Yamaha

Obituari Ricky Yacobi: Sosok Pendiam yang Moncer di Arseto Solo dan SEA Games 1987. Selamat Jalan Kapten!

  Sabtu, 21 November 2020   Budi Cahyono
Ricky Yacobi (kanan berdiri) bersama Timnas Indonesia 1987. (dok)

AYOJAKARTA.COM -- Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sepak bola Indonesia kembali berduka. Sang legenda Timnas Indonesia, Ricky Yacobi atau akrab disapa Ricky Yacob telah pergi menghadap Allah Swt.

Nama pesepak bola kelahiran Medan, 12 Maret 1963 tersebut sangat melekat di hati pecinta sepak bola era tahun 1980-1990-an. Pemain yang moncer lewat akselerasinya di lini depan ini bisa dikatakan salah satu striker terbaik yang pernah lahir untuk Indonesia.

Ayojakarta pernah bersapa dan bertatap muka saat almarhum menyambangi Stadion Sriwedari di Kota Solo, medio 2017. Saat itu, Bang Ricky, begitu akrab disapa, mengutarakan pentingnya pembinaan usia muda di sepak bola Tanah Air.

“Pembinaan usia dini wajib. Sepak bola kita sudah melupakan itu, padahal di luar negeri, pesepak bola top berembrio dari kompetisi usia dini yang berkembang dari satu kompetisi ke kompetisi yang lain,” ujar mendiang kepada Ayojakarta, kala itu.

Baginya, setiap anak-anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama menjadi bagian dari timnas Indonesia dan berhak menyandang jersey Garuda di pentas internasional.

“Dari Sabang sampai Merauke, semua berhak menjadi pemain timnas. Tinggal bagaimana kesempatan dan pembinaan itu dilaksanakan secara serius sejak usia dini,” tegas legenda Arseto tersebut.

Keresahan sang legenda itu memang beralasan. Federasi sepak bola Tanah Air menganaktirikan pembinaan usia muda yang menjadi embrio lahirnya bintang timnas masa depan.

Ricky Yacobi mengawali karier sepak bolanya dari PSMS junior. Menanjak di junior, dia pun promosi ke PSMS senior pada 1982. Namanya semakin gemilang saat bergabung dengan Tim Keluarga Cendana, Arseto Solo pada 1986-1988.

Di tim berjuluk Biru Langit yang berhome base di Stadion Sriwedari ini, ketajaman Ricky muda semakin menggila. Saat itu, dia dipanggil memperkuat Timnas SEA Games 1987.

Dijuluki Paul Brietner-nya Indonesia, Ricky memiliki kemampuan kecepatan dan jeli memanfaatkan peluang.

Bermaterikan skuad gabungan tim galatama dan perserikatan, dibawah racikan pelatih Bertje Matulapelwa, timnas Indonesia menjadi sangat ditakuti lawan-lawannya.

Di partai semifinal, Indonesia melumat Burma (sekarang Myanmar) dengan skor meyakinkan, 4-1 lewat gol Rully Nere (54’), Herry Kiswanto (61’), Ricky Yacob (68’), dan Robby Darwis (73’).

Di partai puncak, Indonesia bertemu dengan Malaysia, musuh bebuyutan. Partai final digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, pada 20 September 1987.

Indonesia menyudahi perlawanan Malaysia dengan skor tipis 1-0 lewat gol tunggal Ribut Waidi. Bagi Indonesia, itu kemenangan membahagiakan karena menyingkirkan dominasi Thailand dan menjadi emas perdana sepak bola di arena SEA Games.

Di mata sahabatnya saat membela Arseto Solo, Sukisno, sosok Ricky dikenal pendiam dan memberikan contoh serta kedisiplinan dalam berlatih. Sebagai pemain bintang kala itu, Ricky tak pernah memilih kawan dalam bergaul, baik di dalam maupun luar lapangan.

Meski lebih senior, sosok asal Boyolali itu mengaku bangga pernah bermain satu tim dengan Ricky bahkan sama-sama membawa Arseto Solo juara. Terlebih dengan status sebagai bintang Timnas Indonesia.

"Ricky itu orangnya baik dan tidak neko-neko. Saat latihan maupun bermain dia benar-benar menunjukkan etos kerja yang luar biasa," paparnya.

Mantan pemain Persis Solo itu menambahkan, salah satu laga yang paling dikenang adalah melawan Tunas Inti saat Galatama musim 1983 di Jakarta. Saat itu, Sukisno mencetak gol indah dan mendapat sanjungan dari Ricky Yacobi.

"Saat itu dia mendapat pengawalan superketat dari pemain lawan. Karena sulit memberi umpan ke dia, bola saya tendang sendiri dan jadi gol. Ricky memberi apresiasi," tuturnya mengenang.

Sukisno menceritakan, kabar meninggalnya Ricky disampaikan Sudirman di grup WhatsApp keluarga besar Arseto.

“Pagi tadi Dirman minta doa untuk kesembuhan Ricky yang jatuh saat bermain bola. Tak ada satu menit, Dirman kembali mengabarkan  kalau Ricky sudah meninggal,” tutur Sukisno saat dihubungi Ayojakarta.

“Kami merasa sedih dan kehilangan sahabat yang sangat baik. Semoga husnul khatimah dan terang menuju surga,” ucap Sukisno.

Tinta emas telah ditorehkan Ricky Yacobi untuk sepak bola Tanah Air. Sosok yang selalu ingin Timnas Indonesia menjadi yang terbaik dan memiliki perhatian bagi perkembangan sepak bola usia muda di Tanah Air. Selamat jalan Kapten!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar