PARIS, AYOJAKARTA.COM — Pemerintah Prancis tak ingin ambil risiko berlebih pada masa pandemi Covid-19. Mengutip data Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, Rabu, (29/4/2020). Prancis menjadi negara di Eropa dengan kasus infeksi Covid-19 terbesar setelah Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia.
Prancis mencatatkan 169.053 irang dinyatakan positif Covid-19 dengan 47.775 orang pulih.
Perdana Menteri Prancis, Renou Edouard Philippe telah mengumumkan pada Selasa (28/4/2020) sore waktu setempat, bahwa kompetisi Ligue 1 dan Ligue 2 tidak akan berlanjut.
AYO BACA : Pemerintah Inggris Beri Restu Liga Premier Bergulir Lagi
PM Prancis tersebut mengatakan bahwa seluruh ajang olahraga di negara tersebut tidak akan digelar, setidaknya sampai September.
Sebelumnya, Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) berharap dapat melanjutkan kompetisi domestik pada 17 Juni dan menyelesaikannya pada 25 Juli.
Sepak bola di Prancis sudah dihentikan tanpa waktu yang ditentukan sejak 13 Maret. Masih belum diketahui apakah Liga Profesional Prancis (LFP) akan menyelesaikan musim ini tanpa promosi atau relegasi dan tanpa juara.
AYO BACA : Terdampak Coronavirus: Liga Belanda Resmi Disetop, Tanpa Juara dan Degradasi
Sejauh ini, juara bertahan Paris Saint-Germain memuncaki Ligue 1 dengan terpaut 12 poin dari posisi kedua Marseille. Sedangkan, Toulouse berada di dasar klasemen dengan terpaut 17 poin dari zona aman.
Ketua PSG Nasser Al-Khelaifi mengatakan bahwa ia menghormati keputusan pemerintah Prancis tersebut.
"Tentu saja, kami mematuhi keputusan Pemerintah Prancis - kami berencana menyelesaikan Liga Champion dengan persetujuan UEFA."
LFP sebelumnya melakukan pertemuan pada 10 April dan sepakat melanjutkan Ligue 1.
Namun, Prancis telah memutuskan bahwa seluruh kompetisi olahraga musim ini termasuk sepak bola tidak akan dilanjutkan.
Liga-liga Eropa memiliki waktu sampai 25 Mei untuk memberitahu UEFA apakah mereka akan melanjutkan atau menutup musim ini.
AYO BACA : UEFA Pertimbangkan Opsi Liga Champions Bergulir Awal Agustus