Sehat

Corona Melambat di Daerah Panas

Oleh: Admin Senin 16 Mar 2020, 19:10 WIB
ilustrasi. shutterstock

AYO BACA : Pasokan Terganggu, Renault di Barcelona Setop Produksi

AYO BACA : Berapa Lama Corona Bertahan di Tubuh Manusia?

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Penelitian dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, di Guangdong yang terbit pada Februari lalu menunjukkan bahwa kecepatan penyebaran virus corona baru melambat di wilayah yang lebih panas. Hal itu dikutip South China Morning Post baru-baru ini.
 
"Suhu bisa secara sifnifikan mengubah transmisi Covid-19," jelas para ilmuwan dalam studi yang masih menunggu untuk dievaluasi tersebut.
 
Meski demikian, studi berbeda dari para ilmuwan di Universitas Harvard menunjukkan bahwa kecepatan penyebaran virus corona di berbagai wilayah, baik lembab, kering, maupun tropis akan sama saja.
 
"Perubahan cuaca saja, seperti meningkatnya suhu dan kelembaban di musim semi serta panas, tidak akan mengurangi jumlah penularan tanpa adanya intervensi besar dari sektor kesehatan publik," tulis para ilmuwan Harvard dalam studi yang terbit Februari dan masih mengantre untuk dievaluasi.
 
Studi para ilmuwan di Sun Yat-sen menggunakan data jumlah kasus penularan virus corona baru di seluruh dunia antara 20 Januari sampai 4 Februari, termasuk di lebih dari 400 kota di China.
 
Kasus-kasus penularan itu kemudian dibandingkan dengan data metereologis selama Januari dari seluruh China dan ibu kota dari semua negara yang diteliti.
 
Hasilnya ditemukan bahwa jumlah penularan meningkat selama suhu berada di bawah 8,72 derajat Celcius dan kemudian jumlah penularan akan turun jika suhu mulai melewati batas tersebut.
 
"Suhu memiliki dampak terhadap lingkungan hidup manusia dan bisa memainkan peran penting dalam kesehatan publik, terutama soal pengendalian wabah," tulis para peneliti.

AYO BACA : Virus Covid-19 Bisa Bertahan 37 Hari di Tubuh

Reporter Admin
Editor Fitria Rahmawati