Yamaha

Perajin Rumah Arwah di Semarang, 4 Generasi Masih Bertahan

  Selasa, 01 Desember 2020   Budi Cahyono
Ong Bing Hok saat mengecek rumah arwah buatannya (ayosemarang.com/Vedyana)

SEMARANG, AYOJAKARTA.COM -- Sudah turun temurun keluarga Ong Bing Hok menjadi pembuat rumah arwah. Mulai dari sang kakek buyutnya yang merupakan orang asli Tionghoa dan sampai kepada dirinya yang merupakan generasi ke-4.

"Bisa dibilang setelah saya nanti bisa saja anak saya meneruskan kerajinan ini. Kalau kakek buyut, saya kurang paham kapan dimulainya, saya kira di tahun 1800an," ujar Ong Bing Hok kepada Ayosemarang, Senin (1/12/2020).

Saat Ayosemarang berkunjung ke workshop rumah arwah miliknya yang terletak di Gang Cilik, kawasan Pecinan Semarang. Terlihat Ong Bing Hok sedang mengawasi dua pekerjanya yang sedang membuat rumah arwah.

Di dalam studio workshopnya, pekerja sedang membuat kerangka rumah arwah terbuat dari bambu yang sudah dipotong kecil-kecil sesuai yang dibutuhkan. Adapun pekerja lainnya, sibuk menempelkan sejumlah bagian untuk dibentuk miniatur sofa mini atau ranjang tidur.

Ong Bing Hok menerangkan, bahan dasar dalam pembuatan rumah arwah termasuk yang mudah ditemui, yakni bambu, aneka macam kertas seperti HVS, karton, buffalo, marmer, concorde, orin, dan lainnya.

"Sebenarnya yang paling sulit dalam pembuatan rumah ini adalah membuat kerangka dari bambu itu. Butuh waktu cukup lama ketimbang saat membuat sejumlah miniatur pelengkap yang harus diletakkan di dalam rumah," katanya.

Dalam kepercayaan Tionghoa, mengirim rumah kertas beserta isi dan lainnya merupakan bekal yang dikirimkan keluarga yang ditinggal oleh mendiang. Menurut informasi yang didapat, dalam tradisi Tionghoa, rumah kertas dan lainnya dibakar pada hari ke-40 pascakematian seseorang.

"Jadi harapannya, mendiang tidak kesusahan di alam sana. Karena sudah memiliki rumah, berbagai macam baju, dan keperluan lainnya," ucapnya.

AYO BACA : Menulis Kaligrafi Tiongkok Mengajarkan Kesabaran dan Keseimbangan Jiwa

Dalam pembuatan rumah arwah, terkadang Ong Bing Hok membutuhkan waktu hingga dua minggu. Meski demikian, tingkat kesulitan, besar kecilnya ukuran memengaruhi dalam waktu pembuatannya.

"Kalau yang besar bisa sampai dua minggu. Kalau yang ukurannya kecil bisa sampai seminggu. Jadi kalau semakin besar yang dipesan, ya tentu semakin lama lagi prosesnya. Kita juga dalam pemesanan tidak bisa dadakan," katanya.

Untuk harganya sendiri, dirinya mematok harga sekitar Rp3,5 juta untuk ukuran yang kecil yakni, 1x1,5 m persegi. Dalam sebulan dirinya bisa membuat rumah kertas 5 sampai 7 pesanan.

"Tapi tetap saja tidak bisa dipastikan. Karena pembuatan rumah arwah ini kan untuk orang yang sudah meninggal," imbuhnya.

Menurutnya, perkembangan zaman mempengaruhi pesanan rumah arwah kertas buatannya. Ia menerangkan, saat kakek buyutnya dahulu, rumah arwah hang dipesan hampir mirip arsitekturnya dengan klentheng. Namun saat ini, pesanan rumah arwah berbentuk klentheng hanya bisa dihitung jari.

"Sekarang bentuk rumah arwah yang dipesan lebih ke minimalis. Sudah jarang yang pesan rumah arwah yang berbentuk klentheng. Kalau pun ada, ndak sebanyak yang rumah arwah minimalis. Tak hanya dalam kota, pesanan juga ada yang dari luar kota," ungkapnya.

Jatuh Bangun

Menjadi penerus bisnis keluarga, Ong Bing Hok mengaku usaha turun temurun miliknya tersebut juga pernah mengalami jatuh bangun.

AYO BACA : 2021 Menanti! Saatnya Tingkatkan Ambisimu Bersekolah di Eropa. Ini 7 Alasan Kuliah di Eropa

"Kalau jatuh bangun pasti ada. Namanya juga usaha. Tapi yang paling terasa itu saat zaman Orde Baru. Dulu harus berjuang keras untuk mencukupi hidup dari kerajinan ini," ujarnya.

Kala itu, pesanan rumah arwah bisa hanya dihitung jari. Meski demikian, keluarga Ong saat itu terus berjuang dengan minimnya pemasukan. Bahkan, pernah dalam sebulan tidak ada pemasukan sama sekali.

"Sebulan itu paling satu dua pesanan saja. Tapi setelah Orde Baru, situasinya mulai berjalan baik. Pesanan mulai lumayan banyak lagi," kenangnya.

Dirinya mengaku bersyukur dengan kondisi saat ini. Meski pandemi, pesanan rumah arwah buatannya masih ada pesanan yang cukup banyak. Dalam sebulan, dirinya mampu membuat 5-7 rumah arwah.

"Usaha ini adalah usaha turun temurun. Dan tentu nantinya anak saya yang akan meneruskannya lagi. Jadi akan terua bersambung," katanya.

Menjalankan kerajinan rumah arwahnya, Ong dibantu dengan dua pekerjanya. Yang mana keduanya membantu Ong dalam setiap proses pembuatan rumah arwah. Mulai dari buat kerangka, hingga miniatur-miniatur untuk di dalam rumah.

Salah satu pekerja, Gunawan menerangkan, jika dirinya sudah ikut membantu Ong dalam membuat rumah arwah sejak dirinya remaja.

"Sudah lama. Dari remaja sekarang saya sudah menikah dan punya anak," Katanya.

Dirinya memiliki tugas membuat meniaturperlengkapan untuk rumah arwah. Untuk bahannya sendiri, lanjutnya, dari styrofoam, kertas warna dan lem. Dalam sehari dirinya bisa membuat puluhan miniatur.

"Kalau yang sulit itu membuat kerangkannya mas. Kalau miniatur seperti ini kan sudah ada pakemnya tinggal nempelin aja pakai lem," katanya. (Vedyana)

AYO BACA : Setelah Jakarta, Rumah Sepeda Indonesia Kini Hadir di Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar