Yamaha

Tari Kecak di Uluwatu Bali Kembali Memesona dengan Wajah Baru

  Senin, 16 November 2020   Aini Tartinia
Pergelaran Tari Kecak di Uluwatu, Bali. (Ayojakarta.com/Aini)

AYOJAKARTA.COM – Pandemi Covid-19 menghempas berbagai atraksi wisata di Bali yang telah mendunia, salah satunya Tari Kecak. Sejak Maret 2020 lalu, secara otomatis pentas yang digelar di Pura Uluwatu, Jimbaran, Badung itu harus tutup panggung.

Namun, seiring dengan era new normal, atraksi wisata yang juga disebut Tarian Api ini mulai pentas kembali sejak awal November 2020.

Sabtu 14 November 2020, Ayojakarta berkesempatan menyaksikan penampilan tari kecak di panggung pertunjukan DTW Pura Luhur Uluwatu kembali dibuka untuk umum, namun tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. 

Saat masuk kawasan khususnya sebelum memasuki area parkir, dilakukan pengecekan suhu tubuh, pemakaian masker,dan mencuci tangan di tempat yang disediakan.

Memasuki area stage tari kecak, pengelola pun terlihat memakai masker, sarung tangan dan face shield. Tak hanya itu, para penari kali ini menggenakan tampilan yang berbeda. Mulut mereka yang biasanya lantang meneriakkan suara “Cak Cak Cak Cak..” harus dibatasi dengan masker.

AYO BACA : Destinasi Wisata Bandung Timur Terapkan Prokes, Jalan-jalan Dijamin Aman!

Ketua Sanggar Tari dan Tabuh Desa Adat Pecatu, I Made Astra, mengatakan penggunaan masker untuk para penari ini merupakan upaya melindungi penari dan penonoton dari penyebaran Covid-19.

“Sekarang para penari harus pakai masker. Sementara penari yang memakai topeng tidak mengenakan, namun penari perempuan menggunakan face shield,” ujar Made Astra ketika ditemui Ayojakarta di Uluwatu, Bali, Sabtu (14/11/2020).

Dia juga mengungkapkan, alur cerita yang ditampilkan tidak ada pengurangan atau pemotongan sama seperti sebelum pandemi, namun hanya ada pengurangan jumlah penari dari normal 90 orang penari sekali pertunjukan kini hanya 50 orang penari sampai 60 orang penari.

“Alur cerita dan penokohan tidak ada kita potong cuma kuantitas penari kecak kita kurangi sesuai dengan protokol kesehatan,” jelas Made Astra.

Kapasitas Penonton Dikurangi

AYO BACA : Hadapi Iklim Baru saat Pandemi, Pelaku Pariwisata Butuh Sertifikat CHSE

Ia menyambut baik melihat antusiasme wisatawan terhadap pertunjukkan tari kecak yang kembali untuk umum di Uluwatu. Namun, kapasitas penonton untuk menyaksikan pertunjukan juga dikurangi untuk 400 orang. Biasanya, jumlah penonton dapat mencapai 1.000 hingga 1.400 orang.

Selain itu, hasil keputusan bersama dari sanggar dengan pengelola DTW Pura Luhur Uluwatu pertunjukan tari kecak selama bulan November 2020 dibatasi hanya empat kali dalam seminggu, yaitu Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.

“Mudah-mudahan Desember 2020 jika penambahan kasus baru Covid-19 melandai, kami rencanakan pertunjukan digelar reguler setiap hari. Mulai pukul 18.00 WITA sampai 19.00 WITA,” harapnya.

Diketahui, penerapan protokol kesehatan ini sejalan dengan program dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi (Kemenparekraf) RI, yaitu industri pariwisata berbasis Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE).

Program  CHSE atau Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan adalah sebagai salah satu strategi menghadapi masa adaptasi kebiasaan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

CHSE berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

AYO BACA : Usai Pulang Liburan saat Pandemi Covid-19, Segera Lakukan 7 Hal Ini Sesampai di Rumah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar