Yamaha

18 Hari PSBB Ketat, 417 Restoran dan Kafe di Jakarta Ditutup Sementara

  Jumat, 02 Oktober 2020   Aini Tartinia
Ilustrasi Satpol PP DKI Jakarta menutup sementara tempat usaha restoran yang melanggar aturan PSBB ketat/dok: republika

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Sebanyak 417 restoran dan kafe ditutup sementara oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pengetatan periode 14 September 2020 hingga 1 Oktober 2020.

Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Arifin, menyatakan dirinya tidak akan memberi toleransi terhadap pelanggaran protokol pencegahan penularan Covid-19. “Apapun bentuknya, jika melanggar pasti kami tindak,” kata Arifin dilansir beritajakarta.id, Jumat (2/10/20).

Menurut Arifin, selain itu ada 52 tempat makan dan kafe dikenakan denda, sementara 162 lainnya diberikan sanksi tertulis. Jika diakumulasikan selama 18 hari PSBB pengetatan di DKI Jakarta, ada 631 tempat usaha resto dan kafe ditindak Satpol PP DKI Jakarta.

“Adapun denda yang terkumpul dari penindakan pada periode tersebut sebesar Rp29.500.00,” ungkapnya.

Sementara itu, bentuk penindakan yang baru saja dilakukan yakni penutupan dan penyegelan tempat hiburan di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

“Berdasarkan laporan, setelah kami investigasi ternyata di lokasi benar hiburan dan music diskotek beroperaso. Manajemen kami panggil dan periksa alasan mengapa buka, serta kenakan sanksi denda sesuai Pergub terhadap tempat-tempat yang saat ini masih dilarang operasi,” ujarnya.

Pemprov DKI Jakarta dalam PSBB pengetatan melarang restoran atau kafe melayani pembeli yang makan di tempat. Alasannya karena orang harus membuka masker ketika hendak makan.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti, pada saat makan, orang pasti membuka masker. Sementara itu, kadang tingkat kedisiplinan warga kurang sehingga tidak menaati protocol Kesehatan.

“Katakanlah restonya sudah menyiapkan setting kursi dengan berjarak, tetapi masih ada yang berhadap muka, mejanya satu, berhadapan muka, buka masker, satu keluarga makan bersama. Nah, itu berisiko saling menularkan," ujar Widyastuti dalam rekaman video Pemprov DKI yang dipantau di Jakarta, Sabtu (26/9/2020) lalu.

Widyastuti menyebutkan kebanyakan orang merasa aman, akhirnya abai menerapkan protokol kesehatan ketika bersama dengan orang yang dikenalnya. Fakta memperlihatkan 50 persen kasus positif di Jakarta merupakan orang tanpa gejala (OTG).

Menurut Widyastuti, orang sering merasa aman karena makan bareng dengan keluarga sendiri, teman kantor, atau orang yang dikenal.

“Nggak tahu kalau teman kantornya itu belum pernah diperiksa dan tidak ada gejala. Kan pernah kita bahas, di Jakarta sekitar 50 persen tanpa gejala. Pada saat tanpa gejala, makan bersama, buka masker, duduk bersama, makan. Biasanya orang makan ngobrol nggak? Makan, sambil cerita, pasti buka masker. Di situlah risikonya,”

Widyastuti menyebutkan saat makan bersama risiko droplet atau percikan liur akan meningkatkan risiko penularan virus. “Inilah yang jadi alasan Pemprov meminta untuk makanan dibawa pulang saja.”

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar