Yamaha

Demi Percepat Kualitas Pendidikan, BANS/M Lakukan Reformasi Terhadap Sistem Akreditasi

  Selasa, 15 Juni 2021   Icheiko Ramadhanty
Kepala Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (BAN-S/M Kemendikbudristek) Toni Toharudin

TEBET, AYOJAKARTA – Kepala Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (BAN-S/M Kemendikbudristek) Toni Toharudin mengatakan bahwa persentase sekolah dengan akreditasi A dan B, mengalami peningkatan di seluruh satuan pendidikan. Meningkatnya akreditasi tersebut datang dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, maupun madrasah.

Namun, peningkatan akreditasi tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan hasil ujian nasional dan capaian PISA (the Programme for International Student Assessment). PISA adalah penilaian siswa skala besar dan internasional.

PISA disponsori OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan). PISA bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di dunia.

Lulusan S3 University Groningen Belanda itu membeberkan data bahwa grafik hasil ujian nasional menunjukkan grafik yang menurun dari tahun 2015. Namun, di tahun 2019 sedikit naik karena diberlakukannya ujian tulis berbasis komputer. Untuk capaian PISA, Toni mengatakan ada penurunan grafik dari 2003 sampai 2014.

Dari grafik-grafik tersebut yang membuat BAN-S/M harus introspeksi terhadap data empirik. Toni mengatakan pada 2018 pihaknya berkomitmen untuk membuat reform sistem akreditasi.

“Selama 15 tahun itu, kualitas pendidikan kita sedikit lamban untuk meningkat kualitasnya. Kami melakukan reform terhadap sistem yang ada,” ujar Toni saat menjadi pembicara di Fellowship Jurnalisme Pendidikan yang diiniasi oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan dan PT. Paragon Technology and Innovation, Selasa 15 Juni 2021.

Adapun, reform yang dimaksud terdiri dari dua bagian yang harus diimplementasikan. Pertama, dari sistem akreditasi yang terdahulu dimana tidak menggunakan platform teknologi. Kedua, yaitu paradigma akreditasi.

Pemanfaatan teknologi, kata Toni, membuat kualitas sekolah dapat dipantau melalui satu sistem yang bernama Dashboard Monitoring System. Dia menjelaskan sistem ini dapat mengetahui bagaimana kualitas sekolah/madrasah dari waktu ke waktu, apakah mengalami improvisasi atau tidak.

“Jadi semua sekolah mulai dari kelompok belajar sampai madrasah, semua masuk ke sistem, untuk dipantau kualitasnya, khususnya madrasah. Selain itu, perubahan juga terjadi di paradigma instrumen kita. Instrumen kita yang dulunya berbasis complains, sekarang berbasis performance. Hal ini bisa meningkat secara terus-menerus dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Dengan sistem basis performance, Toni membeberkan pihaknya dapat melihat sekolah/madrasah dengan aspek-aspek atau indikator-indikator performance sekolah. Dimana selanjutnya aka nada tindak lanjut dari BAN-S/M untuk mengawal agar sekolah/madrasah tidak diam namun melakukan improvisasi.

“Kalau dulu (basis complains) setelah sertifikat akreditasi mau habis, dia (sekolah/madrasah) akan hidup (aktif) lagi ketika mau akreditasi. Jadi (terkesan) sesuatu bisa disiapkan secara instan. Dengan basis performance, setelah sekolah/madrasah re-akreditasi, kembali akan terbangun budaya improvement kualitas, baik di sisi sekolah maupun pemerintah daerah,” tutur Toni.

Lalu untuk perubahan paradigma akreditasi, Toni melihat beberapa variable salah satunya yaitu bagaimana proses pembelajaran di suatu sekolah/madrasah, yang nantinya kualitas lulusannya diharapkan menghasilkan mutu kelulusan.

“Terutama mutu guru seperti apa. Kemudian dipengaruhi manajemen sekolah. Jadi kepala sekolah harus mempengaruhi proses pembelajaran dan kualitas guru. Sebagai leader, kepala sekolah harus mensupport proses pendukung pembelajaran di sekolah tersebut,” ujar salah satu alumni Universitas Padjadjaran tahun 1994 itu.

Dia mendorong agar kepala sekolah mampu menyusun program yang inovatif dan menggerakkan seluruh elemen. Kepala sekolah juga diharapkan dapat mempengaruhi budaya sekolah dan mampu membangun kehidupan organisasi serta membangun budaya unggul (culture of excellence). 

 

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar