JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Mohammad Husni Muzaitun tak menyangka, jika kelak putra ketiganya, Tontowi Ahmad, menjelma sebagai pemain bulu tangkis kelas dunia.
Dalam buku “Jejak Langkah Owi-Butet”, Husni Muzaiton, ayah Tontowi menuturkan, putranya tersebut tidak menyukai bulu tangkis saat kecil. Untuk membujuk Owi, sapaan karib Tontowi, Husni tak jarang mengiming-imingi uang, mulai dari sebesar Rp5.000-Rp20.000.
Sementara kakak Owi, Yahya Hasan lebih penurut ketika diajak berlatih bulu tangkis. Yahya pun ikut berlatih di klub bulu tangkis Pelita Jaya Jakarta.
Masuknya sang kakak ke Pelita Jaya Jakarta, memantik semangat Owi untuk menekuni dunia tepok bulu secara serius. Pria asal Desa Selandaka, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tersebut akhirnya memutuskan merantau ke Tangerang, Banten, saat lulus SMP. Lalu, atlet kelahiran 18 Juli 1987 tersebut berlatih du klub olahraga milik perusahaan konfeksi terkemuka, PT Argo Pantes, Tbk.
Prestasinya terus berkembang dan diincar beberapa klub bulu tangkis Tanah Air, salah satunya Pusdiklat Olahraga Semen Gresik,. Di Kota Santri ini, prestasinya tidak berkembang lantaran sulitnya mencari mitra tanding sepadan.
“Saya sudah tidak bisa berkembang lagi. Saya tidak bisa menemukan duet berlatih yang memadai. Latihan yang saya lakoni di sini (Pusdiklat Semen Gresik) hanya ‘Senin-Kamis’ saja. Sampai akhirnya saya ditelepon Pak Denny dan ditawari bergabung dengan klub PB Djarum (Kudus, Jateng),” kata Tontowi dalam buku “Jejak Langkah Owi-Butet”.
AYO BACA : Tontowi Ahmad Resmi Gantung Raket
“Mungkin ini jawaban dari sebuah doa. Saat itu saya berdoa, kalua jalannya bukan di bulu tangkis, saya mau berhenti. Tetapi kalua jalannya memang di bulu tangkis, tunjukkan jalan itu,” sambungnya.
Bergabungnya Owi di PB Djarum seolah menjadi babak baru perjalanan kariernya. Di Kudus, dia dilatih superkeras dan kedisiplinan tinggi di bawah pelatih bertangan dingin Denny Kantono.
Saat bergabung dengan PB Djarum, kala itu usia Owi genap 17 tahun. Hanya beberapa bulan bergabung, Owi menunjukkan prestasi dengan menyabet beberapa gelar juara Sirnas dan kemudian berhasil masuk Pelatnas.
Sejak bergabung di pelantas, prestasi demi prestasi terus diraih. Terutama saat dipasangkan dengan Liliyana “Butet” Natsir. Puncak karier pebulutangkis asal Banyumas, Jawa Tengah ini pada tahun 2018. Pasangan Owi-Butet mencatatkan sebagai pebulutangkis nomor 1 dunia pada daftar pebulutangkis yang dirilis Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) pada 3 Mei 2008.
Sebelum menduduki peringkat satu dunia, Owi-Butet menorehkan tinta emas di event mayor saat meraih medali emas Olimpiade Rio 2016, tiga gelar All England, serta satu juara dunia.
Selain dengan Butet, Owi juga pernah dipasangkan dengan Richi Puspita Dili (2006 dan 2008), Yulianti (2006-2008), Shendy Puspa Irawati (2008), Greysia Polii (2010), Liliyana Natsir, Apriyani Rahayu.
AYO BACA : Tontowi Gantung Raket, #TerimaKasihOwi Trending di Twitter
Kesuksesan ganda campuran Owi-Butet ini tak lepas dari teropong Richard Mainaky, yang kala itu menjadi pelatih kepala ganda campuran PBSI. Richard melihat sosok yang pas untuk pengganti Nova Widianto yang kala itu masih berpasangan dengan Liliyana Natsir.
“Saya melihat Tontowi memiliki rasa percaya diri walaupun dipasangkan dengan senior. Itu yang terlihat saat ia coba dduetkan dengan Greysia Polii di Indonesia Terbuka. Saya harap ia juga baisa melakukan hal yang sama saat berpasangan dengan Liliyana,” ungkap Coach Icad, sapaan Richard Mainaky kala itu.
Semenjak itu, prestasi Owi-Butet tak terbendung menjadi andalan timnas bulu tangkis Indonesia di sektor Ganda Campuran. Pesta olahraga Olimpiade Musim Panas 2006 Rio de Janeiro, Brasil, menjadi bukti kekuatan ganda campuran asal Indonesia ini.
Owi – Butet menjadi satu-satunya wakil Indonesia di Olimpiade Rio. Di partai puncak, Owi-Butet bertemu pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Pertarungan diakhiri dua game, 21-14, 21-12.
Prestasi demi prestasi terus ditorehkan. Predikat ganda campuran nomor 1 dunia pernah diraih pada tahun 2018. Perjalanan karier yang sangat panjang pun diakhiri pada 18 Mei 2020. Kesuksesan Owi dilalui dengan proses panjang, kerja keras, dan kedisiplinan.
Tontowi Ahmad, resmi mengumumkan gantung raket dari dunia bulu tangkis profesional. Pernyataan Owi, sapaan karibnya tersebut disampaikan melalui akun media sosial resminya @tontowiahmad_, Senin (18/5/2020).
"Ini saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk sesuatu yang saya tekuni lebih dari setengah umur saya, yang membuat hidup saya menjadi lebih berwarna, kadang susah kadang senang, tapi saya bangga dengan apa yang sudah saya capai," ujar Owi.
Owi mengaku bisa meraih puncak prestasi. Ia memang ingin bisa menyudahi ini di puncak podium tapi situasi dan kondisi saat ini tak memungkinkan.
"Apapun yang terjadi, saya sangat bersyukur bisa berada di posisi saya sekarang ini. Saya juga berterima kasih untuk semua yang sudah mendukung karier saya di bulu tangkis selama ini yang tidak bisa saya sebut satu per satu dan sekarang waktunya saya melanjutkan hidup untuk meraih kesuksesan di bidang lain."
Kabar pensiunnya atlet kelahiran 18 Juli 1987 tersebut disambut tanda pagar (tagar) #TerimaKasihOwi yang trending di Twitter. Pecinta bulu tangkis Indonesia dari berbagai kalangan.