Yamaha

Bertambah 4.105 Kasus, Total Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 361 Ribu (Update 18 Oktober 2020)

  Minggu, 18 Oktober 2020   Aini Tartinia
[ilustrasi] Update Covid-19 Indonesia

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia selama 24 jam sampai dengan pukul 12.00 WIB, Minggu 18 Oktober 2020, mencapai 4.105 kasus.

Penambahan kasus tersebut, seperti dilansir laman resmi Kementerian Kesehatan, berasal dari pemeriksaan spesimen sebanyak 36.378.

Dengan tambahan tersebut, kasus kumulatif secara nasional mencapai angka 361.817 kasus, 285,324 kasus di antaranya sembuh. Sementara itu, sebanyak 63.982 kasus masih aktif dari orang terkonfirmasi positif dan 12.511 orang meninggal dari konfirmasi positif.

Indonesia pertama kali mencatatkan kasus harian melebihi 4 ribu kasus pada 19 September 2020. Kasus tertinggi terjadi pada 8 Oktober yaitu 4.850 kasus.

Berikut Ayojakarta rangkum kasus harian Covid-19 secara nasional selama sepekan belakang, yang bersumber dari covid19.go.id:

10 Oktober: 4.294 kasus

AYO BACA : Pemkab Kepulauan Seribu Bentuk Satgas Tingkat RW untuk Penanganan Covid-19

11 Oktober: 4.497 kasus

12 Oktober: 3.267 kasus

13 Oktober: 3.906 kasus

14 Oktober: 4.127 kasus

15 Oktober: 4.411 kasus

16 Oktober: 4.301 kasus

AYO BACA : Pemkot Jaktim Gelar Simulasi Penempatan Pasien OTG di TMII

17 Oktober: 4.301 kasus

18 Oktober: 4.105

Berbagai upaya dari pemerintah pusat hingga tingkat daerah sudah dilaksanakan hingga pemberian sanksi kepada para pelanggar protokol kesehatan. Presiden Joko Widodo menginstruksikan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional untuk menyampaikan kepada Kepala Daerah agar menerapkan intervensi berbasis lokal dalam penanganan Covid-19.

Hal ini dikatakan Jokowi saat memberikan arahan rapat terbatas mendengarkan Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional secara virtual, Senin (28/9/2020).

“Yang berkaitan dengan intervensi berbasis lokal, ini perlu saya sampaikan lagi kepada Komite bahwa intervensi berbasis lokal ini agar disampaikan kepada provinsi, kabupaten, kota,” ujar Jokowi.

Menurutnya, pembatasan sosial berskala mikro atau mini lockdown harus dilakukan di tingkat desa, kampung, RT, RW, perkantoran hingga pondok pesantren. Ia meyakini pembatasan sosial berskala mikro atau mini lockdown akan lebih efektif jika dilakukan secara berulang untuk menekan penyebaran Covid-19.

“Artinya pembatasan berskala mikro, baik di tingkat desa, tingkat kampung, tingkat RT, tingkat RW, atau di kantor atau di pondok pesantren, saya kira itu lebih efektif. Mini lockdown yang berulang itu akan lebih efektif,” ucap dia.

Pembatasan sosial berskala mikro kata Jokowi dilakukan agar tidak merugikan banyak orang. “Jangan sampai kita generalisir satu kota atau satu kabupaten atau apalagi satu provinsi, ini akan merugikan banyak orang,” tegasnya. 

AYO BACA : F-PSI Sarankan Pemprov DKI Rumuskan Insentif Pelaku Usaha Hotel dan Mal Terdampak Pandemi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar