Sport

Henk Wullems, Sosok Pelatih Eropa yang Memahami Adat Ketimuran

Oleh: Admin Rabu 19 Agu 2020, 20:06 WIB
Henk Wullems saat melatih Timna Indonesia (ist)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Juru racik asal Belanda itu tutup usia pada umur 84 tahun di Tilburg, Belanda, pada Selasa (18/8/2020). Kabar berpulangnya Wullems diberitakan oleh akun Twitter resmi AZ Alkmaar @AZAlkmaar. Di mana ia pernah menjadi pelatih di klub tersebut.

Nama Henk Wullems tentu sangat familiar di Indonesia. Pelatih asal Belanda itu pernah berkarier di Indonesia dengan melatih klub sampai Timnas Indonesia. Bagi sebagian besar pemain Timnas Indonesia yang pernah merasakan tangan dingin Wullems, merasa sangat kehilangan atas kepergian pelatih yang bisa menjadi bapak sekaligus bagi teman bagi pemain tersebut.

Mantan kiper timnas nasional, Listiyanto Raharjo mengungkapkan, Henk Wullems adalah sosok pelatih karismatik yang pernah melatih timnas dan klub di Indonesia.

“Saya kenal coach Wullems sejak masih membela Bandung Raya 1996, lalu di Timnas SEA Games 1997. Kala itu kami membawa pulang medali perak saat SEA Games. Selanjutnya saat membela PSM Makassar pada tahun 1999,” kata Listiyanto yang akrab disapa Bejo kepada Ayojakarta, Rabu (19/8/2020), malam.

Menurut Bejo, Henk Wullems pelatih asal Eropa, namun sangat memahami adat ketimuran. Di mata Henk Wullems, semua pemain memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih dalam skuad utama dan tidak membeda-bedakan antara pemain yunior maupun sudah terkenal.

AYO BACA : Drawing Liga 2: Berada di Grup A, Cilegon United Incar Juara Grup

“Pelatih Eropa biasanya sangat keras dan kaku, tapi tidak bagi sosok Wullems. Dia sangat berbeda, baginya pemain adalan teman. Kami sebagai pemain merasa sangat akrab dengan coach Wullems. Semua pemain diajak bicara, diskusi saat latihan, maupun di luar lapangan,” ucap Bejo mengenang.

Dengan keakraban itu, Henk yang pernah mengarsiteki PSM Makassar tersebut mengetahui kelemahan dan kelebihan setiap individu pemain. “Di klub juga sama perlakuannya, semua pemain diajak bicara. Di timnas pun kami sangat akrab, sehingga dia paham karakter setiap pemain,” tuturnya.

Momen yang paling diiingat Bejo, saat SEA Games 1997. Kala itu Bejo menggantikan posisi Kurnia Sandy di semifinal. Kurnia Sandy tidak bisa diturunkan karena cedera.

Dipercaya di bawah mistar, Bejo tampil apik dan membawa Indonesia ke puncak SEA Games 1997. Namun, di partai final, Wullems memilih Kurnia Sandy.

“Sebelum pertandingan, coach Wullems mendatangi kamar saya dan meminta maaf kalau di final kiper utama diberikan Kurnia Sandy. Saya pun memahami, karena pelatih memiliki strategi di setiap pertandingan,” kenang Bejo.

AYO BACA : Kick-off 17 Oktober, Ini Hasil Drawing Liga 2 2020

Berbeda dengan Bejo, I Komang Putra pun memiliki pendapatnya sendiri. Walaupun belum pernah dipoles langsung oleh Henk Wullems, namun di mata Komang Putra, pelatih asal Belanda ini dikenal dengan kedisiplinannya.

Komang menceritakan, saat itu dia membela Timnas Indonesia ajang Piala Asia 2000 Lebanon di bawah juru taktik Nandar Iskandar, yang melakukan pemusatan latihan di Belanda.

Henk Wullems yang masih memiliki ikatan batin dengan Timnas, berkunjung ke sesi latihan Hendro Kartiko dan kawan-kawan.

“Sosoknya disiplin, keras, dan tegas, itu yang saya lihat sepintas saat bertemu di kamp latihan. Dia bicara langsung ke smeua pemain, untuk tetal latiha keras dengan disiplin tinggi, karena itu kunci kesuksesan,” kata Komang yang kini menjadi pelatih kiper PSIS Semarang.

Wullems cukup lama berkarier di Indonesia. Pada 1995, ia menerima tawaran menjadi pelatih klub asal Tanah Air, Bandung Raya.

Satu tahun berselang, lelaki kelahiran 21 Januari 1936 ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia. Wullems menangani skuad Garuda pada periode 1996 hingga 1998.

Di bawah asuhannya, skuad Garuda meraih medali perak di SEA Games 1997. Pada tahun 1999, Wullems direkrut menjadi pelatih PSM Makassar dan sukses menjadi jawara Liga Indonesia 1999/2000.

AYO BACA : Timnas U-19 Dapat Libur, Tapi Tak Bisa Tinggalkan Hotel

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono