AYOJAKARTA.COM-- Laga Arema vs Persebaya akan menjadi urutan kedua dalam laga paling mematikan sepanjang sejarah di dunia.
Sebelumnya, pada 1 Oktober 2022 telah terjadi insiden BRI liga 1 pekan ke-11 yang mempertemukan Arema dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan.
Dalam tragedi tersebut, hingga 2 Oktober 2022 pukul 05.00 WIB, disebutkan sebanyak 127 orang meninggal dunia dan ratusan orang lain luka-luka.
Baca Juga: Lirik Lagu Seolah Sempurna Inul Daratista Beri Semangat Untuk Lesti, Bikin Warganet Merinding
Hal ini menjadikan laga Arema vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 ditetapkan menjadi salah satu laga berdarah dengan jumlah kematian terbanyak di Indonesia.
Tak hanya di Indonesia saja, bahkan ini akan menjadi laga paling mematikan nomor 2 di dunia.
Dilansir dari priceonomics.com pada artikel yang berjudul The Deadliest Soccer Matches in History dilampirkan data-data dari pertandingan dan jumlah korban jiwa dari insiden mematikan yang ada di dunia tersebut.
Dari data itu, laga Arema vs Persebaya akan menggeser Accra Sports’Stadium Disaster di Accra, Ghana yang memakan korban sebanyak 126 dan berada di urutan kedua.
Lalu, di nomor satu ada Estadio Nacional Disaster di Lima, Peru yang memakan korban jiwa sampai 328 orang.
Atas tragedi tersebut, berbaga pihak kemudian mulai mencari tahu di mana letak kesalahan pada laga yang mempertemukan Arema vs Persebaya tersebut.
Diketahui bahwa ada aturan FIFA yang menyatakan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa.
Diketahui juga bahwa sebelumnya pertandingan ini diajukan untuk diubah jadwalnya ke waktu sore, tetapi pada akhirnya berlangsung pada pukul 20.00 WIB.
Seorang pengguna twitter dengan nama @ahmadshbrn_ mencoba mengemukakan pendapatnya.
Baca Juga: Diharamkan FIFA, Kenapa Gas Air Mata Masih Diletuskan saat Duel Arema vs Persebaya?
“Kalau soal siapa yang salah, jelas. Semuanya salah,” tulisnya.
“Salah @sports.indoesiar karena jam tayang laga dengan intensitas tinggi digelar di malam hari,” ujarnya.
“Salah Aremania yang turun ke lapangan pasca kekalahan. Salah @divisihumaspolri yang menembakkan tear gas ke area tribun penonton yang masih dalam keadaan ramai padat,” tambahnya.
Mengenai siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini secara keseluruhan, Arema FC sudah mulai membuka suara dan akan memberikan tanggung jawabnya.
"Arema FC menyampaikan duka mendalam atas musibah di Kanjuruhan. Manajemen Arema FC turut bertanggung jawab untuk penanganan korban baik yang telah meninggal dunia dan yang luka-luka," ungkap Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris.***