Yamaha

Cerita Dua Sosok Guru Hebat, Berani Tampil Beda Hingga Pergi Belajar ke New Zealand

  Kamis, 10 Juni 2021   Icheiko Ramadhanty
Cerita Dua Sosok Guru Hebat, Berani Tampil Beda Hingga Pergi Belajar ke New Zealand / dok.Iche

TEBET, AYOJAKARTA --  Bidang pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia. Jika berbicara masalah pendidikan, kita juga berbicara tentang penerus masa depan.

Dari definisi itu, siapa yang memegang peranan penting dan signifikan terhadap tumbuh kembang manusia? Tentu saja jawabannya adalah seorang pendidik atau biasa kita panggil dengan sebutan guru.

Hal itulah yang melatarbelakangi PT. Paragon Technology and Innovation yang juga menaungi merk kosmetik seperti Wardah, Emina, dan Make Over, untuk memfasilitasi pelatihan bagi ribuan guru-guru hebat dan menginspirasi di Indonesia.

Salah satu pelatihannya yaitu Wardah Inspiring Teacher (WIT). Program pelatihan guru ini kemudian menjadi tempat bagi dua guru tangguh asal Depok dan Yogyakarta untuk memulai perjalanan hebat mereka demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mereka adalah Ika Ayu Pratiwi dan Anggi Rizka Pustika. Menjadi peserta dalam WIT, membuat Ika dan Anggi melebarkan perspektif, juga pengalaman.

Ika merupakan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di TKIT Villa Mutiara Cinere di Depok Jawa Barat. Dia adalah peserta WIT tahun 2020. Awalnya, Ika memulai pendaftaran pelatihan tersebut dengan rasa ketidakpercayaan terhadap dirinya.

“Saya kira ini sebuah kompetisi. Yang terlintas di pikiran saya ini seperti ajang pemilihan Puteri Indonesia,” ujar Ika saat menjadi pembicara di Fellowship Jurnalisme Pendidikan yang diinisiasi oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan dan hasil kerjasama dengan PT Paragon, Rabu 9 Juni 2021.

Dia sempat bercerita kepada murid-muridnya tentang program pelatihan WIT. Murid-muridnya mengatakan bahwa mereka siap mendaftarkan Ika sebagai guru yang menginspirasi.  Hal ini mengingat ada dua cara untuk menjadi peserta di WIT, salah satunya yaitu hasil rekomendasi anak-anak murid.

“Setelah masuk, saya tidak menyangka masuk hingga di tahap akhir. Dari ratusan guru yang diseleksi, hanya tinggal beberapa saja,” ujar guru lulusan Bahasa Prancis Universitas Negeri Semarang itu.

Hal yang tidak jauh berbeda juga dirasakan rekan Ika, yaitu Anggi. Anggi merupakan peserta WIT di tahun 2019. Saat menjadi peserta hingga saat ini, Anggi menjadi guru di SDN Bogem 2 Yogyakarta.

“Proses belajar di WIT itu menantang diri sendiri. Proses pembelajaran yang begitu panjang,” jelasnya.

Anggi bercerita bagaimana di awal pelatihan WIT, seluruh peserta mendapatkan salah satu materi berupa pengembangan diri. Materi ini, kata dia, yang membuat para guru menjadi semangat dan mengubah pemikiran bahwa menjadi seorang guru harus percaya diri karena mempunyai peranan yang besar.

“Kami juga diajari tampil percaya diri, diajarkan make-up sederhana untuk di kelas. Pertemuan pertama, kami diajari mengenai design thinking jadi proses media belajar,” ujar guru yang juga aktif di berbagai komunitas pendidikan itu.

Membuat prototype atau media pembelajaran bagi anak-anak

Kendati Ika dan Anggi masuk di periode pelatihan yang berbeda, namun keduanya menjalani program dan pelatihan yang sama di WIT. Ika sempat bercerita bahwa di awal karirnya, dirinya sempat dituntut oleh kepala sekolah untuk fokus pada urusan administrasi, bukan pada kondisi kebutuhan murid.

Hal ini yang menjadikan Ika harus mencari terobosan agar anak-anak didiknya tidak bosan belajar dan lebih mengenal kebutuhan anak.

“Sebetulnya saya kurang srek (dengan urusan administrasi), tetapi saya mencoba membuat media-media pembelajaran. Sejak saat itu, saya seperti pemulung karena saya selalu mengumpulkan barang-barang bekas,” cerita Ika.

Ika membuat banyak media pembelajaran dari barang bekas. Mulanya, dia mencoba membuat media berupa puzzle sebagai media pra-calistung (baca, tulis, menghitung).

Namun, tantangan terus menghampiri Ika. Dia mengaku anak-anak muridnya lebih menyukai bermain kartu, melihat gambar, menyusun lego, menghitung ranting pohon, mengklasifikasikan dan mengumpulkan benda-benda dengan warga yang sama.

Keadaan itu yang kembali memaksa Ika untuk membuat inovasi lagi. Sampai akhirnya, dia berhasil membuat sebuah karya yang dia sebut ‘Karena Cinta’ (Kartu Edukasi Nama, Cara Inovasi Belajar pra membaca, menulis, dan menghitung).

“Saya tidak menyangka murid menjadi antusias dan senang belajar sambil bermain engan alat main yang selama ini sering meeka buat untuk bermain. Bahkan meminta saya membuat tema yang lain,” ungkap Ika.

Cara Ika untuk membuat terobosan baru itu tidak berjalan mulus, bahkan awalnya dia tidak mendapat dukungan dari rekan-rekan satu profesinya. Proses untuk ‘berjuang sendiri’ yang dialami Ika cukup lama, namun dia tetap bersikukuh menemukan media pembelajaran itu.

Tidak jauh berbeda dengan Ika, Anggi juga merasakan proses yang sedemikian rupa. Design thinking yang diajarkan di program pelatihan WIT adalah proses pembuatan media belajar bagi anak-anak.

“Disini kami menyadari bahwa proses pembuatan media ada tahapannya. Kita harus tahu respon, kebutuhan, keinginan, dan minat murid-murid agar bisa diterima oleh mereka. Karena nanti otomatis akan membantu murid belajar karena mereka menerima itu,” ucap Anggi.

Para peserta WIT, kata dia, juga ditantang untuk mencari tahu masalah yang terjadi di kelas dan merancang media yang cocok dengan cara proses design thinking. Pertemuan selanjutnya di program WIT, para guru diwajibkan untuk membawa prototype media dan diuji coba dengan rekan seprofesi untuk mendapatkan masukan.

Kesempatan melebarkan sayap

Ika dan Anggi hanya salah dua dari jutaan guru yang menginspirasi di Indonesia. Ika bergabung dengan Kampus Guru Cikal, yaitu sebuah lembaga pengembangan karier guru dengan kemerdekaan belajar yang merupakan kunci perubahan untuk mewujudkan pelajar yang kompeten, ekosistem yang kompeten, dan kolaboratif.

“Bersama dengan Kampus Guru Cikal kemudian saya memberanikan diri untuk menulis,” kata Ika.

Dari sana, Ika kemudian aktif menjadi penulis cerpen, puisi, maupun tulisan tentang parenting. Dia juga terlibat untuk menjadi asesor Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (BAN PAUD dan PNF) Provinsi Jawa Barat.

Sama halnya dengan Ika, kegigihan Anggi mengantarnya untuk mendapat kesempatan pergi belajar ke New Zealand. Anggi menjadi perwakilan guru di Yogyakarta untuk belajar di salah satu negara dengan pendidikan berkualitas itu.

“Selama di New Zealand, saya merasa menemukan banyak insight. Ruang-ruang kelas di sekolah di New Zealand dirancang untuk mengeluarkan segala potensi siswa. Dinding-dinding ditempeli hasil karya mereka. Mereka buat cerita disana, ada foto dan lain sebagainya,” cerita Anggi.

Anggi bercerita bahwa sistem edukasi di New Zealand menganut sistem tiga tingkat, yang mencakup pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama dan pendidikan menengah atas, dan pendidikan tersier di universitas maupun politeknik.

Dari cerita dua guru hebat di atas, sebagai kaum terdidik hendaknya kita terus belajar dan menikmati segala prosesnya. Bagaimanapun, guru memiliki peran dan kontribusi terhadap karir yang kita miliki sekarang. Selamat belajar dan berproses! 

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar