AYOJAKARTA.COM - Tentunya seorang ibu pasti khawatir jika sang anak mengalami batuk.
Namun, dr. Gerry menyatakan bahwa tidak semua anak yang mengalami batuk harus minum obat.
Apabila anak batuk, dr. Gerry menjelaskan yang terpenting adalah harus menilai berapa jumlah episode batuk itu terjadi.
Baca Juga: 10 Langkah Menjaga Privasi Akun WhatsApp Anda Agar Terhindar Masalah
Pasalnya, batuk itu juga merupakan refleks dari paru-paru ketika ada zat yang tidak seharusnya masuk.
Jadi apabila ada zat lain selain udara yang masuk ke dalam paru-paru, maka akan memberikan refleks batuk. Seperti contohnya apabila anak tersedak baik sudah dipastikan setelahnya anak akan batuk.
Hal itu merupakan reaksi pertama tubuh untuk menjaga zat yang tidak boleh masuk agar tidak sampai ke dalam paru-paru.
"Batuk harus dihitung, kalau tidak sampai 20 episode dalam 24 jam, maka tidak perlu diobati," jelas dr. Gerry.
Baca Juga: bank bjb Kantongi Penghargaan pada ESG Disclosure Awards 2022
Hal itu tentunya sambil dipantau apakah periode batuk pada anak tersebut bertambah.
Satu episode batuk dapat dihitung dengan ditandai satu kali tarikan nafas lalu anak itu batuk.
Meskipun suara batuk yang dihasilkan seperti banyak, selama itu dalam satu tarikan nafas maka dihitung satu episode batuk.
Lalu bagaimana acara membedakan batuk mana yang harus diobati?
Kalau batuknya sudah lebih dari 20 episode dalam 24 jam maka termasuk dalam kategori batuk yang harus diobati.
Baca Juga: Ternyata dari Keluarga Konglomerat, Ini Profil Dito Mahendra yang Laporkan Nikita Mirzani
Penyebab batuk bisa dari berbagai macam kemungkinan yang dapat terjadi.
Apabila dicurigai Covid, maka dr. Gerry menyarankan untuk PCR dibanding swab antigen karena dinilai kurang akurat.
Sementara di samping itu bisa saja memang sudah masuk musim batuk pilek karena faktor cuaca dan lingkungan anak.
Dari sebelum Covid, anak-anak sudah sering terkena influenza atau disebut sebagai versi batuk pilek yang berat.
Baca Juga: BPOM Rilis 13 Obat Sirup yang Aman Digunakan, Apa Saja?
Gejala influenza diantaranya yakni batuk pilek yang berat yang disertai demam tinggi sehingga menyebabkan anak tidak nafsu makan dan lemas.
Penyakit influenza ini bisa menular terutama pada kalangan anak-anak. dr. Gerry menyarankan agar anak terhindar dari influenza yaitu dengan melakukan vaksin influenza.
Selain menjaga kebersihan seperti halnya pada protokol kesehatan Covid.
Tidak mesti karena terpapar virus baik influenza maupun Covid, batuk pilek juga bisa disebabkan oleh kuman.
Baca Juga: bank bjb Kantongi Penghargaan pada ESG Disclosure Awards 2022
Salah satu ciri batuk yang disebabkan oleh kuman yakni batuk sudah lebih dari tiga hari bahkan disertai dahak.
Namun, dr. Gerry mengingatkan bahwa batuk yang perlu diobati tidak dinilai dari ada atau tidaknya dahak melainkan frekuensi episode batuk tersebut.
Selain itu berbeda dengan anak yang punya alergi, biasanya tubuhnya lebih sensitif.
Alergi dapat sangat mengganggu dan sifatnya berkepanjangan. Alergi dapat disebabkan banyak hal seperti debu, polusi, suhu, dan lain-lain.
dr. Gerry menjelaskan batuk pilek yang disebabkan alergi ini tidak menular.
Tapi kalau alergi tidak segera ditangani, itu bisa memicu virus atau kuman juga menjangkit anak tersebut sehingga menyebabkan penyakit memburuk.
Kesimpulannya adalah tidak semua batuk harus diobati. Jika batuknya dihitung dalam 24 jam tidak melebihi 20 episode maka tidak perlu diobati.
Langkah selanjutnya dr. Gerry menyarankan anak untuk beristirahat dan menjaga imunitasnya.
dr. Gerry juga menyarankan apabila bisa sediakan Hepa Filter dirumah, itu akan semakin bagus karena dapat menjaga sirkulasi udara agar lebih sehat.
Selain itu juga harus tetap terus memantau apapun yang dapat memicu alergi anak agar dihindari.***