Sehat

Jadi Polemik, Benarkah Gigitan Nyamuk Wolbachia Berbahaya? Berikut Penjelasan Guru Besar Unair

Oleh: Rosandra Gisca Andyna Senin 22 Jan 2024, 12:08 WIB
Ketakutan masyarakat akan adanya ancaman penyakit baru dari gigitan nyamuk Wolbachia memang tak bisa terbendung lagi.

AYOJAKARTA.COM - Pro kontra penyebaran nyamuk Wolbachia untuk penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini terus menjadi polemik dan ramai diperbincangkan banyak pihak.

Ketakutan masyarakat akan adanya ancaman penyakit baru dari gigitan nyamuk Wolbachia memang tak bisa terbendung lagi.

Pasalnya produksi dan penyebaran nyamuk Wolbachia oleh Kementerian Kesehatan dinilai justru mengganggu jalannya ekosistem alam dan justru membangkitkan nyamuk culex yang bisa menyebabkan penyakit Japanese Encephalitis atau juga penyakit-penyakit lainnya.

Lantas benarkah gigitan nyamuk Wolbachia kepada manusia bisa menyebabkan penyakit baru dan berbahaya?

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Aryati dr MKes SpPK(K) menjelaskan terkait bagaimana sebenarnya perjalanan panjang nyamuk Wolbachia dan juga seberapa bahayanya bagi manusia.

Menurut Prof Dr Aryati, penelitian nyamuk Wolbachia ini sudah melalui perjalanan yang sangat panjang yakni sejak tahun 2011.

Baca Juga: Kemenkes Siap Produksi 40 Juta Telur Nyamuk Wolbachia, 5 Kota Ini Akan Jadi Lokasinya

Dirinya rupanya pernah tergabung dalam bagian dari Tim Ahli Kajian Risiko Wolbachia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak tahun 2016 silam.

Menurut Aryati, analisis soal respon masyarakat yang mungkin akan menimbulkan perdebatan terhadap nyamuk Wolbachia ini sudah terpikirkan sejak dulu.

Dijelaskan oleh Aryati bahwa Wolbachia sendiri merupakan sebuah bakteri yang sudah hidup di dalam serangga seperti kupu-kupu, lalat dan lebah.

Sehingga bisa dipastikan bahwa Wolbachia bukanlah rekayasa genetika seperti yang selama ini banyak dibicarakan.

Baca Juga: Basmi Aedes Aegypti, Pemkot Jakarta Barat Siapkan 4.100 Ember tempat Bibit Nyamuk Wolbachia

Wolbachia sendiri merupakan salah satu teknologi biologis untuk pengendalian nyamuk demam berdarah.

Lebih lanjut, dijelaskan Aryati bahwa uniknya nyamuk Wolbachia ini, mereka memiliki siklus yang berbeda saat proses perkawinan.

Nyamuk Wolbachia jantan yang kawin dengan yang betina maka tidak akan menghasilkan telur yang menetas.

“Nyamuknya jadi mandul ya, tidak bisa menghasilkan keturunan,” papar Prof Aryati seperti dikutip Ayojakarta.com pada laman resmi Unair, Senin, 22 Januari 2024.

Kemudian, nyamuk Wolbachia betina yang telah melakukan kawin dengan nyamuk jantan maka akan menghasilkan telur dengan gen yang sudah ber-Wolbachia.

Beberapa penelitian panjang menghasilkan bahwa nyamuk Wolbachia ini sudah bisa menurunkan kasus demam berdarah hingga 77,1 persen.

Benarkah Bakteri Wolbachia Bisa Berpindah ke Tubuh Manusia dan Berbahaya?

Banyak yang takut akan keberadaan nyamuk Wolbachia terutama jika menggigit manusia.

Hal itu karena mengira bahwa bakteri Wolbachia yang terkandung dalam nyamuk akan berpindah ke tubuh manusia dan menyebabkan penyakit baru.

Lalu benarkah hal tersebut?

Meski nyamuk tersebut mengandung bakteri namun diungkapkan Aryati bahwa bakteri Wolbachia tidak bisa menginfeksi manusia.

“Bakterinya tidak mungkin pindah, karena bakter hanya berada pada tubuh nyamuk saja. Kalau tergigit tidak akan menyebabkan manusia sakit,” ungkap Prof Aryati.

Aryati menegaskan bahwa nyamuk Wolbachia sebenarnya tidak mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti.

Namun dengan adanya nyamuk ini, akan menekan penyebaran virus dengue yang dapat terbawa oleh nyamuk Aedes aegypti.

Baca Juga: 5 Fakta Nyamuk Wolbachia, Tidak Berbahaya dan Bukan Rekayasa Genetik

Dan dikatakan Aryati, dirinya berpesan bagi masyarakat yang saat ini masih takut, sebaiknya tidak perlu khawatir.

Karena gigitan nyamuk Wolbachia tidak berbahaya, begitu juga dengan bakterinya tidak akan berpindah ke tubuh manusia.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Kalau terlanjur tergigit tidak apa-apa, karena bakteri nyamuk tidak berpindah ke manusia,” tutupnya.*

Reporter Rosandra Gisca Andyna
Editor Aris Abdulsalam