AYOJAKARTA.COM - Pertama kali ditemukan pada Kera yang biasa dipergunakan dalam penelitian di tahun 1958, Cacar Monyet atau Monkeypox kembali menjadi sorotan.
Penularan virus Mpox yang juga dapat menyebar melalui hewan pengerat seperti Tupai dan Tikus, membuat dunia kesehatan memberi perhatian khusus.
Terlebih di tahun 1970, virus Mpox diketahui juga telah menular kepada manusia dan hal tersebut terjadi di Kongo, Afrika.
Dampak dari temuan tersebut, membuat Organisasi Kesehatan Dunia memberikan perhatian secara lebih serius terhadap potensi endemik yang ditimbulkan.
Sejalan dengan perkembangan peradaban, virus Mpox diketahui mengalami penyebaran secara lebih luas hingga ke negara diluar Afrika.
Dikutip dari kanal YouTube MetroTV, Selasa (27/8/2024), selain ditemukan di Afrika, virus Mpox pada manusia juga tercatat sempat terjadi di beberapa negara seperti Australia, Jerman, Kanada, Amerika, Italia.
Pada rentang kurun waktu antara 13 sampai dengan 21 Mei 2022, tercatat sebanyak 92 kasus Mpox yang tersebar di beberapa negara non endemik dan terus mengalami kenaikan.
Berdasarkan pada data Kementerian Kesehatan, virus Mpox di Indonesia sampai dengan Agustus 2024 tercatat sudah terjadi sebanyak 88 kasus.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5.8 Guncang Gunungkidul Yogyakarta Hari Ini, Getaran Sampai Terasa ke Pemalang
Tidak jauh berbeda dengan gejala Cacar Air, seseorang dengan suspect penderita virus Mpox akan akan mengalami gejala setelah masa inkubasi atau terinfeksi pertama kali.
Adapun rentang waktu inkubasi yang dibutuhkan bagi virus Mpox untuk menjangkit seseorang adalah sekitar 5 sampai dengan 10 hari.
Pada tahap awal, seseorang dengan suspect Mpox akan mengalami gejala seperti Demam, Lelah, Lemas serta menggigil.
Selain itu, juga akan mengalami sakit kepala, punggung dan nyeri otot serta terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada bagian leher, ketiak atau selangkangan.
Setelah mengalami fase inkubasi atau di hari pertama hingga ketiga, seseorang akan mengalami gejala ruam kemerahan pada bagian wajah.
Ruam kemerahan tersebut, lambat laun akan menyebar ke area tubuh lain seperti bagian Lengan atau Tungkai Kaki.
Setelah beberapa hari, ruam pada tubuh akan berubah menjadi bintil berisi cairan atau nanah dan kulit penderita berubah mengeras setelah pecah.
Sebagai langkah antisipasi atau pencegahan, pastikan tidak melakukan kontak fisik jarak dekat dengan seseorang yang bergejala atau bahkan terinfeksi virus Mpox.
Selain akibat adanya kontak fisik jarak dekat, penyebaran Mpox juga dapat terjadi karena terpapar atau terkontaminasi oleh benda milik penderita yang terinfeksi.
Untuk memotong mata rantai penyebaran Mpox, selain menjaga jarak juga menghindari hewan yang berpotensi membawa virus Mpox seperti Kera, Tupai serta Tikus. ***