AYOJAKARTA.COM – Aplikasi WhatsApp lahir dari seorang gelandangan yang terpaksa hidup di jalan akibat tidak memiliki uang sepeserpun, adalah sebuah fakta.
Selain menjadi gelandangan, pendiri aplikasi WhatsApp juga diketahui merupakan seorang mahasiswa yang belum sempat menyelesaikan kuliah alias drop out.
Meski sempat dipasung oleh berbagai situasi yang sangat tidak mendukung, pendiri aplikasi WhatsApp tidak lantas melepas harapan dan lebih memilih mengejar impian.
Teramat kontras dengan nasib aplikasi WhatsApp hari ini karena sudah menjadi salah satu aplikasi paling diminati di dunia, setiap pengguna tentu menyukainya.
Selain menawarkan fitur pesan teks, WhatsApp juga menyediakan berbagai jenis fitur canggih yang adaptif dengan perkembangan zaman.
Dengan menggunakan WhatsApp, setiap pengguna di seluruh dunia bukan saja bisa bertukar informasi tetapi juga hal menarik lainnya seperti foto, video, atau panggilan suara.
Jan Koum yang merupakan founder WhatsApp lahir pada 24 Februari 1976 di salah satu bagian di Eropa Timur, tepatnya di daerah Vastic, Kief, Ukraina.
Meski memiliki seorang ayah yang bekerja di bidang konstruksi, hal tersebut tidak cukup untuk bisa membiayai kebutuhan keluarga.
Tinggal di daerah yang minim akan fasilitas penunjang, Koum seringkali harus antri untuk sekedar bisa mandi dan menunggu di tengah suhu kurang dari 20 derajat celcius.
Akibat meningkatnya stabilitas politik di tempat Koum menetap, hal tersebut memaksanya untuk hijrah ke Amerika Serikat.
Baca Juga: Trik WhatsApp: Lakukan Cara Ini agar Chat Kamu Disensor atau Efek 'Blur' saat Membuka WhatsApp Web
Selama menetap bersama neneknya yang tinggal di sebuah apartemen kumuh di Amerika, Koum tidak bisa berbuat banyak saat ayahnya meninggal di tahun 1997.
Untuk bisa bertahan hidup di Amerika, Koum merelakan ibunya bekerja sebagai pengasuh anak tetangga sementara ia menjadi penyapu toko, pengangkut sampah dan pencuci piring.
Akibat bayaran kerja yang kurang mencukupi, Koum seringkali mengandalkan jatah makan gratis dari pemerintah Amerika untuk para gelandangan.
Berbekal minat belajar yang besar dan kemampuan berbahasa Inggris, Koum mulai menggeluti bidang Pemrograman Komputer dan berteman dengan para peretas.
Saat kondisi kehidupan mulai membaik usai diterima bekerja sebagai Teknisi di Yahoo atas rekomendasi Brian Acton, Koum harus kehilangan ibunya di tahun 2000.
Baca Juga: Fitur Baru WhatsApp! Sekarang Kamu Bisa Menyembunyikan Chat dengan Kode Rahasia!
Tertarik dengan berbagai fasilitas yang dimiliki iPhone, Koum mulai mempelajari lebih banyak tentang jejaring sosial.
Bersama Igor Solomennikov yang juga salah satu petinggi iPhone, pada Februari 2009 Koum mulai merintis perusahaan berbasis jaringan teknologi yang ia namai WhatsApp.***