Yamaha

Bisnis Ikan Cupang, Menjanjikan sebagai Lahan Mengeruk Cuan

  Jumat, 05 Februari 2021   Budi Cahyono
ilustrasi ikan cupang (suara.com)

AYO BACA : Tien Kwok Sie Solo, Kelenteng Tertua di Indonesia dan Saksi Bisu Masyarakat Tionghoa Selama 8 Rezim

AYO BACA : Bikin Gemes! Viral, Video Anjing Pakai Helm Dibonceng Naik Sepeda Motor

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Deretan toples berjejer rapi diatas rak yang terbuat dari baja ringan. Toples berbentuk kotak dan bulat tersebut masing-masing diisi oleh satu ekor ikan kecil warna-warni.

Kesan pertama ketika memasuki ruangan tersebut, terlihat seperti toko akuarium khusus ikan petarung yang saat ini sedang booming, Cupang.

Sesekali, pemilik rumah melihat cupang peliharaannya. Dua ekor cupang dimasukan ke dalam sebuah baskom yang ditengahnya ditambahkan satu buah toplos. Satu ikan cupang dimasukan ke dalam toples, satu lagi dimasukan ke dalam baskom tersebut.

"Ini proses gluming, atau pengenalan betina dan jantan," ujar pria pemilik rumah menerangkan cara mengawinkan cupang.

Namanya Eriyandi Budiman, seorang pembudidaya ikan cupang di Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Genap dua tahun ini dia membudidayakan cupang.

Hobi tersebut dilakukan Eriyandi sejak 2019, bukan karena sedang booming, ada alasan tersendiri bagi pria berusia 56 tahun tersebut menyukai ikan yang pada masa lalu sering dikonteskan dalam adu ketangkasan tersebut.

"Saya tertarik dengan warnanya. Kebetulan basic saya itu perupa, jadi tertarik dengan warnanya. Cupang itu warnanya beragam, memiliki komposisi warna yang unik," paparnya.

Pada mulanya, Eriyandi tidak terlalu tertarik dengan ikan Cupang, namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan signifikan dikalangan pehobi cupang.

Zaman dulu, Cupang sering dijadikan sebagai ikan petarung. Namun beberapa tahun terakhir, ada pergeseran dari ikan petarung menjadi ikan hias.

"Awalnya memang diadukan, tapi sekarang lebih menjadi ikan hiasan, karena terjadi persilangan yang menjadikan perubahan warna. Mungkin sekarang sudah tidak ada yang mengadu Cupang," ujarnya.

Januari 2019 menjadi awal perkenalannya dengan Cupang, tempat kerjanya yang berada di sekolah terdapat pedagang ikan cupang untuk anak sekolah. Melihat ada cupang yang memiliki warna unik, Eriyandi lantas membelinya.

Sejak itu, Eriyandi menjadi gemar, dia mulai membeli cupang lain. Pada waktu itu dia membeli melalui insatgram untuk menambah koleksinya.

"Sekarang mungkin ada 200-an ekor," ujarnya.

Jumlah tersebut bukan angka pasti, namun yang jelas seluruh ruangan tersebut penuh oleh toples berisi ikan cupang yang ditaruh di atas rak.

Autodidak
Memiliki sejumlah cupang, tidak lantas membuat Eriyandi puas diri, dia terus menambah koleksinya, namun jika hanya mengandalkan dari membeli, uang yang akan dikeluarkan tidaklah kecil, terlebih untuk jenis tertentu harganya lumayan tinggi bahkan ada yang mencapai jutaan rupiah.

Eriyandi kemudian berusaha membudidayakan sendiri. Sebelumnya dia membeli beberapa indukan bagus agar anakan yang dihasilkan berkualitas.

"Di sekitar sini tidak ada yang membudidayakan cupang, jadi membudidayakan secara autodidak," imbuhnya.

Cupang merupakan ikan yang memiliki banyak penggemar sejak lama, sehingga literatur mengenai ikan petarung tersebut banyak dijumpai di internet.

Sedikit demi sedikit Eriyandi belajar membudidayakan ikan cupang melalui artikel yang banyak terdapat secara daring, ditambah menonton video melalui YouTube.

Walau demikian, sebagian besar koleksi ikan cupang miliknya merupakan hasil budidaya sendiri.

Walaupun tidak memiliki guru pasti, namun Eriyandi cukup sukses membudidayakan ikan cupang peliharaannya. Menurutnya, kesuksesan mengawinkan cupang dipengaruhi oleh pelbagai faktor.

Faktor pertama adalah indukan. Indukan yang bagus akan menghasilkan anakan yang bagus pula. Diutamakan memilih ikan cupang sejenis.

Secara garis besar, ada tiga gen cupang, yakni dragon yang ditandai dengan sisik besar, pensi yang memiliki kulit berwarna tertentu namun tidak bersisik dan Koi yang memiliki sisik dan warna kulit senada dengan warna daging.

"Usia paling bagus itu sudah mencapai 3 bulan," ucapanya.

Hal paling penting kata Eriyandi adalah ukuran betina tidak boleh lebih besar dari jantan. Dalam proses kawin, cupang jantan akan membelit betina, sehingga ukuran tubuhnya harus lebih besar. Apabila lebih kecil, besar kemungkinan telur tidak terbuahi dan hanya sebagian kecil telur yang menetas.

Setelah bertelur, indukan harus langsung dipisahkan. Setelah menetas, anak cupang disimpan di dalam wadah besar dan diberi makan secukupnya.

"Setelah usia 1 bulan, pisahkan anak cupang ke wadah kecil, jangan disatukan dalam satu wadah. Baru pada usia 2 bulan, simpan di wadah lebih besar," ujarnya.

Selalu perhatikan juga air. Kualitas air akan mempengaruhi pertumbuhan ikan. Banyak kasus cupang malah mati karena air yang tidak sesuai.

"Beri daun katapang di setiap wadah agar suhu air terjaga," imbuhnya.

Saat ini ikan cupang sedang naik daun, bahkan cukup menjanjikan apabila dijadikan sebagai lahan bisnis.

Satu indukan cupang, bisa menghasilkan ribuan telur. Menurut pengalaman Eriyandi, dengan perawatan yang baik tingkat kematian anakan sangat rendah, hanya berkisar 10%.

"Kuncinya adalah kesabaran. Memang ada beberapa yang diafkir, karena saat kecil anakan tidak sesuai yang diinginkan, seperti warna yang tidak sesuai atau hal lain. Tapi cupang itu terus bermetamorfosis. Ketika kecil misalnya terlihat warnanya kurang, tapi kalau sudah besar bisa jadi malah lebih bagus," paparnya.

Secara bisnis cupang kata Eriyandi sangat menjanjikan, cupang biasa paling rendah dihargai senilai Rp50.000, bahkan jika dinilai bagus, harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Dari bisnis cupang ini bisa menjanjikan sebagia lahan bisnis untuk mengeruk cuan atau uang.

"Yang namanya hobi, paling mahal tidak bisa ditebak. Saya pernah dengar ada cupang 1 ekornya sampai Rp3 juta," ungkapnya.

Walau telah memiliki koleksi ratusan ekor hasil budidaya sendiri, namun Eriyandi belum berani hobynya tersebut dijadikan sebagai bisnis. Ada beberapa alasan yang membuatnya belum berani menjual cupangnya secara komersil.

"Bisnis itu haru continue, jadi produksinya harus terukur," ujarnya.

Selain itu, Eriyandi sedang mencari ciri khas tersendiri dari hasil perkawinan silang cupang miliknya.

"Kalau sudah menemukan gen khas sendiri yang bagus, harganya akan sangat mahal. Tidak menjual banyak juga akan menghasilkan," katanya.

Sebagai Inspirasi

Bagi Eriyandi, cupang bukan hanya sekadar hobi. Namun jauh lebih bermakna.

Sejak awal, Eriyandi memiliki ketertarikan kepada cupang karena latar belakangnya sebagai perupa dan sastrawan, sehingga cupang memiliki nilai seni yang mendalam bagi dirinya.

"Bagi saya cupang itu sebagai inspirasi," katanya.

Sejumlah karya Eriyandi banyak terinsipirasi dari cupang. Salah satunya adalah puisi.

Banyak puisi yang terinspirasi dari keindahan cupang miliknya. Bahkan ada beberapa puisi yang dimuat di media massa.

Disamping itu, beberapa lukisan juga dibuatnya berlatar belakang atau bertema tentang cupang. (Mildan Abdalloh)

AYO BACA : Polisi di Surabaya Miliki Hobi Unik Mengoleksi Ribuan HotWheels

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar