Sport

Kontra di Tengah Semaraknya G20, Sebenarnya Acara Ini untuk Siapa?

Oleh: Awit Wiarni Kamis 17 Nov 2022, 10:09 WIB
Kontra di Tengah Semaraknya G20, Sebenarnya Acara Ini untuk Siapa?

AYOJAKARTA.COM - Indonesia sebagai tuan rumah Presidensi G20, sibuk mempersiapkan diri sebelum acara G20 diselenggarakan. Pasalnya ini adalah kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah.

Sudah jauh-jauh hari event ini dipromosikan. Terlihat logo G20 ada dimana-mana.

Semua postingan sosial media lembaga pemerintah maupun kementerian pasti selalu dilengkapi dengan logo G20.

Baca Juga: Siapa Pemilik Hotel The Apurva Kempinski untuk KTT G20? Ini Sosoknya yang Punya Harta Capai Rp 15 Triliun

Sebanyak Rp647 miliar sudah dihabiskan Indonesia untuk persiapan dan pelaksanaan pertemuan G20.

G20 bukan diadakan hanya dalam satu acara, tetapi ada serangkaian acara yang cukup banyak dan padat.

Demi menyambut tamu yang datang dari berbagai negara, Indonesia telah mempersiapkan fasilitas super mewah untuk para pejabat tinggi negara dan keluarganya.

Baca Juga: Pos Indonesia Sukses Dukung KTT G20 di Bali

Tidak hanya itu, Indonesia juga menyiapkan kendaraann listrik terbaru untuk mempermudah mobiltas para tamu.

Namun dibalik semaraknya acara G20 yang telah berlangsung, ternyata G20 memiliki sisi lain yang tidak banyak diketahui.

Dilansir AyoJakarta.com dari akun Twitter @projectm_org, sebelumnya ada pertemuan yang mengkritisi acara G20 agar dibubarkan.

Baca Juga: Cancel Cewek MiChat karena Tak Sesuai Foto, Polisi Pengamanan G20 di Bali Tewas Ditusuk, Begini Kronologinya

Ternyata ada pihak-pihak yang terkena dampak dari kebijakan G20 tapi tidak pernah dimunculkan.

Negara-negara anggota G20, termasuk Indonesia memiliki ambisi untuk pembangunan demi kemakmuran masyarakat.

Tapi ternyata hal itu dibangun di atas represi dan pembungkaman terhadap suara dan aktifitas masyarakat.

Baca Juga: Si Paling Multitalenta, Menteri PUPR Basuki Jadi Fotografer di KTT G20, Warganet : Aku Padamu Pak!

Walaupun Indonesia terlihat sebagai tuan rumah yang sempurna dengan jargon-jargon “green”, “energi baru terbarukan”, “proyek strategis nasional”, “mobil listrik”, “ekonomi hijau” dan lainnya, tapi dibalik itu ada aparat keamanan yang dikerahkan.

Indonesia benar-benar menjaga agar tidak ada suara miring apalagi demontrasi.

Jika ditemukan adanya pertemuan yang isi kegiatannya mengarah kepada kritik  G20, maka akan dibubarkan.

Baca Juga: Menteri PUPR Basuki Jadi Fotografer Presiden di G20, Netizen Salfok Sama Topinya: Limited Edition

Pemerintah dinilai mengeruk keuntungan tanpa peduli pada rakyatnya. Ini terlihat nyata dari kebijakan hilirisasi dan ekonomi berbasis energi baru yang terjadi di Morowali.

Transisi energi berkelanjutan merupakan salah satu agenda yang akan dibicaran dalam G20.

Negara-negara anggota G20 setuju dengan diadakannya hilirisasi industri.

Baca Juga: Menteri PUPR Basuki Hadimuljono Jadi Fotografer Presiden di G20, Netizen: Ada Aja Kelakuan

Progam ini sangat masif dilakukan oleh pemerintah dengan membangun smelter-smelter di lokasi yang kaya akan tambang.

Namun di sisi lain, warga Dusun Kurisa di sekitar proyek IMIP, Morowali, mendapat dampat negatif.

Warga dusun kehilangan sumber penghasilan, terjadi kerusakan pada area sekitar dusun, dan kehilangan ruang lingkup hidup di kawasan Sulawesi lain dan Maluku.

Baca Juga: KTT G20 Melibatkan Tokoh-Tokoh Wanita Indonesia, Berikut 5 Nama Perempuan yang Berperan Penting Didalamnya

Terdapat fakta bahwa padi yang ditanam oleh warga tidak bisa tumbuh. Padi langsung mati karena air sawah terkena air berlumpur merah dan sisa buangan tambang nikel.

Sayangnya, dampak buruk dari salah satu progam G20 ini belum pernah dibahas menjadi materi pembicaraan G20 sebagai perhitungan.

Naasnya progam lain G20 juga menimbulkan bencana. Adanya pembangkit listrik yang dilabeli dengan “baru dan terbarukan” telah menjatuhkan korban. Lima orang meninggal dan ratusan orang keracunan gas.

Baca Juga: Profil Basuki Hadimuljono yang Jadi Fotografer Dadakan di KTT G20 Bali

Proyek yang merenggut nyawa tersebut berada di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Mandailing Natal, Sumatra Utara.

Diharapkan selain berfokus pada gempita acara G20, pemerintah juga memperhatikan dampak proyek-proyek yang telah berjalan kepada masyarakat sekitar. Dan juga segera menindak lanjuti apabila proyek yang ada ternyata membawa dampak negatif.***

Reporter Awit Wiarni
Editor Desi Kris