Yamaha

Harga Daging Mahal, Ribuan Pedagang di Jabodetabek Bangkrut

  Rabu, 20 Januari 2021   Budi Cahyono
[ilustrasi] Penjualan daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (22/6). (dok)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Di tengah kesulitan ekonomi pada masa pandemi yang mengakibatkan harga beli masyarakat menurun, justru harga daging di pasaran mengalami kenaikan.

Kenaikan harga daging yang semakin tinggi ini membuat ribuan pedagang daging di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) terancam bangkrut.

Hal itu ungkapkan Sekretaris Asosiasi Pedagang Daging Indonesia atau APDI DKI Jakarta, TB Mufti Bangkit Sanjaya saat ditanyai mengenai surat edaran yang berisi imbauan berhenti berdagang.

AYO BACA : Cari Kerja? Ini Profesi Paling Banyak Lowongan Pekerjaan di Tahun 2021

Mufti menjelaskan, total pedagang daging di Jabodetabek yang menjadi anggota dalam APDI mencapai 12 ribu. Sehingga, terdapat sekitar 4.800 pedagang daging yang gulung tikar.

Menurutnya, penyebab ribuan pedagang daging gulung tikar yakni lantaran hasil penjualan yang terus menurun selama empat bulan terakhir. Karena, harga daging terus mengalami kenaikan sejak 2020 lalu.

Sehingga, APDI yang ada di seluruh DKI Jakarta, Depok Tangerang Bekasi telah bersepakat untuk berhenti berjualan mulai hari ini, Selasa (19/1/2020) sampai Kamis (21/1/2021).

AYO BACA : Catat! Delapan Lokasi Distribusi Bansos Tunai di Jakarta Utara

"Yang melatarbelakangi (aksi mogok) kan kenaikan harga yang semakin tahun semakin naik. Puncaknya empat bulan lalu lonjakan harga sudah liar tidak terkontrol dan Pemerintah cenderung pasif seperti itu. Nah ini diprediksi akan naik terus sampai dengan bulan Maret atau April dengan harga tertinggi Rp105.000 per kilogram per karkas," kata Mufti saat dihubungi suarabekaci.id.

Dia menerangkan, saat ini harga daging sapi mencapai Rp94.000. Jika naik hingga Rp105.000 maka akan banyak pengusaha daging sapi yang terdampak.

"Nggak kami libur pun pasti nggak ada yang bisa berjualan sapi. Ini kami sudah rugi pedagang-pedagang dari empat bulan lalu. Sudah gulung tikar hampir 40 persen pedagang di Jabodetabek," tuturnya.

Di menerangkan, pihaknya dari APDI DKI Jakarta telah melayangkan surat ke Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian sertak ke Kantor Staf Presiden pada 11 Januari 2021. Namun, surat tersebut belum direspon.

"Maka dari itu tanggal 17-nya kami rapat dan menghasilkan kesepakatan bahwa kami mogok berjualan daging. Baik itu itu di pasar maupun di Rumah Potong Hewan (RPH)," tuturnya.

Pihaknya menuntut pemerintah segera memberi solusi konkret untuk para pedagang serta pemilik RPH agar stok sapi kembali melimpah sehingga harganya dapat kembali normal.

AYO BACA : Aksi Mogok Massal Penjual Daging, RPH di Tangerang Tetap Layani Pemotongan Hewan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar