Yamaha

Masih Bertahan di Angka 2 Ribuan, Harian Covid-19 DKI Jakarta Bertambah 2.711 Kasus (Update 10 Januari 2021)

  Minggu, 10 Januari 2021   Aini Tartinia
ilustrasi (dok)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Penambahan kasus baru Covid-19 di DKI Jakarta mencapai 2.711 kasus. Jumlah ini sedikit menurun pada Sabtu kemarin yang mencapai 2.753 kasus.

Berdasarkan data yang dilansir Kementerian Kesehatan, selama 24 jam terakhir sampai dengan pukul 12.00 WIB 10 Januari 2021, total konfirmasi positif Covid-19 di ibu kota sejak pasien pertama diumumkan pada 2 Maret 2020 sudah menembus angka 200 ribu, tepatnya 206.122 kasus.

Berdasarkan data laman resmi penanganan Covid-19 nasional, www.covid19.go.id, rincian penambahan kasus harian Covid-19 di DKI selama tujuh hari ke belakang sebagai berikut:

4 Januari: 1.832 kasus
5 Januari: 1.824 kasus
6 Januari: 2.402 kasus
7 Januari: 2.398 kasus
8 Januari: 2.959 kasus
9 Januari: 2.753 kasus
10 Januari: 2.711 kasus

Pemerintah pusat memutuskan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali. Menindaklanjuti keputusan itu, Pemprov DKI akan melaksanakan pengetatan yang sama dengan cara menarik rem darurat dengan kembali menerapkan PSBB ketat pada 11-25 Januari 2020.

"Kami sangat mendukung keputusan pemerintah pusat untuk mengetatkan pembatasan sosial secara integral di wilayah Jabodetabek dan juga beberapa wilayah lainnya di Jawa dan Bali. Maka kini kita bisa melakukan pembatasan secara simetris, bersama-sama," kata Anies dalam video konferensi pers, Sabtu (9/1/2020).

AYO BACA : 4 Hari Berturut-turut, Kasus Harian Covid-19 Indonesia di Atas 9 Ribuan (Update 10 Januari 2021)

Diketahui, pemerintah pusat memutuskan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali. Menindaklanjuti keputusan itu, Pemprov DKI akan melaksanakan pengetatan yang sama dengan cara menarik rem darurat dengan kembali menerapkan PSBB ketat pada 11 Januari 2021 hingga 25 Januari 2021.

"Kami sangat mendukung keputusan pemerintah pusat untuk mengetatkan pembatasan sosial secara integral di wilayah Jabodetabek dan juga beberapa wilayah lainnya di Jawa dan Bali. Maka kini kita bisa melakukan pembatasan secara simetris, bersama-sama," kata Anies dalam video konpers, Sabtu (9/1/2021).

Anies menyebut, pihaknya sangat mendukung pengetatan serentak tersebut. "Kami betul-betul sangat mendukung pembatasan di periode 11-25 Januari dan ini bisa diperpanjang," katanya.

Anies menjelaskan apa saja yang akan dibatasi selama PSBB. Menurutnya tidak berbeda dengan PSBB saat rem darurat dilakukan September lalu.

Pertama, tempat kerja melakukan 75% berkerja dari rumah atau Work From Home.

Kedua proses belajar mengajar masih dilakukan secara jarak jauh.

AYO BACA : Dinas Sosial DKI Perketat Pengawasan di Sudirman - Thamrin

"Kemudian Sektor esensial bisa berjalan 100% dengan prokes ketat. Sektor esensial itu misalkan kesehatan, keuangan perbankan," kata Anies.

Selanjutnya, sektor konstruksi bisa berjalan 100% dengan prokes ketat. Untuk Pusat perbelanjaan kita lanjutkan beroperasi sampai pukul 19.00.

"Restoran juga hanya boleh menerima dine-in sampai pukul 19.00 dengan kapasitas 25%. Namun boleh take away 24 jam atau sesuai jam operasional," ucapnya.

Untuk Tempat ibadah tetap diberi batasan kapasitas 50%. "Untuk Fasilitas umum dan semua kegiatan sosial budaya sementara ini dihentikan," katanya.

Anies menyebut untuk Fasilitas kesehatan bisa tetap berjalan 100% dengan protokol kesehatan.

"Untuk Transportasi umum seperti selama ini berjalan, yaitu dengan pembatasan kapasitas. Jam operasional kendaraan umum hingga pukul 20.00," kata Anies.

Peraturan lebih detail apa saja yang dibatasi, tertuang dalam Pergub dan Kepgub DKI.

AYO BACA : Yang Boleh & Tidak Boleh Selama PSBB Ketat di DKI sampai 25 Januari

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar