AYOJAKARTA.COM – Gestur tubuh Rayyan Arkan Dika, sosok pelajar SD asal Riau saat ajang Pacu Jalur menjadi lahirnya fenomena aura farming di sejumlah negara.
Setelah diperagakan ulang oleh sejumlah pemain sepak bola kenamaan dari PSG, tarian aura farming Rayyan Arkan Dika saat Pacu Jalur semakin mewabah ke seluruh dunia.
Selain sempat diikuti oleh Wapres Gibran Rakabuming, gerakan tari aura farming milik Rayyan Arkan Dika saat ajang Pacu Jalur juga menjadi tarian massal.
Dalam sebuah acara yang belum lama ini diselenggarakan di Amerika, ratusan orang dari berbagai usia secara serempak memperagakan ulang gerakan tari Rayyan.
Diiringi hentakan musik dari lagu bertajuk Young Black and Rich-nya Milly Mike, ratusan orang larut dalam kesamaan gerak.
Disamping mengadaptasi aksi Tukang Tari ajang Pacu Jalur, tidak sedikit pula warga Amerika yang memilih untuk mengikuti gerakan para Tukang Dayung.
Disebut-sebut sebagai bagian dari Culture Dance yang sudah akrab oleh masyarakat dunia, gerakan tari juga dilakukan para pembalap dunia seperti Marc Marquez.
Salah satu pembalap kenamaan Indonesia asal Gunung Kidul, Yogyakarta yang juga ikut dalam trend aura farming adalah Veda Ega Pratama.
Menang dalam ajang Red Bull MotoGP Rookies Cup, Ega menjadikan gerakan milik Rayyan sebagai cara untuk selebrasi di atas tunggangannya.
Bukan hanya dilakukan Ega, pembalap kenamaan lain dari cabang lain seperti Mobil Formula, juga melakukan hal serupa sebagai tarian kemenangan.
Dianggap telah berhasil mengangkat nama Provinsi Riau dan ajang Pacu Jalur sebagai ikon Nusantara, Rayyan kemudian diangkat sebagai Duta Pariwisata.
Selain mendapat gelar sebagai Duta Pariwisata Riau paling muda, Rayyan juga memperoleh apresiasi sebesar 20 juta rupiah dari Pemerintah Provinsi tempatnya berasal.
Meski oleh Pemprov Riau sosok Rayyan telah dianggap mampu membuat dunia ikut bernari, hal tersebut justru membuat sejumlah atlet merasa terabaikan.
Uang apresiasi sebesar Rp20.000.000 yang diberikan Gubernur Riau kepada Rayyan usai viral, menurut sejumlah atlet kurang dapat diterima akal.
Pasalnya, bonus kemenangan dan merupakan hak dari sejumlah atlet peserta Pekan Olahraga Nasional yang telah diatur melalui Pergub belum terwujud hingga hari ini.
Berdasarkan Pergub, atlet peraih Medali Emas akan memperoleh bonus sebesar Rp300 juta, Rp150 juta untuk perak dan Rp75 juta untuk perunggu.
Meski mengaku tidak merasa iri dengan popularitas aura farming, para atlet berharap Gubernur Riau bisa lebih menghargai Prestasi dibandingkan Sensasi.
Meski telah berulang kali melakukan upaya dialog ke gubernur, para atlet dan pelatih peserta PON asal Riau mengaku belum memperoleh hak berupa bonus. ***