Yamaha

Menulis Kaligrafi Tiongkok Mengajarkan Kesabaran dan Keseimbangan Jiwa

  Kamis, 08 Oktober 2020   Budi Cahyono
Liong Hwa Hing, salah satu seniman kaligrafi Tiongkok saat ditemui di rumahnya, Kampung Sebandaran 1 Gang II, Kelurahan Gabahan, Kota Semarang. (ayosemarang.com/Vedyana)

SEMARANG, AYOJAKARTA.COM – Tidak banyak lagi penulis kaligrafi Tiongkok yang tetap eksis hingga milenial di Kota Semarang. Salah satu yang masih aktif yakni Liong Hwa Hing, yang masih setia dengan keyakinannya menuliskan tinta bak di atas kertas.

Di usianya menginjak 70 tahun, tangan Liong Hwa Hing masih sangat luwes menggoreskan kuas di atas kertas menuliskan huruf membentuk kaligrafi Tiongkok.

Benar saja, Liong Hwa Hing merupakan salah satu seniman kaligrafi Tiongkok yang masih tersisa di Kota Atlas. Dirinya pun memgaku menekuni seni kaligrafi Tiongkok sejak awal dekade 1990-an.

"Dulu belajar kaligrafi Tiongkok karena keinginan sendiri. Untuk belajar dahulu cukup sulit karena di sini sedikit sekali buku panduan tentang kaligrafi Tiongkok," ujar Liong Hwa Hing kepada Ayosemarang, Kamis, (8/10/2020).

Ditemui di rumahnya Kampung Sebandaran 1 Gang II, Kelurahan Gabahan, dia menuturkan dalam belajar kaligrafi Tiongkok pernah meminjam buku dari kerabatnya yang baru saja dari Tiongkok. 

"Dulu nyari buku panduan membuat kaligrafi Tiongkok itu susah sekali. Aku pertama kali belajar tulisan kaligrafi Tiongkok itu menulis kata-kata yang ada di klentheng. Cuma, karena belum punya buku panduan, jadi belum bisa mengeksplor lebih jauh untuk bermain variasi tulisannya," imbuhnya.

Lebih lanjut, Liong Hwa Hing menerangkan, jika saat ini sudah banyak buku referensi pembuatan kaligrafi Tiongkok yang dimilikinya. Dalam tulisan indah kaligrafi Tiongkok mengandak makna mendalam.

“Banyak hal yang bisa dituliskan, salah satunya tentang syair. Isinya tentang persabahatan, keharmonisan, emosional seperti kebahagiaan, serta mencurahkan gambaran indahnya pemandangan,” jelasnya.

"Kalau menurut saya, yang paling banyak dicari adalah kaligrafi Tiongkok yang bertuliskan curahan perasaan. Seperti mengingat kenangan seorang teman yang sudah meninggal, soal kebahagiann, dan lainnya," ucapnya.

 Menulis kaligrafi Tiongkok, menurutnya, bisa melatih tingkat kesabaran. Sekaligus mengasah keseimbangan jiwa.

"Karena menulis huruf mandarin bentuknya kan simetris. Dengan kita menulis huruf mandarin, itu bisa menuntun jiwa lebih stabil dan fokus menghadapi persoalan hidup," katanya.

Saat ditanya berapa harga jual dari sebuah karya kaligrafi Tiongkok miliknya, Liong Hwa Hing menerangkan, jika karya seni memiliki nilai jualnya sendiri. Tergantung bagaimana orang melihat karya itu sendiri.

"Orang kalau yang suka atau senang ya walaupun mahal pasti dibeli. Tapi kalau yang nggak suka murah saja belum tentu beli," pungkasnya. (Vedyana)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar