AYOJAKARTA.COM – Diketahui sebagai sosok disabilitas, narasi mengenai Agus Buntung menjadi pelaku rudapaksa melahirkan banyak keraguan di kalangan warganet.
Selain pertimbangan kondisi fisik yang dianggap tidak memungkinkan, keraguan terhadap tersangka Agus Buntung juga disebabkan karena statusnya sebagai mahasiswa.
Meski rekaman video yang memperlihatkan perilaku kurang terpuji Agus Buntung telah banyak beredar di jagat maya, keraguan masih tetap bercokol di benak warganet.
Karena itu, Joko Jumadi selaku Ketua Komisi Disabilitas NTB serta Pendamping dari sejumlah korban Agus Buntung menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang wajar.
Joko menganggap keraguan dari kalangan warganet terhadap sosok Agus Buntung lebih disebabkan karena kentalnya rasa simpatik terhadap tersangka.
Pernyataan terkait tanggapan warganet dan kronologi kasus tersebut disampaikan oleh Joko Jumadi saat menjadi narasumber di sebuah siniar.
Berkenaan dengan kasus yang kini dialami Agus, Joko mengaku komisi yang digawanginya sudah sempat melakukan berbagai upaya perlindungan terhadap tersangka.
Dari memberi kepastian perlindungan hukum hingga penetapan sebagai tersangka tahanan rumah, Joko menyebut hal tersebut merupakan proses panjang yang tidak terlihat publik.
“Tugas komisi kami pada memfasilitasi Agus, memastikan hak-haknya terpenuhi, sampai merekomendasikan tahanan rumah itu dari Komisi Disabilitas,” ungkap Joko.
Baca Juga: Libur Nataru, BTN Tingkatkan Alokasi Dana Tunai Hingga Rp20,37 Triliun
Usai ditetapkan sebagai tersangka, Joko menyebut Komisi Disabilitas mulai banyak mendapatkan laporan dari sejumlah korban terkait adanya dugaan pel*cehan.
Lebih lanjut, Joko menyatakan rangkaian tindakan tak terpuji yang diduga sudah dilakukan oleh Agus dan dialami oleh belasan korban terdapat suatu kesamaan pola.
Berdasarkan kesamaan cerita yang disampaikan oleh seluruh korban Agus Buntung, Joko mengimani tersangka kerap menjual rasa iba sebelum melancarkan aksi pelecehan.
“Ternyata laporan korban banyak dan kami harus imbang, jadi kami mempelajari Agus ini seperti apa,” imbuhnya.
Dalam proses pendalaman, Joko menyebut telah berhasil mendapatkan sejumlah fakta tentang sosok Agus yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Selain berstatus hampir di DO karena dinilai banyak masalah oleh pihak kampus, perangai Agus menurut kalangan sesama disabilitas juga dianggap kurang menyenangkan.
Setiap memulai percakapan dengan calon korban, Joko menyebut Agus kerap menunjukkan sisi lemah sosok disabilitas yang hidup tertindas hingga ingin menyudahi hidup.
Berbekal keterbatasan fisik yang dimiliki dan kebaikan serta rasa takut dari para korban, Joko menilai Agus mulai mengambil keuntungan.
“Dia lakukan profiling dan menggali informasi dengan rinci termasuk yang sensitif, kemudian mengaku sebagai orang yang bisa memberi solusi,” pungkasnya. ***