JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Penolakan kawasan Gelora Bung Karno (GBK) digunakan sebagai arena balap mobil terus menguat. Kawasan GBK rencananya akan digunakan untuk arena balap GBK Race, yang merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Senayan festival (I See Fest) 2019, 27 September hingga 6 Oktober mendatang. Garuda Baseball-Softball Club, salah satu organisasi yang menolak keras kawasan GBK digunakan sebagai arena balap.
Selain ramai di lini massa, GBK Race juga menjadi sorotan salah satu klub yang selama ini menggunakan areal GBK untuk berlatih yaitu Garuda Baseball-Softball Club. Melalui
Ketua Garuda Baseball-Softball Club, Febrinaldy Darmansyah mengatakan pihaknya sangat menyayangkan rencana pihak pengelola GBK yang mengeluarkan izin penyelenggaraan balap mobil di GBK.
"Kegiatan olahraga di GBK sudah sering terganggu dengan banyaknya event yang diselenggarakan oleh berbagai merek dagang, sekarang ditambah lagi dengan balap mobil,'' kata Febrinaldy, Senin (23/9/2019).
Febrinaldy menyebut hal itu sebagai ironi. Pasalnya, hal itu berbanding terbalik dengan upaya pemerintah mengatasi polusi udara di Jakarta yang disebabkan kendaraan.
''Ironis ketika pemerintah sedang gencar untuk mengatasi polusi di Jakarta yang mana kendaraan salah satu penyumbangnya, pengelola GBK malah menjadikan Kawasan yang harusnya berperan sebagai ruang terbuka hijau di pusat kota sebagai tempat kegiatan yang menimbulkan polusi dan berisiko,'' kata Febry, sapaannya.
Febry mengatakan, pengelola GBK jangan berlindung di balik alasan untuk mencari uang karena statusnya sebagai Badan Layanan Umum (BLU) sehingga mengorbankan fungsi utama GBK yakni sebagai kawasan tempat berolahraga.
''Pengelola harus berpikir lebih kreatif dalam rangka mencari pendapatan, namun jangan melenceng dari fungsi utamanya. Banyak skema bisnis lainnya yang dapat diterapkan dalam mengelola GBK tanpa mengorbankan orang-orang yang memang berniat untuk olahraga apalagi harus mengorbankan komunitas atau perkumpulan yang memang benar-benar membina atlet, sebagai contoh latihan harus terganggu karena GBK dijadikan event politik,'' ujar Febry.
Saat ini, kata dia, banyak komunitas dan penggiat olahraga yang melakukan kegiatan rutinnya di GBK. Seharusnya, lanjut Febry, pengelola GBK melakukan pertemuan dengan mereka untuk mendengarkan pendapat dan usulan dari komunitas tersebut demi menjaga kelestarian GBK yang juga merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia.
Sebelumnya Seskemenpora Gatot S Dewa Broto juga menyoroti GBK Race tersebut. Bahkan orang nomor dua di Kemenpora itu langsung melakukan koordinasi dengan Direktur Utama Pusat Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno (PP GBK) Winarto.
''Kemenpora sangat berharap pada PP GBK untuk sangat berhati-hati supaya masalah rencana tersebut dipertimbangkan nilai kemanfaatannya bagi publik atau sebaliknya, karena bisa berpotensi menimbulkan kegaduhan publik yang tidak perlu,'' ujar Gatot.
Dalam poster yang beredar di Medsos, GBK Race akan digelar pada 4 hingga 6 Oktober 2019. Hal itu menjadi perbincangan warganet karena telah menyalahi aturan lingkungan olahraga. Bahkan beredar sebuah video yang memperlihatkan mobil balap melaju di area GBK. Menurut pengelola, mobil itu sedang melakukan tes kecepatan, bukan sedang balapan.