AYOJAKARTA.COM - Saat ini dunia medis tengah ramai kasus gagal ginjal akut misterius.
Kemudian yang mencengangkan, kasus gagal ginjal akut misterius tersebut menyerang pada anak-anak.
Hal ini bahkan menyebabkan banyak anak-anak yang meninggal dunia akibat gagal ginjal akut misterius tersebut.
Kasus gagal ginjal akut misterius yang menyerang anak-anak ini awalnya terjadi di Afrika.
Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan, kasus gagal ginjal akut tersebut terjadi akibat dari kandungan senyawa Etilen Glikol dan Dietilen Glikol dalam obat sirup untuk anak-anak.
Kemudian pemerintah Indonesia bergerak cepat dengan mengecek suluruh produk obat dalam bentuk sirup untuk anak yang beredar dan diresepkan di Indonesia.
Baca Juga: Inilah Indikasi dan Ciri-ciri Gejala Gagal Ginjal yang Perlu Diwaspadai!
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal Youtube Tv One News pada Minggu (23/10/22), penggunaan senyawa Etilen Glikol dan Dietilen Glikol yang dapat membahayakan tubuh tersebut juga dibenarkan oleh Pakar Farmasi Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya Profesor Doktor Suharjono.
Prof. Doktor Suharjono menyatakan penggunaan senyawa Etilen Glikol dan Dietilen Glikol berbahaya bila penggunaannya melebihi ambang batas yang ditentukan.
Namun kedua senyawa tersebut memang lazim digunakan sebagai pelarut warna dan penambah rasa dalam obat sirup anak-anak.
Baca Juga: Terkuak Dugaan Penyebab Gangguan Ginjal Akut pada Balita, Simak Baik-baik Penjelasan Menkes Ini!
Menanggapi kasus gagal ginjal misterius yang menyerang anak-anak tersebut menurut Suharjono bukan karena paracetamol.
Namun yang memicu gagal ginjal akut misterius melainkan adanya senyawa pelarut yang kadarnya melebihi batas itu tadi.
Ketua Apoteker Indonesia Provinsi Jawa Timur ini juga menambahkan jika senyawa Etilen Glikol dan Dietilen Glikol sebenarnya hanya bertahan selama 6 hari dalam tubuh.
Sedangkan untuk menghilangkannya pasien harus banyak minum air.
Berdasarkan informasi, kasus gagal ginjal akut misterius yang terjadi di provinsi Jawa Timur sendiri sejak Januari 2022 mencapai 24 pasien.
Lalu saat pemerintah dianggap terlambat dalam menangani kasus gagal ginjal akut misterius sedangkan penggunaan dua senyawa berbahaya tersebut sudah lama, Suharjono memberikan tanggapannya.
Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Sadikin Klaim Sudah Dapat Obat Gangguan Ginjal Akut pada Anak, Apakah Itu?
“Saya kira bukan lambat, memang kasus-kasus yang lama itu tidak ada nah ini kebetulan kan kasus yang terjadi di Afrika lalu ini kok ternyata data yang masuk di rumah sakit besar di seluruh Indonesia itu lumayan banyak mulai Januari 2022.” jelas pakar farmasi tersebut.
Lebih lanjut ia menambahkan, “Datanya sampai sekarang kan sudah 200 lebih dan angka kematian daripada anak-anak yang lebih banyak.”
Menurut Suharjono, banyaknya korban anak-anak dikarenakan seringnya obat dalam bentuk sirup dikonsumsi oleh anak.
“Kenapa kok anak-anak banyak ? Ya karena kan anak-anak umumnya menggunakan sirup kalau orang dewasa kan tablet.” tutur Suharjono.
“Dan tidak hanya obat aktif saja yang beracun tapi bahan tambahan juga bisa beracun kalau tadi digunakan berlebihan tidak sesuai dengan persyaratan yang ada di farmasi.” pungkasnya. ***