Yamaha

Kualitas dan Fasilitas Sekolah di Bengkulu Dinilai Masih Banyak Kekurangan

  Sabtu, 12 Juni 2021   Icheiko Ramadhanty
Kualitas dan Fasilitas Sekolah di Bengkulu Dinilai Belum Memadai (dok. istimewa)

TEBET, AYOJAKARTA – Sektor pendidikan merupakan objek yang cukup vital bagi suatu negara. Sektor ini menjadi penentu untuk mencetak masa depan bangsa.

Di Indonesia, pendidikan berkualitas yang dilengkapi fasilitas lengkap umumnya berada di kota-kota besar. Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bersama hingga hari ini.

Di Provinsi Bengkulu, terdapat sebuah komunitas yang fokus terhadap isu pendidikan di daerahnya. Komunitas tersebut bernama Kelas Prestasi.

Didirikan sejak 2016, melalui project sosialnya, Kelas Prestasi menjadi wadah bagi anak-anak di Bengkulu untuk tidak hanya belajar tentang pembelajaran di sekolah, namun juga memahami dan mempraktekkan nilai-nilai moral dan Pancasila.

Wakil Ketua Kelas Prestasi, Jozi Ikhlas Attarik mengakui bahwa kualitas pendidikan di Provinsi Bengkulu masih jauh dibanding kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Palembang, atau Medan. Kualitas tersebut dilihat berdasarkan jumlah tenaga pendidik, maupun fasilitas yang tersedia.

Berdasarkan data dari Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Bengkulu pada tahun 2018, jumlah keseluruhan sekolah yang ada di provinsi Bengkulu adalah sekolah negeri sebanyak 1.886 dan sekolah swasta sebanyak 197. Yang tersebar di 10 Kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.

“Jumlah yang cukup banyak namun tidak dibarengi dengan kualitas dan fasilitas yang memadai. Masih banyak sekolah-sekolah yang bahkan tidak mempunyai gedung sekolah yang memadai sebagai tempat belajar, salah satunya seperti di Desa Kota Niur Kabupaten Bengkulu Tengah ada sebuah sekolah yang memiliki gedung tidak layak,” kata Jozi saat dimintai keterangan oleh Ayojakarta, Sabtu 12 Juni 2021.

Jozi menuturkan bahwa ia mendapat cerita dari Widya, seorang mahasiswi Universitas Bengkulu, yang mengatakan bahwa akses untuk masuk ke sekolah tersebut sangat sulit dan cukup jauh dari kota. Hal tersebut juga dikarenakan berada pada perlintasan proyek batubara dengan debu yang bertebaran sehingga dapat menutup jarak pandang.

“Mereka bersekolah menggunakan baju seadanya, tidak ada seragam atau apapun. Buku-buku pun juga sangat kekurangan, dengan sekolah yang hanya satu atap dengan SD dan SMA yang digabung, setiap seminggu sekali anak-anak SMA diantar menggunakan mobil desa untuk les komputer di luar desa Kota Niur karena terkendala sinyal dan listrik yang juga masih minim,” cerita Jozi.

Menurut Jozi, fenomena tersebut hanya satu dari sekian banyak potret menyedihkan pendidikan di Provinsi Bengkulu, karena banyak tempat-tempat lain yang tidak tersentuh. Hal ini semakin diperparah dengan pandemi Covid-19 yang meluluh-lantahkan sektor perekonomian nasional, dan berakibat pada sektor pendidikan. 

“Mulai dari pembelajaran daring hingga protokol kesehatan yang harus diterapkan sekolah, membuat semakin terpuruknya sekolah-sekolah yang tidak mampu untuk mengikuti laju perubahan di pandemi ini yang berimbas pada semakin banyak nya anak-anak yang putus sekolah dan mencari kerja,” ucapnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar