Sehat

Kenali Sifat Paranoid Personality Disorder Serta Cara Tangani Kesehatan Mental Secara Mandiri

Oleh: Evan Reza Priha Agatha Senin 10 Okt 2022, 12:40 WIB
Kenali Sifat Paranoid Personality Disorder Serta Cara Tangani Kesehatan Mental Secara Mandiri

AYOJAKARTA.COM - Kesehatan mental kini menjadi hal yang harus diperhatikan oleh semua masyarakat.

Tidak sedikit masyarakat mengalami gangguan kesehatan mental.

Pada 2019, angka penanganan kasus kesehatan mental hanya berkisar 9 persen dari jumlah penderita.

Ada gangguan kesehatan mental yang mudah dikenali ciri-cirinya dari fisik seperti memiliki rasa curiga yang berlebihan.

Baca Juga: Memperingati 10 Oktober Sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia, Apa yang Perlu Kita Lakukan?

Dalam psikologi, kecurigaan berlebihan merupakan suatu gangguan kepribadian yang disebut dengan Paranoid Personality Disorder.

Paranoid merupakan salah satu dari sekian banyak gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang selalu curiga terhadap orang lain.

Hal itu disebabkan oleh luka batin dari masa lalu penderitanya.

Baik berupa penolakan terhadap diri sendiri atau bahkan trauma dari masa lalu yang buruk.

Seseorang penderita paranoid cenderung merasa bahwa dirinya diperlakukan dengan buruk atau merasa dimanfaatkan oleh orang lain.

Hal tersebut membuat penderita paranoid selalu waspada dan curiga terhadap orang lain yang dianggap akan berbuat sesuatu yang negatif pada dirinya.

Pribadi ini cenderung kasar dan gampang marah pada sesuatu yang dianggap penghinaan.

Selain tidak memercayai orang lain, penderita paranoid memilki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain.

Baca Juga: Protokol Paranoid dan Protokol Corona

Seseorang yang mengalami paranoid bisa terlihat pada sifatnya yang mudah sensitif, cenderung kaku, banyak alasan, serta selau mengutamakan memandang orang lain dari sisi negatifnya.

Dalam hubungan sosial, mereka adalah orang-orang yang sangat mudah cemburu terhadap sesuatu tanpa alasan, dan juga selalu mempertanyakan kesetiaan pasangannya.

Menjadi gampang curiga atau khawatir dapat melumpuhkan pikiran, namun bukan berarti hal tersebut tidak dapat diubah.

Dengan mengubah bagaimana keyakinan ini memengaruhi perilaku mereka, Terapi kognitif-perilaku (CBT) dapat membantu mengurangi paranoia dan meningkatkan seberapa baik orang yang anda cintai berinteraksi dengan orang lain.

Ataupun dapat melakukan terapi tersebut secara mandiri untuk merubah perilaku serta pola pikir terhadap lingkungan sekitar.

Dikutip AyoJakarta.com dari buku karya Asti Musman dengan judul 'berdamai dengan masa lalu' mengobati luka-luka batin, berikut cara menangani kesehatan mental secara mandiri:

Baca Juga: Orang Tanpa Gejala Corona dan Potensi Generasi Paranoid dalam Dilema Keterbukaan Informasi Publik

1. Jangan Menyembunyikan Perasaan dari Lingkungan Terdekat

Ada baiknya untuk tidak perlu takut akan suatu hal dari orang lain, karena hal tersebut akan merusak hubungan yang ada.

Jikapun ada sesuatu hal yang harus disembunyikan, jangan lakukan hal tersebut pada sahabat ataupun keluarga.

2. Jangan Mengharapkan Ketenangan dan Ketentraman Hati dari Orang Lain

Jika merasa ragu dalam persahabatan atau suatu hubungan, jangan pernah bertaya apakah mereka menyukai atau menerima.

Jika kita bertindak sesuai dengan kehendak hati, itu hanya akan memperburuk keadaan.

Baca Juga: 11 Twibbon Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022, Download dan Unggah di Media Sosial

3. Jangan Mencoba Mendikte Tindakan Orang Lain Terhadap Kita

Hal ini justru menunjukkan ketakutan atas apa yang mungkin orang lain lakukan pada diri kita.

Misalnya “jangan marah padaku ya.”

Hal itu menandakan bahwa kita sedang mengantisipasi apa yang akan dilakukan atau tidak dilakukan orang lain.

4. Jangan Kepo

Bila kita berkeinginan untuk segera mengetahui informasi dan berusaha untuk mendapatkannya (kepo), sebaiknya jangan dilakukan.

Jika seseorang atau teman kita bergosip tentang diri kita, jangan lantas segera untuk menanyakan penjelasan.

Biarkan semua itu terjadi sebagaimana adanya dan menyadari bahwa kita tetap dapat bersikap baik tanpa harus memiiki semua jawaban.

Jika kita berhenti mengontrol hidup sendiri terlalu banyak, kita dapat memulai mempercayai dan menanggapi dengan cara yang lebih baik terhadap lingkungan sekitar.***

Reporter Evan Reza Priha Agatha
Editor Fathul Amanah