Sehat

Simak! Manfaat Tidur dengan Lampu Redup, Kurangi Depresi hingga Cegah Kanker

Oleh: Rahajeng Pramesi Sabtu 02 Jan 2021, 13:00 WIB
Ilustrasi

Tautan foto link

JAKARTA – Tidur dengan ampu redup bisa mencegah kanker.

Hal ini dikarenakan manusia membutuhkan waktu tidur sekitar 6-8 jam untuk mengistirahatkan kerja tubuh, memperbaiki sel tubuh yang rusak, menetralisir racun dalam tubuh, dan mengembalikan energi tubuh.

Tanpa disadari, ketika seseorang tertidur terjadi pengeluaran beberapa hormon yang berperan penting bagi tubuh. Selain hormon pertumbuhan, salah satu hormon yang banyak dikeluarkan saat tidur adalah hormon melatonin.

Pengeluaran hormon melatonin ini sangat dipengaruhi oleh cahaya. Seperti dikutip dari Liputan6, cahaya terang dapat menghambat pengeluaran hormon melatonin. Padahal, hormon melatonin ini sangat bermanfaat bagi tubuh jika dapat dikeluarkan secara normal.

Fungsi utama hormon melatonin ini untuk membuat tidur lebih nyenyak sehingga seseorang bisa mendapatkan tidur yang berkualitas dan mencegah terjadinya insomnia. Di samping itu, hormon melatonin juga memiliki efek antioksidan dan antiperadangan bagi tubuh.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa hormon melatonin ini mampu mencegah penyakit jantung, kanker payudara pada wanita, dan kanker prostat pada pria. Selain itu, hormon ini juga memiliki pengaruh terhadap kesuburan dan siklus menstruasi wanita.

Kelebihan dan kekurangan hormon melatonin ini dapat menyebabkan terjadinya beberapa gangguan di tubuh. Salah satu faktor yang dapat meganggu proses pelepasan hormon melatonin ini adalah cahaya, seperti cahaya lampu.

Manfaat tidur tanpa lampu bagi kesehatan berikutnya adalah dapat terhindar dari kanker. Hal ini telah terbukti dari sebuah studi yang dilakukan pada 10 tahun lalu yang menemukan bahwa 1.670 wanita yang terpapar cahaya lampu malam dengan intens berpeluang 22% lebih tinggi terkena kanker payudara, dibandingkan dengan mereka yang tidur dalam kegelapan total.

Para peneliti menyimpulkan, semua ini disebabkan oleh gangguan hormon melatonin. Masalah seperti ini lebih rentan terjadi pada pekerja shift malam.

TAGS:
Reporter Rahajeng Pramesi
Editor Adi Ginanjar Maulana