BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Madu memiliki beberapa manfaat bagi penderita asma karena efektif untuk mengendalikan batuk. Madu meningkatkan produksi air liur. Saat air liur melumasi saluran udara dan mengurangi iritasi di tenggorokan, batuk dapat berkurang.
Madu juga memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat mengurangi pembengkakan saluran udara yang menyertai asma. Dilansir dari Medical News Today, Selasa (21/7/2020), Departemen Kesehatan dari University of California, Los Angeles merekomendasikan agar orang dewasa minum 2 sendok teh madu sebelum tidur untuk mengurangi batuk.
Penelitian yang paling relevan telah menguji efektivitas madu sebagai penekan batuk. Penting untuk dicatat, banyak penelitian mengeksplorasi efek madu pada infeksi saluran pernapasan atas, bukan asma, meskipun kedua kondisi tersebut dapat memiliki gejala yang sama.
Sebuah studi dari tahun 2012 berjudul “Effect of Honey on Nocturnal Cough and Sleep Quality: A Double-blind, Randomized, Placebo-Controlled Study”, ditulis oleh Henmar Anver Cohen dan kawan-kawan membuktikannya.
AYO BACA : Daun Pepaya, Si Pahit Pereda Demam
Penelitian melibatkan 300 anak berusia 1-5 tahun dengan infeksi saluran pernapasan atas. Beberapa anak diberi madu jeruk, madu kayu putih, atau madu labiatae. Sementara yang lainnya diberi plasebo.
Anak-anak yang mengonsumsi madu berkurang batuknya saat malam hari. Hal ini menghasilkan peningkatan kualitas tidur bagi mereka.
Ketika membandingkan efektivitas madu dan cough suppresants (penekan batuk), peneliti menemukan bahwa madu sama efektif atau sedikit lebih efektif daripada diphenhydramine atau dekstrometorfan. Dua bahan itu umum digunakan untuk menekan batuk. Madu juga lebih mampu mengobati batuk daripada tidak diobati sama sekali.
Nurfatin A Kamaruzaman dan kawan-kawan, melakukan penelitian pada hewan “Inhalation of honey reduces airway inflammation and histopathological changes in a rabbit model of ovalbumin-induced chronic asthma” tahun 2014.
AYO BACA : Wajib Tahu! 7 Aturan Penggunaan Masker yang Benar
Mereka menguji apakah madu yang dihirup dapat mengurangi gejala asma. Hasil menunjukkan bahwa madu efektif. Namun, penelitian tambahan diperlukan pada manusia.
Risiko yang Dihadapi
Walaupun mengonsumsi 1 atau 2 sendok teh madu biasanya aman bagi kebanyakan orang, ada beberapa pengecualian. Melansir Healthline, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), bayi di bawah usia 1 tidak boleh diberi madu, karena risiko botulisme, jenis keracunan langka yang disebabkan bakteri Clostridium botulinum.
Madu dapat mengandung spora botulisme. Orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua memiliki pertahanan yang menghentikan pertumbuhan bakteri, sedangkan bayi memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah. Bayi di bawah 12 bulan tidak boleh mengonsumsi madu.
Orang juga bisa alergi terhadap madu. Alergi ini biasanya terkait dengan kontaminasi madu dengan serbuk sari, bukan racun lebah. Orang yang alergi sengatan lebah belum tentu alergi terhadap madu. Saat diproduksi, madu bisa saja terkontaminasi dengan serbuk sari dari pohon dan tanaman lain.
Gejala reaksi alergi terhadap madu meliputi bersin, gatal-gatal, mata berair, dan pilek. Jika reaksinya parah, bisa menyebabkan napas pendek, perasaan sesak di dada, dan kesulitan bernapas. Jika parah, segera dapatkan perawatan.
Penelitian tidak menunjukkan bahwa madu adalah alternatif dari obat asma. Namun, madu dapat membantu meredakan beberapa gejala asma seperti batuk. Madu saja tidak dapat menangani gejala asma secara efektif. Perawatan tambahan termasuk mengurangi paparan alergen, berhenti merokok, dan memakai inhaler juga diperlukan. (Ventriana Berlyanti)
AYO BACA : Benarkah Thermo Gun Bisa Merusak Sel Otak? Begini Penjelasannya