Yamaha

Tolak Wacana Pajak Mobil Baru 0 Persen, Menkeu: Insentif Kita Sudah Banyak

  Senin, 19 Oktober 2020   Aini Tartinia
Menteri Keuangan Sri Mulyani/ dok

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, menegaskan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menolak wacana pajak mobil baru 0% yang diajukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

“Kita tidak mempertimbangkan saat ini untuk memberikan pajak mobil baru sebesar 0% seperti yang disampaikan oleh industri maupun dari Kementerian Perinduistrian,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers di YouTube Kemenkeu RI, Senin (19/10/2020).

AYO BACA : September 2020, Defisit APBN Bengkak 4,16 Persen. Ini Kata Menkeu Sri Mulyani!

Menurut Sri Mulyani, sudah banyak insentif yang diberikan oleh pemerintah kepada semua sektor, termasuk industri yang terdampak pandemi Covid-19. Tak hanya itu, pihaknya bakal mengevaluasi keseluruhan insentif yang telah diberikan ke berbagai sektor.

“Sehingga jangan sampai kita memberikan insentif, di satu sisi yang kemudian memberikan dampak negatif kepasda kegiatan ekonomi yang lain,” kata Sri Mulyani.

AYO BACA : Dukung Kampanye 3M, Layanan BP Jamsostek Bekasi Tanpa Kontak Fisik

Sebelumnya, usulan Kemenperin menyoal pajak mobil baru 0% dipertimbangkan untuk mengungkit industri otomotif yang tengah lesu karena pandemi Covid-19. Menurut pihak Kemenperin, insentif fiskal dapat membantu membangkitkan industri otomotif, mengingat penentu pemulihan ada pada sisi permintaan.

Kemenperin pun mengajukan relaksasi sejumlah pajak untuk mendukung keringanan pembelian kendaraan, antara lain pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil baru sebesar 0%, PPn, serta pajak daerah yang mencakup bea balik nama (BBN), pajak kendaraan bermotor (PKB), dan pajak progresif.

“Relaksasi pajak ini paling tidak memberikan upaya baru membuka demand yang selanjutnya dapat meningkatkan utilisasi industri,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier, dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2020) lalu.

Taufiek mengatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19, setidaknya ada tiga hal yang membuat industri otomotif terpuruk, yakni pabrik otomotif tutup dan banyak melakukan konversi pada produk lain seperti masker dan ventilator. Kemudian, adanya disrupsi global supply chain, dan melemahnya permintaan.

“Untuk sektor produsennya, kami memberikan izin operasional dan mobilitas kegiatan industri (IOMKI) dan berbagai stimulus pajak usaha, sedangkan untuk demand kami usulkan keringanan pajak PPnBM yang bersifat mendesak kepada Kemenkeu,” ucapnya.

AYO BACA : Penerima Kartu Prakerja: Harap Cek Dashboard! Ada Waktu Perkiraan Kapan Insentif Survei Cair!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar