JAKARTA SELATAN, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah menambah jumlah rumah sakit (RS) rujukan untuk pasien yang diduga terinfeksi virus corona menjadi 137 RS. Jumlah tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Namun, selama ini ada salah kaprah yang umum terjadi di tengah masyarakat dalam mengartikan istilah "RS rujukan". Hal ini coba diluruskan juru bicara pemerintah pusat untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto.
Pria yang akrab disapa Yuri itu menjelaskan, RS yang berstatus rujukan bukan berarti memiliki fasilitas yang paling hebat dalam penanganan virus corona.
"Bukan berarti fasilitasnya paling hebat. Tapi itu rumah sakit yang disiapkan untuk outreach, untuk melakukan penanganan di lokasi lain tanpa mengganggu dirinya sendiri," terang Yuri saat berbicara di forum diskusi COVID-19 bersama wartawan, di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2020).
Ia mencontohkan RSPI Sulianti Saroso dan RSUP Persahabatan yang berstatus rujukan dalam penanganan virus corona. Ia jelaskan bahwa kedua rumah sakit itu menjadi rujukan karena bisa beroperasi sambil membantu penanganan virus corona di wilayah lain, misalnya di Kepulauan Natuna atau Pulau Sebaru Kecil yang menjadi tempat observasi para WNI yang dievakuasi dari tempat wabah virus corona.
Selain itu, RS rujukan yang ditunjuk pemerintah juga menjadi center of excellence atau pusat belajar bagi RS lain dalam penanganan penyakit-penyakit menular.
"Rujukan nasional bukan berarti semua pasien corona dibawa ke situ. Itu tidak mungkin," tegas pria yang sehari-hari menjabat Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan itu.