini berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Selain itu, Pemprov DKI juga telah mendapatkan persetujuan pemerintah pusat untuk kembali memperpanjang PSBB.

“Kasus Covid-19 DKI Jakarta telah melandai dan terkendali, tetapi kawasan Bodetabek masih meningkat, sehingga perlu penyelarasan langkah-langkah kebijakan. Menko Marives juga menyetujui perpanjangan otomatis PSBB DKI Jakarta selama dua minggu,” kata Anies dalam keterangan resminya, Kamis (24/9/2020).

Anies mengklaim selama PSBB dua pekan ini, kasus positif Covid-19 menunjukkan penurunan lantaran mobilitas warga dibatasi dengan ketat. Pada 12 hari pertama September, pertambahan kasus aktif sebanyak 49% atau 3.864 kasus. Pada periode PSBB, yakni 12 hari berikutnya, penambahan jumlah kasus aktif masih terjadi, namun berkurang menjadi 12% atau 1.453 kasus.

“Pelandaian grafik kasus aktif bukanlah tujuan akhir. Kita masih harus terus bekerja bersama untuk memutus mata rantai penularan. Pemerintah terus tingkatkan 3T dan warga perlu berada di rumah dulu, hanya bepergian bila perlu sekali dan terapkan 3M,” jelasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar