JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah dituntut untuk memperkuat alokasi sumber daya untuk mengatasi pneumonia sebagai komitmen mengurangi angka kematian anak di Indonesia.
Seruan itu disampaikan Save the Children, Unicef, dan koalisi “Every Breath Counts” berdasarkan data kematian balita di Indonesia akibat pneumonia yang kian memprihatinkan.
Berdasarkan penelitian terbaru, pada tahun lalu saja pneumonia merenggut nyawa 19.000 balita di Indonesia. Ini sama saja membunuh dua anak tiap jamnya.
Pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur, yang membuat anak-anak harus berjuang mati-matian untuk sekadar bernafas karena paru-paru mereka dipenuhi oleh nanah dan cairan. Penyakit ini adalah salah satu pembunuh utama anak-anak di Indonesia, menyebabkan 16% kematian pada balita.
Secara global, 802.000 balita meninggal dunia karena pneumonia pada tahun 2018. Ini menjadikan pneumonia menjadi penyebab kematian balita nomor satu di dunia. Sebagai perbandingan, 437.000 balita meninggal karena diare dan 272.000 karena malaria.
Lima negara bertanggung jawab atas lebih dari setengah kematian anak akibat pneumonia di dunia, yakni Nigeria (162.000), India (127.000), Pakistan (58.000), Republik Demokratik Kongo (40.000) dan Ethiopia (32.000).
Indonesia pun tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian balita karena pneumonia yang tinggi dengan angka 19.000 balita sepanjang tahun lalu.
Anak-anak dengan sistem kekebalan yang melemah karena infeksi atau kekurangan gizi, dan mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara dan air yang tidak aman, memiliki risiko lebih besar untuk terkena pneumonia.
Save the Children, Unicef, dan koalisi “Every Breath Counts” menemukan, anak-anak Indonesia yang lahir dari rumah tangga termiskin memiliki potensi meninggal dunia dua kali lebih besar akibat pneumonia sebelum ulang tahun ke-5 mereka, jika dibandingkan anak-anak dari rumah tangga terkaya.
"Anak-anak yang tinggal di Papua berpotensi lima kali lebih mungkin untuk meninggal sebelum mencapai usia lima tahun dibandingkan anak-anak di Kepulauan Riau," demikian dikutip dari siaran pers yang redaksi terima.
Sebagian besar kematian akibat pneumonia sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin maupun antibiotik yang harganya terjangkau. Namun, di Indonesia, jumlah anak-anak usia satu tahun yang mendapat vaksinasi untuk penyakit ini masih sangat rendah. Hal ini tampak dari cakupan vaksinasi dasar (Hib3, DTP3) yang masih di bawah 80% dan cakupan PCV3 yang hanya 8%.
Ketua Pengurus Yayasan Sayangi Tunas Cilik-Save the Children di Indonesia, Selina Sumbung, mengatakan, pneumonia adalah epidemi kesehatan global yang terlupakan yang menuntut respons internasional yang lebih besar. Secara umum, krisis pneumonia adalah campuran antara ketidaksetaraan atas akses ke perawatan kesehatan dan kesadaran yang rendah.
“Tingkat cakupan deteksi pneumonia di Indonesia masih rendah, yaitu 55,8%. Angka ini jauh lebih rendah dari target nasional yaitu 85%. Selain itu, hanya setengah fasilitas kesehatan primer yang menggunakan pedoman standar pneumonia. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pneumonia seperti praktik menyusui yang rendah, kebersihan tangan, serta polusi udara, harus segera diselesaikan di Indonesia," terang Selina.
Sedangkan Executive Director Unicef, Henrietta Fore, mengatakan, setiap hari hampir 2.200 balita meninggal karena pneumonia. Padahal penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan. Komitmen global yang kuat dan peningkatan investasi sangat diperlukan untuk memerangi penyakit ini. Intervensi perlindungan, pencegahan, serta pengobatan yang efektif dan tepat dapat menyelamatkan jutaan nyawa anak-anak.
Perlu diketahui pula bahwa pada Januari 2020 mendatang Indonesia turut diundang untuk menghadiri Forum Global tentang Pneumonia Anak di Spanyol, sebuah konferensi internasional besar pertama tentang pneumonia dalam satu dekade terakhir.