Teknologi

Krisis RAM Global Diprediksi Terjadi 2026: Harga Melonjak, Industri Panik, dan Pengguna Mulai Kena Imbas

Oleh: Katarina Erlita Kamis 11 Des 2025, 17:23 WIB
Ilustrasi RAM (Sumber: Unsplash/Harrison Broadbent)

AYOJAKARTA.COM - Kenaikan harga RAM sejak akhir 2025 menjadi salah satu gejolak terbesar dalam industri teknologi. Komponen yang selama ini dianggap murah dan mudah diakses kini berubah menjadi barang mahal yang harganya naik berlipat.

RAM, yang menjadi elemen vital untuk menjalankan aplikasi di laptop, ponsel, tablet, hingga konsol gim, kini memicu kekhawatiran global karena harganya terus meroket.

Pemicunya bukan kerusakan pabrik maupun gangguan produksi. Berbagai sumber industri mengonfirmasi bahwa fenomena ini didorong oleh ledakan permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: TOP 5 Rekomendasi Laptop Tipis dan Ringan Harga Rp6-9 Jutaan, Worth It Dibeli di Akhir Tahun 2025

Dua produsen raksasa, Samsung dan SK Hynix, dialihkan fokusnya ke produksi high bandwidth memory (HBM), yang menjadi tulang punggung infrastruktur AI.

Laporan Tom’s Hardware menyebut sekitar 40% suplai RAM dunia kini diarahkan untuk satu proyek AI besar milik OpenAI, yaitu Stargate.

Situasi semakin parah setelah Micron, produsen besar terakhir yang masih memproduksi RAM consumer melalui lini Crucial mengumumkan rencana hengkang dari pasar konsumen pada 2026.

Keputusan ini mengakhiri sejarah 30 tahun Crucial dan langsung menyebabkan harga RAM meroket di pasar global. Data kenaikan harga benar-benar mencengangkan. RAM yang tadinya dijual seharga USD 90 kini naik menjadi lebih dari USD 400.

Baca Juga: TOP 5 Smartwatch Murah dengan Harga di Bawah Rp1 Juta yang Worth It Dibeli di Akhir Tahun 2025

Contoh lain, G.Skill Trident Z5 RGB yang harganya USD 110 pada Agustus, kini mencapai USD 360. Bahkan RAM DDR4 lama yang biasanya stabil kini ikut terdampak.

Lonjakan harga ini bukan hanya memukul PC builder. Produsen laptop, tablet, dan smartphone pun mulai ikut terdampak. Beberapa brand seperti CyberPowerPC, Framework, hingga Raspberry Pi sudah menaikkan harga.

Dell bahkan secara terbuka menyatakan bahwa biaya produksi seluruh perangkat akan naik karena harga RAM yang tidak terkendali.

Sementara itu, beberapa perusahaan mencoba bertahan. Lenovo dilaporkan menimbun RAM untuk menjaga stabilitas harga hingga 2026.

Baca Juga: Cara Kerja Starlink, Layanan Internet Satelit Gratis yang Jadi Primadona Bagi Korban Bencana Banjir di Sumatera

Namun upaya ini diperkirakan hanya solusi sementara. Analis IDC, Jeff Janukowicz, memperingatkan bahwa produsen bisa mulai memangkas kualitas komponen lain, seperti baterai atau layar, demi menekan biaya.

Akankah harga RAM kembali normal? Para analis masih pesimistis. SK Hynix memang sedang membangun pabrik baru dengan investasi besar, tetapi fasilitas tersebut baru beroperasi 2027. Samsung sendiri menolak mempercepat ekspansi dan lebih memilih menjaga profit jangka panjang.

Bagi konsumen, tidak ada pilihan mudah. Mereka harus membeli RAM dengan harga tinggi sekarang, memilih perangkat prebuilt yang kenaikannya lebih lambat, atau menunda pembelian hingga industri stabil kembali. Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, satu hal yang jelas, krisis RAM tak akan selesai dalam waktu dekat.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita