AYOJAKARTA.COM - Kehadiran AI Artificial Inteligence atau kecerdasan buatan merupakan salah satu bukti perkembangan pesatnya teknologi.
Dengan keberadaan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, efisiensi dan efektivitas terhadap pemrosesan suatu data menjadi lebih cepat dan akurat.
Namun demikian, keberadaan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan justru melahirkan pro-kontra di sebagian kalangan.
Baca Juga: Pengajuan KUR BRI 2023 Makin Mudah Bisa via Online, Cukup Lewat HP Tak Perlu Repot Antre di Bank BRI
Dari pemutar musik, penunjuk arah jalan, rekomendasi jenis film hingga kebutuhan harian manusia modern banyak yang menggunakan teknologi AI.
Selain pada ranah hiburan, perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan juga telah meluas ke beberapa sektor seperti industri dan otomotif.
Sejalan dengan perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, di sejumlah negara telah berlaku sistem robotik berbasis AI.
Kemampuan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang terus meningkat inilah yang oleh sebagian kalangan dirasa perlu untuk ditentang.
Sebab perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan telah banyak memangkas peran yang biasa dilakukan manusia.
Sedangkan bagi pihak pendukung, peran Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan merupakan suatu hal yang tetap dapat dikendalikan.
Belum lagi dua perbedaan pandangan tersebut menemui titik temu, timbul gagasan lain terkait peran Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan di dunia politik.
Baca Juga: Hanya Pakai KTP! Inilah 7 Pinjol Bunga Rendah dengan Tenor Panjang, Pasti Aman dan Lulus OJK
Pada tahun 2018 lalu, saat diselenggarakan Pemilihan Umum di Rusia muncul kandidat bernama Alice yang merupakan hasil Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan.
Dalam Pemilu tersebut, Alice hadir sebagai kandidat Calon Presiden dengan mengusung jargon sebagai 'Presiden yang mengenal Anda lebih baik'.
Selain di Rusia, di Jepang juga ada sosok AI bernama Michihito Matsuda yang dicalonkan sebagai Wali Kota serta politisi bernama Sam di Selandia Baru.
Baca Juga: 5 Platform Pinjaman Paylater di Indonesia, Cuma Syarat KTP dengan Limit Hingga Rp50 Juta
Perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan kemudian melahirkan sebuah pertanyaan di benak publik, perlukah anggota DPR diganti dengan AI?
Dengan kemampuan menganalisis berdasarkan algoritma, AI dipercaya lebih mampu menyerap aspirasi berdasarkan Big Data.
Selain itu, kemampuan AI dalam mereplika dan mengolah data juga bisa membawa dampak ketepatan dan kepastian dalam hal eksekusi.
Sehubungan dengan adanya gagasan mengganti anggota parlemen dengan Artificial Intelligence, Cesar Hidalgo sempat memberi pernyataan.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang Sukses Dilihat dari Rutinitasnya Sebelum Pukul 7 Pagi, Mau Tiru?
Menurut Mantan Kepala Learning Group MIT tersebut, di masa depan AI bisa mempersingkat sistem legislasi.
Perkembangan AI akan menggeser sistem dari Perwakilan Rakyat, sehingga rakyat langsung memegang kendali kekuasaan dan membuat regulasi.
Dengan berlakunya kondisi ini, maka sistem pemilu, partai politik dan regulasi hadir tanpa banyak intervensi dari anggota legislasi.
Demikian seperti dirangkum Ayojakarta pada Rabu 2 Agustus 2023 dari YouTube Pinter Politik TV.***