TEBET, AYOJAKARTA – Pebulutangkis nomor satu Indonesia di sektor tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting berhasil membuat sejarah di ajang olahraga olimpiade. Ginting berhasil meraih medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020 pada 3 Agustus 2021 lalu.
Ginting menjadi pebulutangkis tunggal putra Indonesia yang menyumbang medali olimpiade setelah Taufik Hidayat (emas) dan Sony Dwi Kuncoro (perunggu) di Athena tahun 2004.
Pemain yang saat ini duduk di peringkat 5 dunia itu tidak menyangka karirnya melesat lebih cepat dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. Jika menelusuri masa lalu Ginting, pada 2015 Ginting bahkan masih berada di daftar tunggu pada turnamen Indonesia Open kala itu.
Sementara, dua rekan seperjuangannya yaitu Jonatan Christie dan Ihsan Maulana Mustofa saat itu sudah terkonfirmasi masuk dalam daftar pemain resmi di Indonesia Open 2015.
Di menit terakhir, Ginting akhirnya bisa masuk ke babak kualifikasi, bahkan menembus babak perempatfinal Indonesia Open 2015. Lalu kurang dari 10 tahun setelahnya, Ginting menyabet medali perunggu Asian games 2018 dan Olimpiade Tokyo 2020.
“Tidak menyangka tapi saya bersyukur karena saat masuk pelatnas, saya sempat bertemu dengan senior-senior macam Sony (Dwi Kuncoro), Simon (Santoso), Tommy (Sugiarto), dan Hayom (Dionysius Hayom Rumbaka) yang menjadi ujung tombak tunggal putra,” cerita Ginting merespons soal perjalanan karirnya itu.
Dari senior-seniornya itu, Ginting mengaku banyak belajar. Dia merasa setelah bertemu dengan senior-seniornya, jalan semakin terbuka hingga akhirnya dia bersama Jonatan dan Ihsan dapat dipercaya menjadi ujung tombak tunggal putra.
“Dan semua tidak terlepas dari peran Koh Hendry (Saputra Ho) pelatih kami,” ujar Ginting dalam keterangan resminya lewat Tim Humas PP PBSI, Jumat 13 Agustus 2021.
Padahal pada saat itu, Ginting merasa bahwa dia, Jonatan, dan Ihsan belum siap menjadi ujung tombak tunggal putra jika dilihat dari aspek apapun. Sang pelatih, Hendry Saputra lalu mendorong ketiganya untuk naik level agar dapat bersaing dengan pemain top dunia.
Didikan keras Hendry membuat Ginting hingga seperti sekarang ini, bahkan Ginting tercatat pernah mengalahkan pemain nomor satu dunia asal Jepang, Kento Momota.
Ginting bercerita, didikan keras Hendry beragam mulai dari berlatih fisik hingga mental. Hal ini, kata dia, agar berkembang lebih cepat untuk bersaing di turnamen-turnamen level atas.
“Jadi waktu itu kami ditempa untuk tidak memikirkan menang atau kalah. Yang kami pikirkan adalah latihan dan pertandingan. Puji Tuhan sekarang sedikit-sedikit bisa sampai di titik ini,” pungkasnya.