Sehat

Ketika Tidur Suka Bruxism? Ternyata Salah Satunya karena Stres Loh

Oleh: Karseno AJ Rabu 21 Mei 2025, 21:10 WIB
Disamping karena kondisi fisik yang sangat lelah, kemunculan Bruxism juga berkaitan erat dengan tingkat tekanan atau over stress pada pikiran.

AYOJAKARTA.COM – Hadir tanpa disertai dengan adanya kesadaran diri atau diluar kendali, tidak sedikit orang mengalami Bruxism saat tertidur.

Bruxism atau munculnya suara gemeretak akibat gesekan pada gigi bagian atas dan bawah, oleh sebagian kalangan sering dimaknai dengan mengedepankan pendekatan mistis.

Selain dianggap sebagai salah satu bentuk pertahanan khodam dari berbagai gangguan dan serangan energi negatif, Bruxism juga sering dikaitkan dengan pertarungan metafisik.

Baca Juga: Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Tahap Kedua Mulai Dilakukan, Inilah Kategori Calon KPM yang Tidak Lagi akan Kebagian!

Anggapan tersebut muncul karena orang dengan kondisi Bruxism saat terlelap, cenderung mengalami sakit perut, kepala sewaktu terjaga dan lebih temperamental.

Individu dengan kebiasaan Bruxism saat tertidur, juga sering menunjukan sifat atau perilaku negatif serta gejolak emosi yang sulit untuk dikendalikan sehingga dicap Kesetanan.  

Meski tidak sepenuhnya dapat dibuktikan, Bruxism menurut tinjauan sains modern justru dianggap sebagai salah satu gejala adanya gangguan pada bagian alam bawah sadar.

Disamping karena kondisi fisik yang sangat lelah, kemunculan Bruxism juga berkaitan erat dengan tingkat tekanan atau over stress pada pikiran.

Terkait dengan banyaknya fenomena Bruxism saat tidur, Prof. drg. Laura Susanti Himawan, Sp. Pros (K), FICD selaku Dokter Spesialis Prostodonsia memberi pandangan.

Baca Juga: Viral! Netizen Geruduk Walikota Balikpapan yang Pergi Liburan ke London di Tengah Krisis BBM, Warganet yang Kritik Malah Kena Doxing

Menurutnya, kondisi tekanan emosional seseorang akan berpengaruh saat tidur sehingga dapat memunculkan terjadinya Bruxism.

Semakin tinggi tingkat tekanan stress yang dialami, suara gemeretak akibat gesekan yang muncul pada bagian gigi juga akan terdengar lebih keras dan intens.

Dalam rentang waktu tertentu, mengabaikan Bruxism tanpa adanya penanganan dapat berakibat pada kondisi tubuh seseorang.

Selain terjadi pergeseran pada bagian sendi rahang, dampak lain membiarkan Bruxism adalah mempengaruhi kualitas saat sedang mengunyah makanan.

Mengabaikan Bruxism dalam jangka panjang, menurut drg. Laura juga akan menyebabkan terjadinya pengikisan pada permukaan enamel atau lapisan terluar gigi.

Baca Juga: H-7 Pengumuman UTBK SNBT 2025, Cara Cek dan Link Unduh Sertifikat Lengkap!

Dengan kondisi gigi yang mengalami pengikisan tersebut, seseorang akan cenderung merasakan sensasi lebih sensitif sewaktu minum.

Bruxism menurut drg. Laura bukan hanya disebabkan oleh kondisi pikiran bawah sadar, tetapi juga akibat konsumsi obat-obatan jenis psikotropika, epilepsi, serta faktor keturunan.

Disebabkan karena berbagai faktor baik oleh pikiran ataupun posisi tidur yang tidak simetris pada bagian mulut, drg. Laura menyarankan untuk dilakukan penanganan.

Untuk menangani Bruxism yang timbul akibat faktor pikiran atau stress berlebihan, drg. Laura menyarankan untuk berkonsultasi ke Ahli Kejiwaan.

Selain untuk memastikan kondisi pikiran dan mental, pemeriksaan sesuai kebutuhan juga sangat dianjurkan agar kualitas hidup menjadi semakin optimal.  ***

Reporter Karseno AJ
Editor Jinan Vania Barizky