AYOJAKARTA.COM - Dampak dari adanya peningkatan jumlah kasus virus Mpok yang terjadi di Afrika, membuat World Health Organization atau WHO memberi perhatian.
Menurut WHO selaku Organisasi Kesehatan Dunia, penyebaran virus Mpox yang signifikan berpotensi menjadi persoalan baru bagi seluruh negara di dunia.
Karena itu, WHO meminta agar setiap negara di dunia ikut berperan aktif dalam melakukan pencegahan serta penanganan terhadap dampak virus Mpox.
Mpox atau Monkey Pox merupakan sebutan bagi virus yang awal penyebarannya disebabkan oleh binatang pengerat seperti Tikus, Tupai serta Primata semisal Kera.
Baca Juga: Cuitan Lama Ridwan Kamil soal Karakter Orang Jakarta Kembali Dibahas, Blunder Jelang Pilgub?
Dalam perkembangannya, virus Mpox selain menular antara hewan juga diketahui dapat menular kepada manusia.
Menyadari potensi serta dampak dari penyebaran virus Mpox yang sedang mengalami peningkatan, Juru Bicara WHO memberikan sejumlah tanggapan.
Dikutip dari kanal YouTube Metro Tv, Senin (26/8/2024) menurut Margaret Harris, salah satu penanganan yang perlu dilakukan oleh setiap negara di dunia adalah dengan melakukan vaksinasi berdasarkan sasaran.
Berbeda dengan virus Corona yang proses penularannya lebih membahayakan, penanganan virus Mpox menurut Margaret jauh lebih mudah dikendalikan.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency pada 20 Agustus 2024 lalu, Margaret menyebut jenis genetik virus Mpox yang saat ini menjadi ancaman dunia adalah Clade 1b.
Selain tercatat menyebabkan tingkat bahaya relatif tinggi bagi anak, genetik virus Mpox Clade 1b juga lebih mudah menyebar.
Tidak seperti vaksinasi Covid yang bersifat massal, penanganan virus Mpox menurut Margaret hanya berfokus pada wilayah dengan kategori wabah aktif.
Guna meminimalisir potensi terjadinya penyebaran lebih luas, Margaret mengingatkan pentingnya negara di dunia untuk menyiapkan karantina jika diperlukan.
Dengan melihat kondisi yang relatif aman, Margaret menilai pembatasan sosial bagi masyarakat atau Lockdown juga tidak diperlukan dalam menyikapi penyebaran Mpox.
Berdasarkan catatan WHO, proses penularan virus Mpox lebih disebabkan karena kontak fisik secara langsung atau terkontaminasi benda milik penderita.
Hal terpenting yang perlu dilakukan oleh seluruh masyarakat dunia adalah dengan terus mencari informasi untuk membekali diri menghadapi Mpox.
Sebagai bentuk tindak pencegahan, Margaret menyebut WHO terus melakukan sejumlah kerjasama dengan negara-negara pemilik vaksin di dunia.
Terkait dengan jenis vaksin yang saat ini sudah mendapat lisensi, Center Disease Control atau CDC menyebut vaksin ACAM200 serta JYNNEOS atau Imvamune atau Imvanex.
Penggunaan vaksin ACAM200 dapat menyebabkan nyeri, bengkak dan kemerahan di bagian titik suntik, demam serta timbul ruam.
Sedangkan efek samping JYNNEOS adalah timbulnya rasa nyeri, gatal, demam, kemerahan, sakit kepala, lelah serta nyeri otot. ***