Sehat

Kemenkes Imbau Masyarakat Waspadai Virus Marburg, Belum Ada Vaksin atau Obat Khususnya!

Oleh: Desta Nurwati Siamyah Kamis 30 Mar 2023, 13:46 WIB
Ilustrasi virus

AYOJAKARTA.COM - Virus Marburg kini menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO) termasuk pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia lantaran jumlah kasusnya berisiko.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril menghimbau agar pemerintah dan masyarakat tetap waspada atas risiko penyebaran Virus Marburg ini ke Indonesia.

Pasalnya tingkat kematian atau tingkat fatalitas kasus Virus Marburg ini mencapai lebih dari 88 persen.

Baca Juga: Viral Fenomena Bintang di Atas Bulan Sabit, Benarkah Tanda Malam Lailatul Qadar? Begini Penjelasan BRIN

Melansir laman resmi WHO, kasus penyakit Virus Marburg di Guinea Ekuatorial dilaporkan terjadi sejak 7 Februari 2023.

Dimana pihak Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Guinea Ekuatorial ini melaporkan satu kematian dengan gejala demam berdarah.

WHO melaporkan bahwa per 21 Februari 2023 lalu, total akumulasi kasusnya yakni 9 yang mana semua kasus telah meninggal.

Virus Marburg (filovirus) ini merupakan salah satu penyakit demam berdarah yang langka.

Namun Virus Marburg juga termasuk dalam virus paling mematikan karena tingkat fatalitasnya mencapai lebih dari 88 persen.

Virus ini menular dari kelelawar dengan spesies Rousettus aegyptiacus yang merupakan inang dari Virus Marburg.

Meski bukan spesies asli Indonesia dan belum ditemukan di sini, namun mobilitas Kelelawar ini melewati Indonesia.

Virus Marburg ini dapat menular melalui kontak langsung (melalui kulit yang rusak atau selaput lendir) dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi.

Bahkan apabila Virus Marburg mengkontaminasi suatu permukaan dan bahan (misalnya selimut, pakaian) lalu terpapar oleh manusia maka akan berisiko tertular.

Melansir dari laman resminya, setelah dilakukan penilaian risiko cepat (rapid risk assessment), Kemenkes menyampaikan bahwa kemungkinan importasi kasus Virus Marburg ke Indonesia masih rendah.

Akan tetapi, masyarakat dan pemerintah diminta tetap waspada terhadap risiko penyebaran kasus Virus Marburg ke Indonesia.

"Kita perlu tetap melakukan kewaspadaan dini dan antisipasi terhadap penyakit virus Marburg," ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril.

Virus Marburg ini sulit diidentifikasi, pasalnya gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti malaria, tifus, dan demam berdarah.

Diantara gejala yang dapat muncul yakni demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual muntah, diare, dan perdarahan.

Lebih mengejutkan lagi, Virus Marburg ini bisa menyebabkan perdarahan pada beberapa organ tubuh.

Biasanya perdarahan pada organ seperti hidung, gusi, vagina atau bisa juga muncul melalui muntah feses.

Sejauh ini belum ada vaksin yang menjadi obat khusus untuk penyakit Virus Marburg.

Dimana vaksin strain Sabin dan vaksin Janssen masih dalam tahap proses pengembangan uji klinis.

"Belum ada obat khusus, pengobatan bersifat simtomatik dan suportif, yaitu mengobati komplikasi dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit," tutur dr. Syahril.***

Reporter Desta Nurwati Siamyah
Editor Aulli R Atmam