Yamaha

Lima Film Bercerita Emansipasi Perempuan yang Wajib Ditonton

  Rabu, 21 April 2021   Aini Tartinia
ilustrasi (Pixabay)

TEBET, AYOJAKARTA - Tanggal 21 April diperingat sebagai Hari Kartini yang selalu memiliki arti spesial dalam merayakan perjuangan dan emansipasi wanita. 

Perayaan Hari Kartini biasanya dilakukan dengan megah, namun dalam kondisi yang masih pandemi ini, sejumlah kegiatan masih dibatasi.

Dalam merayakan Hari Kartini ini, kita bisa melakukannya sambil menonton film yang menceritakan tentang semangat emansipasi perempuan yang menginspirasi.

Berikut ini 5 film tentang emansipasi wanita di Indonesia dan luar negeri yang sudah Ayojakarta rangkum dari berbagai sumber:

Kartini (2017)
Seperti judulnya, 'Kartini' nerupakan film biografi dari sang pahlawan nasional karya sutradara Hanung Bramantyo. Film ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, dan Acha Septriasa.

Sebelumnya sudah ada film yang mengangkat kisah tentang R.A. Kartini, yakni R.A. Kartini (1984), dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016).

Kartini (Dian Sastrowardoyo) tumbuh dengan budaya Jawa ningrat yang sangat kuat di keluarganya.

Namun, Kartini merasa bahwa budaya tersebut cenderung mendiskriminasikan kalangan non-ningrat, terutama pada kaum perempuan.

Ia lantas percaya, hak pendidikan untuk perempuan adalah satu-satunya cara mengubah budaya diskriminatif tersebut.

3 Srikandi (2016)
Film ini dibintangi oleh Tara Basro, Bunga Citra Lestari, dan Chelsea Islan ini mengambil latar belakang bidang olahraga tahun 1988.

Ketiganya adalah atlet panahan dan hidup di latar belakang keluarga yang berbeda.

Masalah yang mereka hadapi juga berbeda, hingga akhirnya dipersatukan menjadi tim panahan yang mewakili Indonesia di Summer Olimpyc 1988 di Seoul, Korea Selatan.

The Breadwinner (2017)
Film The Breadwinner merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Deborah Ellis.

Film animasi ini menceritakan tentang perjuangan Parvana (diisi suara oleh Saara Chaudry), seorang gadis berumur 11 tahun yang tinggal di Kota Kabul, Afghanistan.

Di kotanya, ada aturan yang cukup ketat bagi perempuan. Mereka tidak boleh bepergian sendiri tanpa ditemani laki-laki dewasa.

Kehidupan Parvana semakin sulit setelah ia ditinggalkan ayahnya yang ditangkap oleh rezim Taliban. Alhasil, Parvana beserta ibu dan adik-adiknya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari karena adanya aturan ketat tersebut.

Oleh karena itu, Parvana mau tidak mau memotong rambutnya menjadi pendek seperti laki-laki agar dapat bertahan hidup.

Sokola Rimba (2013)
Film ini disutradarai oleh Riri Riza, film ini menceritakan tentang perjuangan Butet Manurung, aktivis dan pelaku pendidikan bagi masyarakat terpencil di Indonesia.

Butet mengajarkan baca-tulis dan berhitung kepada anak-anak Suku Anak Dalam yang tinggal di hulu sungai Makekal di bukit Dua Belas, Jambi.

Ia menggunakan metode antropologis, di mana tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tapi juga tinggal dan hidup bersama masyarakat yang ia didik.

Namun hal itu tidak mudah bagi Butet karena masyarakat rimba menganggap pendidikan tabu dan melanggar adat.

Kim Ji Young: Born 1982 (2019)
Film ini menyorot tentang silsilah keluarga di Korea Selatan yang menganut budaya patriarki.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Cho Nam-Ju, dan menceritakan tentang kehidupan seorang ibu muda, Ji Young (Jung Yu Mi).

Sejak kecil, Ji Young merasa selalu diperlakukan berbeda oleh keluarganya yang memang sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki.

Saat Ji Young beranjak dewasa, ia merasa hak karyawan wanita juga didiskriminasikan di tempatnya bekerja.

Karena peraturan perusahaan yang cukup ketat, Ji Young pun memutuskan untuk berhenti bekerja setelah menikah dengan Jung Dae-Hyeon (Gong Yoo).

Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah membuat Ji Young merasa semakin tertekan akan nasibnya sebagai seorang wanita. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar