Sehat

Pemberitaan Bunuh Diri di Media Massa Bisa Sebabkan Copycat Suicide, Apakah itu? Simak Penjelasannya di Sini!

Oleh: Nabila Prajna Paramita Rabu 12 Okt 2022, 14:49 WIB
Pemberitaan Bunuh Diri di Media Massa Bisa Sebabkan Copycat Suicide, Apakah itu? Simak Penjelasannya di Sini!

AYOJAKARTA.COM - Pemberitaan kasus bunuh diri biasanya diberitakan dan disebarkan melalui platform media elektronik.

Para media biasanya akan menggali informasi secara detail, penyebab orang tersebut melakukan bunuh diri.

Nantinya, media akan menjelaskan bagaimana orang tersebut melakukan bunuh diri, faktor apa yang menyebabkan bunuh diri, siapa identitasnya, di mana ia melakukan bunuh diri dan fakta-fakta lainnya.

Baca Juga: Mahasiswa Baru UGM Tewas Bunuh Diri, Diduga Miliki Masalah Kesehatan Mental

Berita ini akan menggunakan kata-kata sensasional dan membingkai kata bunuh diri yang disebutkan secara berulang-ulang.

Sadar atau tidak, media massa yang memberitakan berita tentang pembunuhan nantinya bisa menyebabkan seseorang mengalami copycat suicide.

Copycat suicide didefinisikan sebagai duplikasi atau menirukan tindakan orang bunuh diri untuk ia peragakan saat mencoba membunuh dirinya sendiri.

Seseorang secara tidak sadar menyimpan memori tentang bagaimana orang tersebut bisa berhasil bunuh diri dari pengetahuan lokal atau karena laporan yang digambarkan oleh televisi dan media lain.

Biasanya korban copycat suicide yang mengikuti tindakan bunuh diri yang ia tiru terjadi karena beberapa faktor.

Di antaranya merasa memiliki kesamaan pada masalah yang dihadapi, kedekatan dalam hubungan dan faktor lainnya.

Baca Juga: Viral Postingan Putri Candrawathi Bunuh Diri dengan Rasa Kekesalan, Cek Faktanya

Dikutip AyoJakarta.com dari Alomedika pada Rabu (12/10/2022), WHO telah telah mengeluarkan panduan untuk media massa mengenai saran pemberitaan bunuh diri sebagai langkah untuk menghindari kasus bunuh diri.

Secara garis besar, WHO menyarankan media untuk memberitakan kasus bunuh diri dengan tepat dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan mewaspadai penggunaan komentar impromptu yang sensasional.

Dikutip AyoJakarta.com dari laman resminya, WHO mengatakan bahwa pencegahan bunuh diri belum bisa ditangani secara memadai karena kurangnya kesadaran akan bunuh diri sebagai masalah kesehatan masyarakat yang dinilai tabu untuk dibicarakan secara terbuka.

Baca Juga: Kaya dan Sukses, Benarkah Hotman Paris Hampir Bunuh Diri ? Simak Cerita Sang Anak Frank Hutapea Ini!

Hingga saat ini, hanya beberapa negara yang memasukkan pencegahan bunuh diri di antara prioritas kesehatan dan hanya 38 negara yang melaporkan memiliki strategi pencegahan bunuh diri nasional.

Meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendobrak nilai tabu penting bagi negara-negara untuk membuat kemajuan dalam mencegah bunuh diri.

Hingga tahun 2019, WHO mengatakan setiap tahun ada 703.000 orang yang melakukan bunuh diri dan masih banyak lagi orang yang mencoba melakukannya.

Bunuh diri bisa terjadi pada segala usia, namun lebih rentan terjadi pada anak berusia 15-29 tahun.***

Reporter Nabila Prajna Paramita
Editor Fathul Amanah