Yamaha

Murid-murid di Jakarta, Kalian Tetap Sabar Ya...

  Sabtu, 31 Oktober 2020   Eries Adlin
Murid-murid di Jakarta, Kalian Tetap Sabar Ya/ilustrasi

 

AYOJAKARTA.COM – BAGI sebagian murid, orang tua, dan tenaga pengajar, revisi—pemerintah menggunakan istilah penyesuaian—Surat Keputusan Bersama 4 Menteri terkait dengan pelaksanaan pembelajaran selama pandemi Covid-19 yang dirilis pada Agustus 2020 tentu merupakan kabar gembira.

Pasalnya, menurut SKB 4 Menteri itu, sekolah yang berada di zona hijau dan kuning akan diperbolehkan menggelar belajar tatap muka. Tentu dong dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dan pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Oh iya, empat menteri yang menandatangani SKB tersebut adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama.

Namun, harapan tinggal harapan. Boleh dibilang, sudah hampir delapan bulan sekitar 68 juta murid di seluruh Indonesia harus belajar dari rumah. Sekitar 4 juta tenaga pengajar pun tidak dapat menemui murid anak didiknya secara langsung. Mereka hanya bisa bersua lewat layar telepon selular atau laptop. Pastilah ada kerinduan yang menggebu untuk bertemu di antara murid dan guru.

Begitu juga dengan orang tua. Banyak cerita bagaimana orang tua kerepotan mengurus belajar online untuk anak mereka. Dari sisi biaya, mereka harus membeli kuota Internet. Belum lagi perangkat yang harus disiapkan seperti ponsel atau komputer di rumah. Kerepotan lainnya mungkin menyangkut waktu dan perhatian yang harus mereka berikan kepada anak-anak karena pola belajar secara daring masih asing bagi para orang tua.

“Para peserta didik juga mengalami kesulitan berkonsentrasi belajar dari rumah serta meningkatnya rasa jenuh yang berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan jiwa,” ujar Mendikbud Nadiem Makarim ketika menyampaikan taklimat media tentang Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, Jumat 8 Agustus 2020.

Beruntung, pemerintah melalui Kemendikbud sudah menggelontorkan bantuan kuota gratis untuk para murid, mahasiswa, dan tenaga pengajar sejak September. Bantuan yang direncanakan berlangsung sampai dengan Desember tentu menjadi solusi untuk urusan kuota Internet.

Tapi tentu bantuan itu tidak bisa melunasi rasa rindu para murid dan guru untuk bisa belajar dengan cara tatap muka langsung—termasuk mereka yang berada di DKI Jakarta. Namun, melihat tren penambahan kasus harian Covid-19 di Ibu Kota yang cenderung melandai dalam beberapa pekan, harapan para pelajar dan tenaga pendidik untuk bisa bertemu semakin membesar.

Berdasarkan data pada Jumat (30 Oktober 2020) pukul 12.00 WIB, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penambahan harian Covid-19 sebanyak 612 kasus di DKI Jakarta. Angka ini turun dibandingkan dengan sehari sebelumnya yakni sebanyak 713 kasus.

Angka di bawah level seribu kasus baru tentu kabar gembira. Sejak 25 Oktober 2020, DKI Jakarta mencatatkan kasus harian di bawah 1.000 kasus. Data statistik dari laman covid19.go.id, menyatakan bahwa DKI mulai mencatat ribuan kasus pada 30 Agustus 2020, yaitu sebanyak 1.094 kasus.

Berikut daftar penurunan kasus yang tidak lebih dari 1.000 kasus di DKI Jakarta pada Oktober 2020:

  • 9 Oktober 943 kasus

  • 17 Oktober 974 kasus

  • 18 Oktober 971 kasus

  • 19 Oktober 926 kasus

  • 20 Oktober 964 kasus

  • 22 Oktober 989 kasus

  • 23 Oktober 952 kasus

  • 25 Oktober 771 kasus

  • 26 Oktober 906 kasus

  • 27 Oktober 781 kasus

  • 28 Oktober 844 kasus

  • 29 Oktober 713 kasus

  • 30 Oktober 612 kasus

Kondisi per wilayah di Ibu Kota pun membaik. Sampai dengan 30 September, empat wilayah yakni Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat sudah masuk dalam kategori zona oranye alias kategori sedang. Hanya Jakarta Utara yang masih berada di kategori zona merah atau risiko tinggi. Sementara itu, Kabupaten Kepulauan Seribu malah sudah masuk zona kuning atau risiko rendah.

Padahal, dua pekan sebelumya, hampir seluruhnya wilayah di DKI Jakarta masuk kategori merah. Yang mendingan hanyalah Kepulauan Seribu, biasanya berada di kategori oranye.

Pencapaian dari seluruh stakeholders yang menangani pandemi Covid-19 di Ibu Kota tentu patut diapresiasi dan sudah pasti dipertahankan. Dan semua itu tetap membutuhkan kerja keras dan sinergi semua pihak yang terlibat.

Nah, terkait dengan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka langsung, harapannya tidak perlu terburu-buru dilaksanakan. Pastikan dulu semuanya sudah aman. Apalagi, sekarang para murid di DKI Jakarta sudah melewati penilaian tengah semester (PTS) alias sudah lewat setengah perjalanan dari semester pertama tahun ini.

Bukan maksud menafikan keinginan dari para murid dan guru, mungkin lebih baik, belajar mengajar secara langsung dimulai pada awal semester dua tahun depan. Itupun dengan catatan sudah memenuhi ketentuan dari SKB 4 Menteri.

Jadi, untuk murid-murid, dan guru tentunya, di Jakarta, kalian bersabar dulu ya sampai semuanya terkendali. Kalian nanti tercatat sebagai anak-anak yang banyak berkorban selama pandemi Covid-19 ini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar